artikel 1
Common Imajination Virus I
(Cerita tentang bintang di dalam corong mimpi)
Oleh Ariyandi Gunawan
Awan hitam masih membungkus bumi pertiwi.
Memimpikan kedamaian dikala terjaga adalah tuntutan jiwa.
Tuntutan jiwa tiada arti,
bila tuntutan dunia tak bisa dipahami
Menanamkan kesetian pada idealisme,
mewujudkan kejujuran pada hukum dunia,
Itu adalah bekal untuk mengukir realitas
demi sebuah karya
sebagai penghias arti sebuah nama
Sebuah virus yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat telah ditemukan. Virus itu bisa menyebabkan kesulitan bagi manusia yang hidup di zaman modern untuk membedakan antara fakta dan fiktif. Sama sulitnya seperti membedakan berintegrasinya antara sejarah dengan mitos. Hanya bisa menerka, yang mudah-mudahan tidak terbantahkan. Sedikit mengutip dari kritik Nietzche pada kebenaran mutlak, beliau berkata bahwa kebenaran adalah kekeliruan yang tak terbantahkan. Tidak seradikal pemikiran Nietzche, karena tulisan ini hanya bisa menerka dan mudah-mudahan tak terbantahkan.
Sebagian masyarakat Indonesia tengah mengalami de javu. Realitas sekarang ini dapat dirasakan seperti sebelumnya. Setiap masa pergantian kepemimpinan, Common Imajination Virus (CIV) kian berkembang biak masuk kedalam tubuh masyarakat ‘tradisonal’ dan juga “modern”. Maksudnya, masyarakat ‘tradisional’ yang kekurangan pendidikan politik dan masyarakat “modern” yang terkena pengaruh budaya massa dan konsumerisme.
Common Imajination Virus (CIV) selalu muncul pada saat akan berlangsungnya pemilihan umum. Mungkin semenjak adanya sistem kepartaian dalam sebuah Negara, virus ini sudah ada dan berkembang tanpa disadari. Efek yang biasa timbul adalah, memimpikan kehidupan yang lebih baik setelah pemilu berlangsung. Mereka meneropong masa depan dengan mimpinya. Impian klasik tentang sebuah harapan kepada calon pemimpin yang akan membawa bangsanya kearah yang lebih baik. Kesejahteraan dan perdamaian merupakan bagian dari impiannya.
Bagi masyarakat “modern” yang gaya hidupnya didukung oleh sarana teknologi dapat terkena virus tersebut yaitu melalui ponsel (telpon seluler). Sebagian pengguna ponsel di Indonesia ramai-ramai ikut serta dalam acara presiden pilihan pemirsa di televisi dengan menggunakan fasilitas Short Messaging Service (layanan pesan singkat atau yang biasa disebut SMS). Seakan-akan televisi itu sendiri memberikan sebuah ruang untuk mimpi bersama. Masyarakat seperti berusaha memenangkan idolanya di ruang penuh sensasi itu. Sama seperti berebut idola dalam acara anak muda Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian idols.
Itulah budaya massa sebagai faktor pendukung semakin menyebarnya Common Imajination Virus. Tanpa perlawanan masyarakat hanya tunduk oleh tayangan yang muncul di layar kaca. Televisi merupakan ruang sensasional yang memiliki daya emosional yang teramat tinggi. Ketergantungan pemirsa televisi dimanfaatkan oleh kapitalisme, tangan-tangan para pemilik modal, dan elit politik untuk menampilkan citraan-citraan yang berjauhan dengan realitas sebenarnya. Masyarakat tidak perlu tahu visi, misi dan juga platform yang mubazir dan sering membual, karena hal itu sudah tidak musim lagi di era teknologi sekarang. Elit poltik sekarang sudah canggih, seperti teknologi itu sendiri. Mereka mengemas realitas yang ditampilkan melalui simulasi-simulasi yang dapat menjamin citranya positif di mata masyarakat atau calon pemilihnya. Ya, seperti mengemas barang dagangan. Cukup mengerikan elit politik sekarang ini. Kebenaran suatu realitas dilegitimasi oleh simulasi dan citraan dalam ruang-ruang sensasi.
Menurut istilah Jean Baudrillard hal ini disebut Hiperrealitas, yaitu sebuah realitas semu yang tidak berpijak kepada kenyataan sesungguhnya dan hanya ada di alam maya. Sementara yang menjadi realitas sesungguhnya, oleh sebab dapat membentuk citra buruk, justru disembunyikan atau setidak-tidaknya dimanipulasi. Namun dengan kekuatan media dan dengan reakayasa yang canggih, citra yang sebenarnya semu tersebut seolah-olah menjadi realitas yang sesungguhnya.
Lihatlah iklan parpol, calon presiden dan calon wakil presiden muncul ditelevisi. Mereka tampak seperti menjual mimpi. Tampilannya hanya untuk menarik simpati masyarakat tidak peduli dengan referensi politiknya, yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran demokrasi. Mestinya mereka sadar bahwa pembangunan karakter bangsa saat ini sangat dibutuhkan. Agar mentalitas bangsa kita tidak kontraproduktif.
Common Imajination Virus selalu dikembangbiakan oleh para penguasa, elit parpol dan reformis-reformis gadungan. Mereka menjadikan wacana penuntasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) sebagai aksesoris “gaya hidup” yang layak dilakukan bagi politisi untuk mendapatkan dukungan dari rakyat. Bagi mereka, memberikan pendidikan politik yang baik adalah sebuah kerugian. Kerena bila rakyat semakin pintar maka suara kelaparan, kemiskinan tidak bisa dimanfaatkan lagi sebagai lumbung suara partai politik dan presiden.
Sekarang sebagian masyarakat Indonesia sangat membutuhkan anti- virus dari Common Imajination Virus tersebut. Anti Virus-nya harus datang dari kesadaran diri, dengan berpikir secara rasional, logis dan dialektis dalam memandang realitas yang ada di dunia ini. Seperti apa yang selalu diucapkan Pramoedya Ananta Toer; “Kita ini hidup di dunia, bukan di surga, dan dikuasai oleh hukum-hukum dunia. Karena itu, pandanglah segala-galanya secara dialektik. Jangan satu cara pandang saja. Kalau tidak, kita hidup dalam impian saja.”
Dalam hal ini, sekarang juga! Baik rakyat maupun pemerintah harus mengedepankan pendidikan baik secara formal maupun informal dalam ruang sosial sekecil apapun, guna meminimalisir atau bahkan mengusir Common Imajination Virus dalam tubuh masyarakat Indonesia. Agar mental bangsa tidak selamanya memiliki mental budak dan kuli yang hanya mampu bermimpi dan menyuburkan takhayul.
------------------------------------------------------------------------------------------------
artikel 2
NILAI KOMODITI REALITAS WAJAH UNTUK MASSA
- Ariyandi Gunawan
Wajah manusia ternyata dapat dikomoditikan. Ini disebabkan oleh perkembangan industrialisasi, dan arus globalisasi yang didukung oleh perkembangan teknologi komunikasi yang kian hari bertambah pesat. Wajah manusia bukan hanya dapat mempengaruhi komunikan secara langsung melalui proses komunikasi antarmanusia, tetapi wajah pun dapat mempengaruhi reaksi khalayak media massa. Wajah seperti apakah itu? Kahlil Gibran pernah bertutur dalam syairnya; “Setetes air mata menyatukanku dengan mereka yang patah hati; seulas senyuman menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam keberadaan”.
Pernyataannya tersebut menggambarkan bahwa realitas psikis wajah dapat teridentifikasi. Apalagi wajah secara fisik, mudah sekali diidentifikasi, contohnya; coba saja lihat kartu pengenal kita, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) , Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), Passport, dan tanda pengenal lainnya, di sana terdapat wajah kita dalam foto. Berbeda halnya dengan wajah secara psikis yang dapat mengkomunikasikan sesuatu secara non verbal, kita bisa memahami reaksi kejiwaan seseorang melalui perubahan wajahnya. Ketika tersenyum, cemberut, menangis, dan bentuk reaksi kejiwaan lainnya, semua itu dapat teridentifikasi oleh indra penglihatan kita. Bahkan Judges (Komunikasi Antarmanusia Joseph A. Devito) seorang periset komunikasi non verbal, mencoba mengidentifikasi berbagai emosi dengan mengamati bagian-bagian wajah yang berbeda. Seperti mata dan kelopak mata paling cocok untuk mengkomunikasikan rasa takut, sedangkan hidung, pipi, dan daerah mulut paling baik untuk mengkomunikasikan rasa sebal.
Wajah manusia merupakan “penanda diri”. Hal itu dikarenakan wajah secara fisik dan psikis dapat berintegrasi dalam mempresentasikan diri. Proses mempresentasikannya dapat timbul dalam konteks komunikasi antarmanusia dan komunikasi massa melalui simbol-simbol tertentu yang tampak dari wajah. Dalam konteks komunikasi seperti itulah wajah seseorang dapat dijadikan komoditi, ketika wajahnya berperan sebagai instrument promosi suatu produk hasil proses industrialisasi. Hal itu sesuai dengan pendapat John Hartley dalam buku Lifestyle-Sebuah Pengantar Komprehensif, beliau berkata bahwa senyuman kini merupakan “Ideologi dominant” dalam “ranah publik”. Ia ibarat pakaian seragam yang harus dipakai di bibir seseorang yang berfungsi sosial untuk menciptakan, memelihara, mendidik, mempresentasikan, dan membangun citra di depan publik. Bila melihat pada statement tersebut sudah jelas bahwa dalam konteks proses komunikasi, realitas wajah dapat dikonstruksi guna sebuah komoditi. Dalam hal ini maksud dari komoditi tersebut adalah segala sesuatu yang diproduksi dan dipertukarkan dengan uang dalam rangka memperoleh nilai lebih atau keuntungan.
Apa yang diproduksinya tersebut bukan hanya berupa barang semata melainkan citra atau image pun dapat dijadikan komoditi. Menurut pengamatan penulis, perihal realitas wajah manusia sekarang ini secara psikis menjadi ukuran etika profesi bagi setiap individu yang memiliki pengetahuan. Ini terjadi karena tujuan manusia dalam mempergunakan pengetahuan yang diperolehnya adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya. Dari hal tersebut kita dapat memandang sebuah profesi yang bersangkutan dengan realitas wajah, misalnya seorang polisi yang dominan berwajah garang pada saat mengintrogasi pelaku kejahatan, atau seorang pekerja Public Relations yang harus banyak tersenyum di depan publik guna membangun citra positif bagi perusahaannya. Itu semua hasil dari pengetahuan manusia dalam memandang realitas, kalau tidak bertingkah seperti itu dia akan menganggap bahwa langkahnya memiliki kekurangan sekaligus melanggar kode etik profesinya dan hal itu akan mengakar pada kerugian materiil bagi dirinya maupun bagi kariernya. Padahal bila kita memandang realitas wajah secara psikis belum tentu demikian.
Realitas wajah secara psikis tidak dapat diidentifikasi secara nyata dan jelas, hanya kemungkinan lah yang dapat diidentifikasi, contohnya melihat wajah tersenyum belum tentu dia sedang bahagia, melihat wajah cemberut belum tentu ia tengah kesal atau muak. Tapi jika di dalam kode etik profesi hal tersebut menjadi tampak nyata, kemungkinan tadi pun menjadi valid. Hal ini dikarenakan rekayasa realitas estetika visual mudah dilakukan dengan mempresentasikan image. Disana lah ternyata, image lebih berharga dari pada kejujuran suasana jiwa yang sebenarnya. Dalam hal ini Kahlil Gibran tidak mau merekayasa suasana jiwanya melalui image dan itu dapat dibuktikan ketika ia berkata dalam syairnya; “Takkan kutukarkan dukacita hatiku demi kebahagiaan khalayak. Dan, tak akan kutumpahkan air mata kesedihan yang mengalir dari tiap bagian dariku berubah menjadi gelak tawa. Kuingin diriku tetaplah setetes airmata dan seulas senyum”(Kahlil Gibran-Airmata dan Senyuman). Proses Encoding Perwajahan untuk MassaPerwajahan dalam hal ini merupakan perihal pemberian corak dan motif pada tampakan luar, sama dengan proses penciptaan image yang sering muncul dalam media massa demi kepentingan industri kapitalisme. Kepentingan industri kapitalisme adalah menciptakan mass productions dan menghindari over produksi. Menciptakan produksi massal untuk dikonsumsi, menghindari over produksi dengan memelihara konsumen. Dalam hal memelihara konsumennya kepentingan industri kapitalisme pun berhasil menciptakan budaya konsumerisme. Proses penciptaan budaya konsumerismenya tersebut dilakukan dalam media massa dan didukung oleh berbagai industri komunikasi lainnya.
Dalam hal inilah kekuatan elemen promosi yang terkait dengan kepentingan industrialisasi dapat memelihara konsumennya dengan baik melalui iklan, film, sinetron, dan lain sebagainya. Dengan demikian kepentingan industri kapitalisme bukan hanya menciptakan produk barang atau jasa saja, namun ternyata menciptakan tanda, simbol-simbol pesan dalam media massa pun merupakan bagian dari proses produksinya. Proses produksi penciptaan tanda-tanda lewat kode tertentu dalam ilmu Semiotika disebut sebagai encoding, sedangkan proses pembacaan makna atas simbol atau tanda-tanda tersebut disebut decoding. Di dalam industri kapitalisme proses decoding berguna untuk input yang dapat dijadikan pondasi yang kuat guna proses atau mekanisme encoding-nya untuk output.Melalui proses decoding secara garis besar dalam memandang reaksi khalayak komunikasi massa dengan menggunakan dua pendekatan secara objektif dan subjektif. Secara objektif dalam kerangka behaviorisme, media massa adalah faktor lingkungan yang mengubah perilaku khalayak, disini sesuai dengan Hipodermik Needle Theory (Wilbur Schramm:1950) atau sering juga disebut sebagai teori peluru yang menganggap bahwa khalayak (konsumen) itu pasif.Sedangkan secara subjektif dalam kerangka humanisme menganggap bahwa psikologis individu akan menentukan bagaimana individu memilih stimuli dari lingkungan, dan bagaimana ia memberi makna pada stimuli tersebut (DeFleur dan Ball-Rokeach). Hal ini sesuai dengan Uses and Gratification Theory (Katz, Blumler, Gurevich,1974:20), yang menganggap bahwa khalayak (konsumen) itu aktif. Dalam proses encoding, hal tersebut digabungkan agar tidak menjadi kontradiktif melalui penggabungan rekayasa realitas dan materi promosi. Kemudian ditampilkan oleh subjek promosi yakni manusia dengan realitas yang sudah disortir dan isinya sesuai dengan materi promosi, kemudian berintegrasi dan terciptalah visualisasi simulasi estetik. Misalnya di televisi ada sebuah iklan yang mempresentasikan materi iklannya melalui tingkah laku wanita cantik atau pria tampan (subjek) dalam suatu situasi dan kondisi yang menyenangkan.
Melalui media komunikasi lah promosi tersebut ditampilkan. Namun, proses encoding-nya tersebut bukan hanya pada media massa saja, melalui proses komunikasi antarmanusia pun dapat ditampilkan. Salah satu contohnya kita dapat melihat bagaimana seorang Sales Promotion Girl/Boy (SPG/B) mempresentasikan produknya melalui tingkah laku yang menarik, seperti dengan banyak tersenyum di depan calon konsumennya. Begitu juga mereka secara fisik relatif memiliki kecantikan atau ketampanan. Dengan begitu realitas wajah tersebut dengan sengaja dikonstruksi demi kepentingan komoditi industri kapitalisme. Hal tersebut sengaja dikonstruksi dalam nuansa yang dapat menyentuh nilai afeksi, sehingga secara konatif khalayak memiliki potensi besar untuk meresponnya dan kemudian memberikan umpan balik. Proses umpan balik tersebut didominasi oleh nilai rasa, maka jangan heran bila di era globalisasi sekarang ini masyarakat modern dalam memenuhi kebutuhan primernya harus ditunjang dengan kebutuhan image, selera, prestise, dan nilai rasa lainnya.
Perwajahan dalam Kebudayaan PopSudah dapat dipastikan bahwa proses encoding melalui langkah praksis dari kolaborasi Hipodermik Needle Theory dan Uses and Gratification Theory tersebut dapat menciptakan budaya massa. Hal itu dapat diketahui ketika pendekatannya berjalan dengan efektif. Ketergantungan masyarakat pada media massa merupakan realitas yang tengah dirayakan oleh industri kapitalisme. Kemudian nilai ketergantungan masyarakat pada media massa tersebut dapat menciptakan kebudayaan pop. Ketika kebudayaan pop menjadi sebuah realitas yang diterima dengan baik oleh masyarakat, disana lah industri kapitalisme dengan mudah memelihara konsumennya melalui berbagai bentuk bujuk-rayunya, dan merepresentasikan hasil encoding dalam proses promosi. Di dalam kebudayaan pop terdapat suatu kesatuan dari pengetahuan, kepercayaan, dan kebiasaan yang tergantung pada perkembangan media massa. Kemudian dimana suatu keadaan wajah yang dikomoditikan tersebut merupakan bagian dari realitas budaya pop, pada saat itulah realitas wajah secara image lebih berharga dibanding dengan kejujuran suasana jiwa yang sebenarnya. Ternyata dalam hal ini statement Jacques Derrida, ada benarnya juga bahwa dengan kemajuan teknologi audio-visual, manusia dibuai oleh beragam tanda yang mengantarkan pada wujud realita baru. Pikiran manusia bisa menembus ruang dan waktu, dengan suatu penafsiran baru, menerawang dunia dengan sudut pandang yang baru sehingga apa yang muncul dalam pikiran seolah-olah merupakan kenyataan yang tak terbantahkan.Pengaruh kebudayaan pop dapat membuat masyarakat hanya percaya pada penampakan dan permukaan belaka. Hal itu sangat mengerikan bila menyentuh pada nilai religi setiap masyarakat yang tergantung pada citra dan tampakan luarnya.
Mungkinkah dengan pengaruh kebudayaan pop dapat menciptakan penjelmaan-penjelmaan moralitas? Penulis mengharapkan hal tersebut jangan sampai terjadi, akan tetapi apakah sekarang sudah terjadi?Ketika kepercayaan masyarakat selalu bergantung pada hal-hal permukaan yang dapat diterima secara kasat mata dan memiliki nilai estetika visual, disanalah nilai religi masyarakat akan semakin menurun dan kehilangan makna spiritualitasnya. Di abad visualisasi sekarang ini, subjek kuasa yang memiliki akses besar pada media massa akan lebih mudah menampilkan sisi moralitasnya dengan image, dimana perilaku kejahatannya dapat dengan mudah ditutupi dengan citra seorang nabi. Kita semua pasti meyakini bahwa suasana keindahan atau sisi emosional adalah bagian dari kebutuhan setiap manusia. Akan tetapi bila nuansa emosional tersebut hasil dari penghisapan dan eksploitasi terhadap kesadaran manusianya sendiri, kita pantas melawannya. Penulis mengingatkan bahwa industri kapitalisme tumbuh subur di abad visualisasi sekarang ini. Pada era itulah indera penglihatan kita yang dapat menyerap suatu tanda secara kasat mata dikonstruksi dan dijadikan komoditi besar baginya. Hampir setiap hari kita selalu digempur habis-habisan oleh produknya, begitu juga kita setiap hari mengonsumsi tanda dan atau citraan yang diproduksi mereka. Kita mungkin tidak mau melihat generasi bangsa kita memiliki pola pikir pragmatis, ingin serba instant, dan selalu mempercayai nilai estetika visual yang berjauhan dengan realitas yang sebenarnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------
artikel 3
“Nama baik” itu indah, tapi…?
- Ariyandi Gunawan**
Ada suatu kengerian yang dibungkus oleh tebaran senyum
Ada suatu kebahagiaan yang dibungkus oleh gumpalan air mata
Ada keraguan yang dirintangi oleh beberapa pilihan
Mengapa harus ada ini dan itu,bila sesuatu itu, dan ini,
ada yang tak bisa dibahasakan
Siapa yang tidak butuh 'nama baik,' bukanlah manusia modern. 'Nama baik' adalah sebuah penamaan untuk menunjukkan dimana posisi individu manusia modern berada. Bisa dikatakan, semua individu (manusia modern) sangat membutuhkan 'nama baik,' karena ketika dia memperoleh 'nama baik' di dalam lingkungan sosialnya, di situlah ia akan terbebas dari marjinalisasi, begitu juga tidak akan terisolasi.Mengejar dan memburu 'nama baik' di jaman modern merupakan suatu kebutuhan manusia dalam memperjuangkan sekaligus mempertahankan eksistensinya. Di dalam prosesnya, manusia modern memiliki sebuah keinginan tersembunyi, dan terkadang bernuansa halusinasi. Keinginan yang tak tampak, namun pasti, semuanya bertujuan untuk memapankan hidup dalam wujud struktur kuasa atau kelas.
Proses pemburuan 'nama baik' yang dilakukan oleh setiap individu manusia modern untuk kekuasaan itu tampak cantik, elok, dan elegan dalam mempermainkan nilai-nilai moral. Mereka memburu 'nama baik' agar dunia sosial yang ditempatinya mengungkapkan nilai-nilai moral yang berkaitan dengan sesuatu yang abstrak tentang kebaikan hidup, seperti kejujuran, keberanian, kepahlawanan, kesetiaan, keadilan, kesucian dan lain sebagainya. Sesuatu yang abstrak tersebut akan bermanfaat bagi kekuasaan bila manusia modern berhasil memvisualisasikannya hingga melahirkan citra.
Visualisasi moral sangat mudah sekali mengaburkan fakta. Dalam hal ini fakta yang berperan sebagai bahan pertimbangan untuk menginterpretasikan moral seseorang dalam dunia sosial. Seseorang yang dikategorikan sebagai orang yang bermoral adalah orang yang tidak merugikan kemanusiaan. Sebaliknya orang yang tidak bermoral atau amoral adalah orang yang merugikan kemanusiaan. Hal tersebut akan mengalami pendangkalan nilai, bila terlalu banyak interpretasi yang dapat mengaburkan fakta. Dan, banyaknya interpretasi tersebut berkembang biak dalam media massa. Siapa yang mengusai media massa, dialah manusia yang lebih bisa memanipulasi nilai moral dengan citra.'Nama baik' itu indah. Memang, bonum est pulchrum (baik itu indah) yang selalu di interpretasikan oleh para filsup skolastik, ternyata dapat dibuktikan kebenarannya melalui visualisasi nilai baik dalam ruang moralitas. Hal tersebut terlahir dari interaksi sosial yang produktif melalui pertukaran citra. Ketika proses pertukaran citra tersebut berhasil mendominasi nilai moralitas, maka 'nama baik' itu akan tampak secara konvensional.
Secara ideal, citra yang indah itu seharusnya menarik dan fungsional. Menarik secara fisik merupakan suatu objek yang dapat teridentifikasi, dan ditangkap hanya secara emosional, dan berkaitan dengan selera atau hasrat. Sedangkan fungsional memiliki kegunaan yang memberikan kenyamanan, dan kepentingan atau kebutuhan yang bersifat materialistik. Didalam ranah kebudayaan pop, sebagai corak peradaban manusia modern, citra tersebut merupakan bagian dari perwujudan nilai-nilai moralnya.
'Nama baik' yang konvensional, yang didominasi oleh citra, sama dengan reputasi manusia modern dalam kehidupan sosialnya. Reputasi yang terlahir dari proses yang instant melalui permainan citra dalam ruang sosial. Bukan reputasi yang terlahir dari sebuah karya otentik, begitu juga bukan reputasi yang lahir dari prestasi hidup yang bermakna tinggi.Memang, proses pemburuan 'Nama baik' itu indah, sebuah perwujudan nilai moral melalui image positif dalam interaksi sosial. Namun, keindahan 'nama baik' tersebut tampak seperti keindahan dalam kesenian yang bermutu rendah. Kesenian yang kurang memiliki pesan pencerahan, dan kesenian yang tidak dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan umum. Lebih ekstrimnya lagi bisa disebut sebagai kesenian yang sudah terkontaminasi oleh limbah yang berlimpah ruah dari pasar komoditi.
Ada sebuah pandangan yang mengatakan bahwa manusia yang bermoral itu merupakan manusia yang anti kemapanan hidup. Mereka mengkebiri keinginan bebasnya dengan mengikuti norma-norma sosial. Pandangan tersebut terbalik, justru semakin seseorang tampak bermoral, semakin besarlah peluangnya untuk mendapatkan kekuasaan. Namun bermoralnya itu haruslah sudah terpublikasikan, terlihat secara konvensional, dan memenangkan image positif, agar “nama baik” melabung tinggi dalam lingkungan sosialnya. Hal itu dapat juga disebut sebagai moral yang sudah tervisualisasikan, moral yang sudah dilabelkan dalam kemasan citra sehingga tampak begitu indah. Bagitu juga hal tersebut merupakan sebuah jawaban, bahwa moralitas sudah tidak lagi murni, otentik, apalagi yang bermotif ibadah, semua digantikan dengan nilai komoditi.
Cukup mengerikan, tapi merupakan sebuah jawaban, bahwa proses kematian perjuangan tanpa pamrih dalam kehidupan sosial sudah semakin medekat.Tentang 'nama baik' yang diterangkan diatas merupakan penafsiran dangkal terhadap akibat pencitraan nilai moral yang ada dalam peradaban manusia modern. Saya sebutkan dangkal kerena fenafsiran tersebut tidak berlandaskan pada kandungan nilai-nilai ajaran agama Islam (khususnya). Ajaran Islam tentang nilai moral yang divisualisasikan oleh seseoarang tidak dapat ditafsirkan secara mutlak bahwa orang tersebut ingin mendapatkan kekuasaan. Karena didalam ajaran Agama Islam, tidak selamanya tingkah laku manusia dalam ruang moralitas dapat diidentifikasi dalam dunia sosial. Semuanya bergantung kepada niat dalam hati orang tersebut, dan itu tidak dapat kita didentifikasi dalam dunia sosial. Begitupun agar perebutan kekuasaan manusia modern dalam ruang moral tersebut tidak mengkontruksi realitas yang chaos, sebaiknya kita mulai merenungkan ajaran Islam dalam Al-Qura'an yang berbunyi, Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu banginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan didunia akan Kami berikan kepadanya sebagaian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun diakhira. (Asy-Syura).
------------------------------------------------------------------------------------------------artikel 4
Hidup dalam Botol
- Ariyandi Gunawan**
Tak pernah kita sadari dan sulit dirasakan dengan nyata jika kita renungkan apa yang kita hadapi dalam kehidupan ini ternyata hampir setiap hari, tiap jam dan tiap detik atau setiap perputaran waktu berlangsung, kita seakan-akan selalu diikat oleh tali-tali permasalahan yang harus kita hadapi .Disaat kita menghadapi sebuah masalah, kita seperti berada dalam sebuah botol yang kosong tanpa air, kita berada di dalam botol tersebut tanpa ada yang menemani, yang terlihat di sana hanya dinding-dinding kaca dalam botol tersebut seakan-akan menyesakan nafas dan tersumbatnya pikiran.
Terlalu sulit untuk muncul dan keluar dari botol itu, sama sulitnya ketika kita mencari jalan keluar dalam sebuah permasalahan yang berat.Licinnya dinding botol tersebut membuat kita putus asa karena raga kita seakan-akan tiada guna, terlalu lucin untuk bisa naik dan keluar dari botol itu jika kita hanya menggunakan jasmani belaka.
Depresi dan frustasi tak bisa lepas dari pikiran disana yang tersisa hanya penantian dan penantian yang tak pasti, tak jelas apa yang kita tunggu dan tak ada gambaran untuk bisa keluar, seperti kita melihat lautan yang tak bertepi dan langit yang tak berujung.Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi dalam botol tersebut mungkin hanya bisa menunggu keputusan dari sang maha pencipta.
Sesaknya nafas kita disana sama sesaknya dengan apa yang dihadapi dalam masalah-masalah kehidupan duniawi, berteriak dan meronta-ronta disana, namun tak ada satu pun orang lain yang perduli,karena sebuah masalah hanya untuk diri sendiri dan dinikmati sendiri, mungkin kesendirian tersebut mengingatkan kita akan kelahiran dan kematian, karena disaat kita lahir dan mati hanya untuk sendiri.Kembali kita hanya bisa diam dan menunggu dalam botol tersebut, sepertinya emosi atau amarah kita sudah sirna dan tak berguna disana, tangan memukul, kaki menerjang namun kaca itu sulit dipecahkan, mungkin benar bahwa raga kita tak berguna jika kita hanya diperbudak emosi atau nafsu belaka.Apa yang harus kita lakukan sekarang didalam botol tersebut? Coba kita rasakan dengan ketenangan, ternyata apa yang kita perbuat itu berasal dari hati, bahwa jasad kita hanya tunduk pada hati yang lembut.”Hati merupakan sesuatu yang kasat mata, tak berupa dan tak bisa diraba”(Al-Ghazali).Jasad kita hanya daging, tulang dan darah, sama dengan yang dimiliki hewan.
Kita tidak bisa keluar dari botol tersebut tanpa kesabaran, ketenangan batin dan kepercayaan yang besar kepada Tuhan. Namun kesabaran hanya diam dan hanya menunggu semata itu semua tiada arti, mungkin kita harus berharap dan ber doa kepada sang Maha Pencipta. Terkadang kita sulit memaknai kesabaran, apa lagi mempelajarinya, mungkin karena kesabaran tersebut sulit di lakukan.
Sebagai jalan keluarnya kita memerlukan sedikit analogi dari kesabaran tersebut dari arti kesabaran tersebut. Kesabaran itu seperti air, kita bisa keluar dari botol tersebut jika kita menunggu datangnya air dari sang maha pencipta, dengan air yang tenang kita bisa bercermin dan terlihatlah wujud kita begitu juga dengan jati diri, mungkin dengan ketenangan batin serta kesabaran, dengan penuh kesabaran dan ketenangan batin mungkin bisa memaknai hidup dengan baik dan bisa berintrospeksi diri sama seperti kita sedang bercermin pada air yang tenang. Namun sebaliknya jika kita bercermin pada air yang deras maka wujud kita mungkin tak terlihat, sama halnya jika kita menjalani kehidupan ini dengan tergesa-gesa tanpa ketenangan batin dan kesabaran, hanya mengumbar hawa nafsu belaka.
----------------------------------------------------------------------------------------------
Artikel 5
PERLAWANAN SIMBOLIK GUS DUR DALAM PEMILU 2005
- Ariyandi Gunawan
Menjelang pemilihan presiden 5 Juli 2004, arus politik semakin memanas. Masih ingat dengan kejadian di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makasar (01/4), dan munculnya gerakan-gerakan anti militerisme. Muncul dua calon presiden bergelar purnawirawan TNI (Tentara Nasional Indonesia) Sosilo Bambang Yudoyono dari Partai Demokrat (PD) dan Wiranto dari Partai Golongan karya (Golkar). Ini semakin memperkuat indikasi bahwa kebangkitan militerisme telah didepan mata. Sejarah membuktikan bahwa kediktatoran militer mampu menutup keran demokratisasi. Lihatlah pada waktu pemerintahan orde baru. Jadi kalau militer bangkit kembali, tidak tertutup kemungkinan bahwa rezim fasis orde baru akan berkuasa kembali.
Isu bangkitnya militerisme dan orde baru sampai saat ini masih menjadi sorotan besar pihak yang pro terhadap demokratisasi. Ini beriringan dengan masih hangatnya isu kebangkitan militerisme. Munculah fenomena yang menarik, ketika Gus Dur ngotot dalam bursa pemilihan presiden.
Ini berawal pada saat pemeriksaan kesehatan calon presiden yang dilaksanakan (29/4) di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Jakarta. Gus Dur menyatakan optimismenya dan pemeriksaan kesehatan yang dijalaninya tidak ada masalah. Namun kenyataan berpihak lain. Komisi Pemilihan Umum (KPU) lewat surat tertutup menyatakan, Gus Dur tidak memenuhi syarat kemampuan rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas sebagai presiden. Dari hasil pemeriksaan tim dokter Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Gus Dur masuk kategori Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Setelah itu Gus Dur menyatakan akan menggugat KPU secara hukum jika ditolak untuk mengikuti pemilihan umum presiden RI. Upaya hukumpun dilakukan oleh Gus Dur dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melalui Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA). Menolak permohonan Judicial review atas UU Pilpres No.23/2003 dan SK KPU No.26/ 2004 tentang tata cara pencalonan calon preiden dan calon wakil presiden.
Tampaknya Komisi Pemilihan Umum (KPU) kurang memperdulikan gugatan Gus Dur tersebut. Lewat rapat pleneo (22/5) satu-satunya pasangan yang tidak diloloskan KPU adalah Gus Dur dan Marwah Daud Ibrahim. Setelah keluar keputusan itu, Gus Dur langsung menuntut KPU dengan meminta ganti rugi sebesar Rp. 1 Triliun dan juga akan menempuh jalur pidana dengan tuduhan pencemaran nama baik. Gus Dur tetap berpegangan teguh pada UU No 4/1997 tentang Penyandang Cacat, yang antara lain menyebutkan pemberian peluang kepada penyandang cacat untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.
Itulah Gus Dur aneh, namun kadang-kadang ada benarnya juga. Tapi bagaimana dengan penilaian sebagian besar masyarakat Indonesia, yang kapasitas pendidikan politiknya lemah? Mampuhkah mereka mengetahui tindakan Gus Dur sebenaranya? Sepertinya ragu untuk menjawab mampu. Karena kecenderungan masyarakat Indonesia hanya tahu pemimpinnya dilihat dari kapasitas personal dan citra yang ditampilkannya. Maksudnya, peran figur seorang pemimpin dapat diterima secara jangkauan indrawinya saja. Bahwa segala sesuatu tampak apa adanya. Misalnya, pada masa pemerintahan orde baru Soeharto tampak dekat dengan petani melalui program kelompecapir-nya. Begitu juga dengan Megawati sebelum ia menjabat sebagai presiden. Ia tampak berpihak pada rakyat kecil dengan slogan " Wong Cilik". Tindakan tersebut memberikanya citra yang positif dimata masyarakat pada waktu itu, dan kemenanganpun berada ditangannya.
Muncul sebuah keganjilan dalam tindakan Gus Dur saat ini. Yang harus manjadi catatan bagi masyarakat prodemokrasi yang anti militerisme. Agus Muhamad dalam artikelnya yang berjudul "Perlawanan simbolik Gus Dur" menegaskan, "Fenomena ngototnya Gus Dur lebih merupakan perlawanan simbolik untuk memberikan pembelajaran demokrasi ketimbang sebuah ambisi untuk meraih kekuaaan yang pernah lepas dari tangannya. Hal yang sama dapat dilihat pada keterlibatan Gus Dur dalam aliansi menolak hasil pemilu. Penolakan tak lebih dari perlawanan simbolik untuk menunjukkan, pemilu berlangsung tak bersih, banyak kecurangan dan harus menjadi catatan bagi kita semua."(Kompas 22/5). Asumsi semacam inilah yang harus dibantah oleh masyarakat prodemokrasi yang antimiliterisme.
Bukan pembelajaran demokrasi
Suatu simbol muncul ketika terjadinya rekayasa peristiwa, sebagai stimulus yang mengarah pada suatu makna tertentu. Dalam hal ini makna yang dapat diambil adalah sebuah pembelajaran demokrasi. Layaknya sebuah simbol adalah suatu stimulus yang dapat memberikan tanggapan. Sesuai dengan hukum belajar yang ditemukan oleh Thorndike di Universitas Colmbia New York, Amerika Serikat, hukum belajar adalah dialektika antara stimulus (rangsangan) dan respon (tanggapan).
Merujuk kepada teori tersebut, maka secara tidak langsung tindakan Gus Dur justru tidak dapat dikatakan sebagai perlawanan simbolik untuk pembelajaran demokrasi. Sebab, sampai saat ini respon yang signifikan belum tampak. Kalau memang pembelajaran demokrasi itu dapat diterima oleh rakyat, maka secara langsung mereka akan menanggapinya. Mengecam KPU yang dinilai Gus Dur tidak demokratis karena menolak pencalonan dirinya. Begitu juga banyak rakyat yang akan mendukung penggabungan diri Gus Dur dengan aliansi menolak hasil pemilu.
Simbol atau citra yang mengubur pengharapan
Simbol adalah suatu rangsangan yang mengandung makna dan nilai yang dipelajari bagi manusia, dan respon manusia terhadap simbol adalah dalam pengertian stimulasi fisik dari alat-alat indranya (Dedi Mulyana -Metodologi Penelitian Kualitatif ). Di sana dapat dikatakan bahwa suatu simbol dapat mangarah pada hal-hal yang subtansial. Pembelajaran demokrasi adalah sebuah hal yang subtansial. Ini berarti tindakan Gus Dur atau perlawanan sibolik Gus Dur benar-benar mengarah pada hal tersebut. Namun tanggapan rakyat terhadap tindakan Gus Dur belum tentu mangarah pada nilai yang subtansial, karena tanggapan yang muncul hanya pada stimulasi fisik dari alat-alat indranya. Dengan demikian yang paling pertama dan dominan diterima secara stimulasi fisik dari alat indra adalah sebuah citra.
Citra membantu memberikan alasan yang dapat diterima secara subjektif tentang mangapa segala sesuatu hadir sebagaimana tampaknya tentang referensi politik, dan tentang penggabungan dengan orang lain (Dan Nimmo - Komunikasi Pilitik). Citra Gus Dur dapat memberikan alasan mengapa ia ngotot di bursa calon pemilihan perisden. Bisakah alasan dari tindakan Gus Dur tersebut diterima sebagai pembelajaran demokrasi? Jawabannya, tidak sama sekali, karena citra hanya muncul pada stimulasi fisik dari alat-alat indra saja. Dengan demikian tanggapan rakyat terhadap Gus Dur tidak akan mengarah pada nilai subtansial.
Gus Dur adalah sorang pemimpin politik dan mencalonkan diri sebagai presiden. Sebagaimana figur seorang pemimpin, layaknya memberikan pengharapan yang lebih baik pada rakyatnya. Lantas pengharapan apa yang dapat diterima oleh rakyat ketika rakyat menilai tindakan Gus Dur pada tataran citra personalnya?
Pengharapan berkaitan dengan aspek konatif, atau kecenderungan citra personal dan proses interpretative yang oleh para psikolog kadang-kadang disamakan dengan gerak hati, hasrat, kemauan, dan dorongan. Pengharapan personal paling penting dalam politik atau penampilan pemimpin berdasarkan apa yang diharapkannya akan terjadi. Jika pengaharapan itu tinggi dan peristiwa atau perbuatan pemimpin tidak sesuai dengannya, orang kecewa atau meremehkan politikus (Dan Nimmo -Komunikasi Politik).
Apa yang diharapkan masyarakat sudah jelas menginginkan figur pemimpin yang dapat memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya. Namun mereka melihat Gus Dur terlibat dalam aliansi menolak hasil pemilu. Citranya dapat diterima rakyat bahwa tindakan Gus Dur telah mengubur pengharapan rakyat yang tengah mengalami keterpurukan yang belum terhenti. Masyarakat sudah lelah dengan kondisi keterpurukan yang tengah mereka alami sekarang. Apakah dengan menolak hasil pemilu dapat mengobati keterpurukannya? Lantas apa tujuan Gus Dur sebenaranya?
Secara simbolik dan bagi kalangan intelektual yang menilainya secara subtansial, boleh dikatakan dapat menciptakan iklim demokrasi yang dinamis. Akan tetapi persoalan "perut" rakyat pasti lain cerita. Persoalannya, tindakan Gus Dur tersebut ditujukan untuk siapa? Kalau untuk masyarakat yang awam dengan politik jelas-jelas tindakan tersebut dapat merugikan. Akan tetapi bagi kaum intelektual mungkin hal tersebut ada pengecualian lain.
Citra Gus Dur dan kebangkitan militerisme.
Citra kedua calon presiden dari purnawirawan TNI (Tentara Nasional Indonesia) Wiranto dan Susilo Bambang Yudoyono dapat memperkuat indikasi bahwa militerisme bangkit kembali. Meskipun tidak secara subtansial, hal tersebut dapat diterima sabagian rakyat. Menurut Yasraf dalam bukunya yang berjudul, Hipersemiotika, citra merupakan sesuatu yang tampak oleh indera, akan tetapi tidak memiliki eksistensi subtansial. Citra tersebut tidak mungkin mau diterima oleh kedua orang calon presiden bergelar purnawirawan TNI, mengingat kesan militerismenya sangat kental. Usai undian nomor urut pasangan calon presiden dan calon wakil presiden di KPU (12/5), para calon presiden dan calon wakil presiden diminta memferivikasi nama mereka. Ejaan, gelar, dan pangkat mereka pun diperikasa. Mereka yang pengsiunan tentara atau purnawirawan Wiranto dan Susilo Bambang Yudoyono begitu juga dengan calon wakil presiden Agum Gumelar, meminta gelar purnawirawannya tidak dicantumkan. Dengan kata lain mereka sengaja melakukan hal itu guna meminimalkan kesan militerisme.
Bagaimana dengan Gus Dur? Seorang Gus Dur tentunya mewakili calon presiden dari sipil. Bila Gus Dur berpihak pada rakyat sipil tentunya akan meredam kekhawatiran bangkitnya kembali kekuasaan yang berbau militeristik. Namun semua itu jadi kebalikannya. Citra yang dibangun oleh Gus Dur tidak berpihak pada citra sipil.
Fenomena Ngotot-nya Gus Dur di bursa calon pemilihan presiden berakhir dengan gugatan tersebut. Ini memperkuat indikasi bahwa citra Gus Dur tidak lagi berpihak kepada masyarakat sipil. Perlawanan simbolik Gus Dur untuk pembelajaran demokrasi kepada rakyat tidak dapat diterima. Berarti bias citra yang ada, mengarah pada perusakan citra prilaku sipil. Otomatis ketika Gus Dur tergabung dalam aliansi menolak hasil pemilu adalah bentuk pembusukan citra sipil, karena citra sipil tampak sewenang-wenang terhadap peraturan yang berlaku. Begitu juga hal itu memberikan kesan yang tidak memikirkan kondisi bangsa yang masih berada pada posisi keterpurukan. Dengan demikian, Gus Dur telah membantu kedua purnawirawan itu untuk berkuasa. Atau dengan kata lain, Gus Dur telah memberikan ruang bagi bangkitnya militerisme. Hal tersebut terlepas dari pembelajaran demokrasi, karena alasan klasik seperti itu tak akan pernah hilang ketika seorang politisi kepepet kehilangan langkah strategis. Indikasi Gus Dur dalam mendukung kebangkitan militerisme semakin kuat. Buktinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau partainya Gus Dur memberi dukungan terhadap pasangan Wiranto yang dinyatakan dalam rapat pleno Dewan pengurus pusat PKB di Jakarta, baru-baru ini.