Friday, September 15, 2006

RINGKASAN NASKAH BUKU

RINGKASAN NASKAH

Ringkasan Naskah ini sengaja saya tampilkan dalam blog ini.
Keterangan lebih lanjut mengenai naskah ini, kirim email: ariyandigunawan@yahoo.com.

Judul : POLITISASI BAHASA DALAM KASUS KEMATIAN MUNIR
Suatu Analisis Framing Berita
Penulis : Ariyandi Gunawan

Politisasi bahasa merupakan konstruksi realitas media yang didalam pemberitaannya terdapat keberpihakan terhadap kepentingan politik, idelogi, dan nilai-nilai yang bertendensi kekuasaan lainnya. Sedangkan analisis framing merupakan salah satu pendekatan untuk mengungkap politisasi bahasa itu dalam pemberitaan media.

Kasus kematian Munir bukan disebabkan oleh suatu pembunuhan biasa. Kasus kematian Munir bisa kita duga sebagai kasus pembunuhan konspiratif yang bermotifkan kepentingan politis. Hal ini bisa kita lihat dari bagaimana pengungkapan kasus tersebut menuaikan spekulasi, polemik ataupun kontroversi dari berbagai pihak seperti kekuatan sipil, TNI, BIN, dan pemerintah.

Surat kabar, melalui pemberitanya sangat berperan penting dalam mengkonstruksikan spekulasi, polemik, ataupun kontroversi dalam pengungkapan kasus tersebut. Kenyataan itu terdapat dalam beberapa peristiwa yang dikonstruksikannya. Pertama, peristiwa tentang pemberitahuan hasil autopsi jenazah Munir dan pembentukan tim investigasi dari kepolisian. Dalam peritiwa itu terdapat suatu perdebatan. Perdebatannya itu dilandasi adanya suatu wacana tentang perlu atau tidaknya kekuatan sipil terlibat dalam penyelidikan kematian Munir. Dalam perdebatan itu, Koran Tempo dalam beritanya cenderung menyetujui bahwa kekuatan sipil harus terlibat dalam penyelidikan kematian Munir. Sedangkan Kompas dalam beritanya cenderung menonjolkan makna bahwa penyelidikan kematian Munir hanya tanggungjawab pihak kepolisian.

Kedua, peristiwa teror terhadap istri Munir, suciwati. Peristiwa itu memunculkan isu yang spekulatif antara terlibat atau tidaknya TNI dalam teror dan kematian Munir. Surat kabar Kompas dalam beritanya cenderung menonjolkan pandangan bahwa TNI tidak terlibat teror dan kematian Munir. Sedangkan berita Media Indonesia cenderung mensugetikan bahwa TNI terlibat dalam teror dan kematian Munir.

Ketiga, peristiwa akan diperiksanya mantan sekretaris utama BIN Nuhadi Djajuli oleh Tim Pencari Fakta kasus kematian Munir. Peristiwa itu memunculkan perdebatan mengenai kewenangan TPF dalam memeriksa Nurhadi. Kewenangan TPF Munir untuk memeriksa Nurhadi dimaknai Kompas sebagai kewenangan yang kontroversial. Sedangkan Pikiran Rakyat memaknai bahwa TPF Munir telah menyalahi kewenangan ketika TPF Munir akan bertindak untuk memeriksa Nurhadi.

Keempat, peristiwa diadilinya Pollycarpus sebagai pembunuh Munir. Dalam peristiwa itu, isi dakwaan terhadap Pollycarpus menjadi suatu perdebatan. Satu sisi ada yang menilai bahwa isi dakwaan terhadap Pollycarpus itu masih spekulatif. Tapi di sisi yang lain, dakwaan itu dianggap sudah ideal dan layak diberikan kepada Pollycarpus. Dakwaan terhadap Pollycarpus dimaknai Republika sebagai dakwaan yang ideal. Republika memuat klaim yuridis untuk memperkuat nilai idealnya suatu dakwaan untuk Pollycarpus. Sedangkan Kompas memaknai dakwaan terhadap Pollycarpus sebagai dakwaan yang masih spekulatif (belum ideal). Teks berita Kompas cenderung tidak setuju dengan isi dakwaan yang menyebutkan Pollycarpus dianggap sebagai penegak NKRI dan Munir dianggap membahayakan NKRI. Anggapan isi dakwaan semacam itu dianggap spekulatif karena dalam teks berita itu Kompas tidak memuat adanya fakta yang jelas dan mengarah kepada isi dakwaan.

Dalam peristiwa-peritiwa itulah media mamainkan politisasi bahasa dalam pemberitaannya. Politisasi bahasa itu dapat terlihat ketika adanya suatu peristiwa yang sama dikemas masing-masing media melaui bahasa yang berbeda-beda. Politisasi bahasa yang dilancarakan media disini memperlihatkan bagaimana media itu sendiri berpihak terhadap pihak-pihak yang berkenpentingan dalam suatu peristiwa yang menuai polemik ataupun kontroversi tersebut. Tapi hal ini semua dapat terungkap setelah dilakukannya suatu analisis framing terhadap pemberitaan media.

Naskah buku yang saya tulis ini merupakan suatu upaya dalam mengungkapkan politisasi bahasa dalam kasus kematian Munir. Adapun metode dan subjek penelitian yang saya pakai adalah suatu analisis framing terhadap berita Kompas, Republika, Media Indonesia, Tempo, dan Pikiran Rakyat.

Naskah buku yang saya tulis ini bisa dimanfaatkan oleh siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana sebenarnya kasus kematian Munir terjadi. Selain itu, naskah ini secara khusus bisa dijadikan sebagai suatu contoh bagaimana melakukan analisis berita. Sehingga naskah ini layak dibaca khususnya oleh kalangan akademis yang konsentrasi terhadap disiplin ilmu komuniksi, khususnya jurnalistik.[]
-------------------------------------------------------------------------------------
Komentar:
1. Mila (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)
coba aja dimasukin ke penerbit
aku pernah baca buku ttg penelitian framing ttg habibie di kompas republika ma merdeka diterbitin ISAI, judulnya politik mendia mengemas berita
aku juga pengen si penelitianku dijadiin buku.
kasus munir kan keren tuh, media banyak menyoroti juga, pasti bagus kalo dibikin buku, lumayan juga buat pedoman yg mau bkn framing
aku jg bkn framing tibo di kompas ma republika pake metode-nya entman
thx
2. Andreas Harsono (PANTAU)
ringkasan buku yang tertera di blog Anda, soal almarhum Munir, saya kira naskah ini punya potensi jadi baik. Tapi naskah ini masih kaku dan bahanbakunya melulu teks. Ia perlu dilengkapi dengan interview dan kutipan orang-orang media yang Anda pantau. Anda juga perlu masuk dalam proses dimana redaksi-redaksi itubekerja. Kalau Anda bersedia mengerjakan ulang naskah itu, kami tertarik untuk diskusi lebih dulu, kira-kira bagian mana yang harus ditambah. Anda terlihatpunya kebiasaan menulis dan bercerita. Itu modal kuat yang sayang tak munculdalam analisis Anda. Tanpa tambahan, saya kuatir kami harus bilang tak bisa memuat naskah ini.






















Thursday, July 27, 2006

FOTO & CURHAT

Dari Kawan Ku untuk Ku
Perkawanan memang menyenangkan. Selama kita masih bisa saling memperhatikan.
Testimonial ini bersumber dari friendster ku. Ini hanya penilaian kawan-kawan ku semata yang tidak tertutup kemungkinan kelilru.
EVA - Posted 13/2/2006
AAArrrIIII...kangen banget sama bapa yang satu ini,mungkin dah sekitar 3 taunan ga ketemu padahal mah kita satu kampung ya pak???tapi untungnya kita masih contact2an...gw kenal ari dari pas SMA..dia termasuk kakak kelas yang ramah gt..hehe..pas keluar SMA dia nerusin kebandung dan gw hijrah kedepok...hiks..lama bnget ga denger kbarnya ternyata dia seorang demonstran yang bnyak mngetuai organisasi..ups..hebat bnget pokoknya,ancungan jempol lah..salut bgt!!!kl ada apa kbarin yuph...
Wendi - Posted 9/1/2006
kalo yang aku tahu sih orangnya jarang mandi gak tahu tuh kalo sekarang. Kayaknya sering mandi. kalo ada ce yang deket n taklukin tuh orang biasa ini jago dech salut tuh buat ce.satu pesan ada lagi buat orangbiasa mau kapan lulus n mana PW mau sampai kapan mo STMJ sudah lulus tetep jomblo he...he... ;-p
Goniel-Posted 15/12/2005
ari!ya gitu deh!................tapi sayang ampe hari ni dah semester 9 blom juga punya cw. trus lucunya, kemaren2 klabakan nyari cw, ktanya sich buat pendamping wisuda ntar.he2e.....!
RIZAL-Posted 9/4/2006
kamana atuh ORANG BIASA !!? biasa gak mandi, gak kramas dan gosok gigi kalie....!!!ARIE....nama yang kramat...kayak kramat jati...coz pertualangannya begitu cepat. cicing2 ngajdog tea !!!rie...tong loba omong akhhhh.....rie....tong sare wae atuh, komo di BPPM. inget eta organisasi uy...mere contoh nu bener atuh ka adek didik teh brur....!! nyak beberez atuh di BPPM teh.sebarkeun virus teh nu positive. tong nu gorengna wae.....HIDUP BPPM. persib kaleeee..............met bejuang brur
Iman - Posted 9/5/2006
haloo brow, orang satu ini lebih terkenal dari artis yang ada di Unpas, mau tau kenapa?dia kritis, jarang mandi, suka demo, ya....... Aktivislah.selain itu ketua PPMI dewan kota bandung lg, wow keyen..kalo kamu2x pengen dapet cewe datang aja ke mbah yang satu ini katanya sih achung-n jempol..bukan hanya itu, banyak ilmu-ilmu ilmiah terutama jurnalistik yang sudah diluar kepala dia, keren ya. iih atuuut.cuma satu yang aku takutin, kalo binatang piaraannya terbang, aow..tos heula ah bisi olab
NIRZA-Posted 19/5/2006
ass..sorY nrZa br isi tesTYnya skRg...btW tgL 21 ada yG uLtah neehhh...jgN lupa mkN2 yo...yawDah aTUh..nRza isi niy tesTy Bwt yg pNya nama fs "OranG biasa"...1st....arY oRg yang aNEh..2nd...baEk juga kadanG"..he..he3rD...deMen Yang namaNya diSkusi4th...sEpertinya ini oRg sedang jOmbLo..seGitu aja Yapss...tesTy nya,,nTar kaLu ada yG kurang ama Neng nirZa cNtik ditambahIn lagi dahh....ok..keep smile n janGan lupa uNtuk Rajin mandi biaR ga joMblo n Cw2 ga pada Kabur....wakaKakakkk...C.U
HASNI KHAIURUNNISA - Posted 26/5/2006
Orang Biasa ???Orang yang satu ini sangat baik sekaliiiiii.Saking baiknya kadang bisa bikin orang risih,selain baik beliau juga pinter,cerdas dan.... banyak hal lain deh yang susah di ungkapkan (cie... ).Beliau selalu membantu org yang membutuhkan bantuannya tanpa pamrih,apalagi kalo urusannya sama yang namanya akademik pasti deh langsung.....(diajarin).Kalorang yang belum kenal pasti nyebut dia orang judes,sombong,tidak bersahabat,jutex dan sejenisnya, tapi kalo udah kenal biasa aja tuh(baik makssudnya ;p...)Fotonya lucu yach (DIKIT), PeDe lagi.Upz satu lagi beliau punya cita2 yang sangat mulia.Beliau ingin ngeberangkatin ibunya ke Mekkah.Sukses ya! Semoga berhasil.
MAULIDA-Posted 4/9/2006
Lelaki yang satu ini sering gonta-ganti pacar. Nggak tau kenapa. Trus, orangnya terlihat kalem, tapi sebenarnya berapi-api kalau punya ide, gagasan atau saat ia memerlihatkan garis pikirannya. Oya, dia bilang pengen punya pacar yang agak "hijau". Biar teduh kali ye?
==========================================================
Jeritan Hati Seorang Penganggur

Pantas saja banyak cerita pahit dibalik status pengangguran. Pengangguran dalam lingkungan sosial, jelas termarjinalkan...hmm..dalam keluarga, khususnya didepan orang tua, sudah pasti memalukan. Hehehe...aku juga gak berani macarin cewe kalau belum bekerja. (kacian..deh gw ).

Aku merasa kehilangan mimpi indah. Pergantian hari begitu lama ku rasakan. Emm..jenuh, bingung, kesal,..dan penyakit hati lainnya, menyelimuti keseharian ku. Padahal aku belum lama menggangur. Baru sebulan lebih aku menganggur. Tapi kurasakan sudah hampir satu tahun lamanya.

Sebenarnya aku belum resmi menjadi pengangguran. Aku hanya baru menyelesaikan sidang skripsi. Mungkin jika pada saat wisuda nanti aku belum bekerja, wisuda itulah yang mengesahkan aku menjadi seorang penganggur. Ya, itulah kenyataaan wisudawan yang dulunya kuliah dalam institusi pendidikan yang hanya mencetak gelar kesarjanaan semata. Kalau ngomongin soal cetak – mencetak semata, apa bedanya buku dengan sarjana? Emm..kalau buku setelah dicetak dijual oleh si pencetak. Kalau sarjana setelah dicetak menjual diri sendiri ke perusahaan-perusahaan, kale...hehe.. (wey..teman-teman, doain gw ya biar cepat kerja sebelum wisuda itu datang).

Setelah wisuda aku pasti mendapat gelar. Karena aku kuliah di jurusan ilmu komunikasi yang banyak menyerap ilmu-ilmu sosial yang cenderung politis, aku mendapatkan gelar S.Sos, kepanjangan dari - Sarjana Sok susah. Hehehe (maksa pisannya).

Cita-cita ku cukup tinggi dibandingkan dengan kemampuan yang ku miliki.(hehehe.keren ga tuh) Sebenarnya aku ingin melanjutkan kuliah. Malu juga punya gelar S1 yang sama dengan orang tua ku. Tapi Ibu ku sudah lepas tangan, ia tak sanggup lagi membiayai. Sebenernya aku ingin melanjutkan kuliah ke jenjang S2 bukan hanya karena ingin gelar semata. Selain ingin mendapatkan pergaulan dan pengalaman, paling utama aku ingin membuat suatu karya yang besar dalam bidang ilmu komunikasi. Tapi persoalannnya aku tak memiliki sponsor untuk membiayai kuliahnya? Ada yang berminat nyeponsorin hibungi ya.hahahaha

Yang namanya cita-cita ideal selalu saja berbenturan dengan kenyataan yang ada. Sepertinya sekarang ini bukan kuliah lagi yang harus ku lakukan. Ya, sekarang aku sangat butuh uang. Aku ingin juga memperkaya diri – maklum aku belum pernah menjadi orang kaya. (Hehehehe...jadi orang susah itu banyak sakit hatinya loh).
Ya, mungkin revolusi harus berhenti setelah lulus kuliah saja. Maaf kawan-kawan, bukan maksud ku untuk tidak menghargai perjuangan kalian – bukan tidak mau aku menikmati indahnya perjuangan. Tapi keluarga ku sepertinya butuh kebanggaan melihat aku menjadi orang sukses yang identik dengan banyak harta kekayaan. Ikut merayakan kapitalis mungkin pilihan temporer, atau bisa juga permanent, tapi gimana jadinya aja lah.  Yang penting aku harus ngerasain dulu kaya baru idealis. hehehe.

Pasantren (Pengangguran Santai Tapi Keren)
Sempat terpikir selintas ingin menjadi “anak” pesantren alias pengangguran santai tapi keren. Anak “pesantren” biasanya mengelola “LSM”, menjadi broker politik, membantu proyek pemeritah, dan berbagai kerjaan yang membutuhkan suatu idealisme setengah hati lainnya. Tapi aku lebih suka membuang jauh-jauh kerjaan itu
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------





Kenangan Indah Berkemah

Sudah menjadi kebiasaan ku. Agar pikiran ku segar kembali, aku sering pergi ke gunung atau ke danau bersama kawan-kawan seperjuangan ku. Gunung Puntang, Tangkuban Perahu, Manglayang, Pangalengan, danau / situ patenggang dan tempat pegunungan lainya di sekitar Bandung pernah ku singgahi. Ya, setiap digunung aku melepas lelah dan sedikit mengendurkan urat saraf.

Evaluasi diri, curhat ataupun diskusi ringan selalu menemani aku dan sahabat-sahabat ku diatas gunung yang kami singgahi. Hawa dinginnya alam, jika terbawa arus sangat menjengkelkan. Tapi jika dinikmati, ya nikmat. Kedinginanan itu ku lampiaskan dengan meminum kopi atau bandrek. Ya, semanjak pertengahan kuliah aku sudah tak mau meminum Alkohol lagi, emm insyap kali ye.





Makanan khas yang selalu kami buat di pegungunan itu adalah nasi liwet. Nasi liwet itu biasanya ditemani dengan ikan asin dan sambal yang cukup pedas buatan ku sendiri. Ya, selama ini aku lebih banyak tidak percaya kepada orang lain yang membuatkan sambel. Emm..buatan orang lain selalu saja ku rasakan tidak pas dengan selera ku.Ekspresi Si BAku masih ingat, saat-saat yang tak bisa ku lupakan karena tingkah laku kekonyolan sahabat ku. Sahabat yang satu ini orangnya sangat unik, aku tidak mau menyebutkan namanya karena khawatir akan membawa dampak buruk bagi citranya. Tapi untuk memperjelas panggil saja sahabat ku itu bernama B.

Saat itu kami sedang melaksanakan pelantikan anggota baru organisasi pers mahasiswa. Malam hari yang dingin beberapa anggota baru beserta para seniornya termasuk aku berjalan mengitari perbukitan sambil meneriakan yel-yel yang dibuat anggota baru. Kami selalu berhenti di setiap pos-pos yang terbagi menjadi beberapa bagian. Misalnya ada pos ideologi, pos motifasi, pos kebebasan berekspresi dan pos-pos lainnya. Dalam pos kebebasan berekspersi, semua anggota baru dibebaskan mengeluarkan ekspresinya. Ekspresi itu ada yang keluar dengan wujud orasi, pembacaan puisi, sampai teriakan-teriakan yang nggak jelas. Saat semua anggota baru mengeluarkan ekspresi-ekspresinya, para senior berdiri dibelakang mereka sambil memprovokasi agar mereka terus-menerus mengeluarkan ekspresinya.

Si B berdiri disebelah ku, wajahnya tampak seperti menahan sesuatu. Aku tidak terlalu banyak memperdulikannya karena aku lebih pokus kepada apa yang diekspresikan anggota baru. “Huh...sakit perut neh, pengen boker, dimana ya?” ucap si B yang langsung pergi dari sebelah ku. Aku masih saja tidak terlalu memperdulikannya. Tapi aku sempat melihat Si B itu pergi ke arah semak-semak yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berkumpul. Aku melihatnya sampai ditelan oleh gelapnya malam.



Acara masih berlangsung, para anggota baru masih mengeluarkan kebebasan berekspresinya dengan meneriakan kekesalan-kekesalan atau unek-unek yang ada dalam dirinya. Tak lama kemudia bau menyengat tercium oleh hidung ku. Ternyata bukan aku saja yang mencium bau itu, para senior dan anggota baru pun terlihat mencium bau itu. Teman-teman ku mulai berkata-kata mengenai bau itu. “duh..siapa yang kentut neh, bau bener” kata Komeng. “emm...ini kayanya bau kentut orang yang belum mandi tiga hari” kata Ipong. Aku diam saja meskipun aku tau bau itu bersumber dari mana. Aku hanya bisa tertawa dalam hati.

Meskipun bau masih menyengat tapi acara tetap berlangsung. Aku duduk di rumput bersama Komeng dan Ipong. Komeng yang membawa senter mencoba menyoroti-nyoroti disekitar tempat itu. “eh..itu si B lagi ngapain ya” ucap Komeng sambil menuduhkan sesuatu pada semak-semak dengan senternya. Remang-remang terlihatlah wajah Si B yang tengah asik berjongkok. Tak lama kemudian si Komeng langsung tertawa terbahak-bahak. Aku dan si Ipong pun lagsung menyusulnya tertawa lepas. Dengan sifat kejahilan Si Komeng yang sudah sangat terkenal, dia langsung mendekati si B dan langsung menyorotinya sambil menertawakannya dengan lepas. Begitu juga si Ipong pun langsung mendekatinya. Atas kejahilan kedua teman ku itu, mereka mengumumkan kepada semua yang ada disana bahwa Si B tengah boker. Bahkan si Ipong langsung memberikan julukan pada si B dengan nama “DORAT” yang artinya Modol Darat alias boker di darat.

Sampai keberangkatan pulang, kita masih membicarakan kejadian itu sambil di iringi tertawaan yang tidak habis-habisnya. Si B dengan santainya beralasan, “dari pada boker dalam celana, ya mending di daun..hehehe..” katanya. Julukan DORAT masih saja dilontarkan beberapa teman ku dalam perjalanan pulang.
------------------------------------------------------------------------------------------------



Mohon Keadilan Hati

Hargailah diri ku, seharga aku menghormati diri mu. Maka bunga keadilan cinta akan memekar dalam taman hati yang luas, seluas samudra yang tak tampak daratan. Kekasih ku. Bukan kehendak ku untuk menjadi gila akan kehormatan. Kekasihku. Aku hanya ingin menegakan keadilan dalam dimensi jiwa. Kekasih ku, adalah suatu kesadaran, jika kita menganggap bahwa bunga keadilan cinta itu hidup dari benih kepercayaan dan kesetiaan. Tapi bunga itu akan layu, kemudian mati. Jika kita bisa dikendalikan oleh angkuhnya penghianatan.

Memikirkan tentang pernihkahan, mungkin wajar ku lakukan di usia ku yang sudah 24 tahun ini. Ya, sekarang aku hanya bisa memikirkannya saja. Sedangkan untuk mewujudkan pernikahan..huh..aku belum punya modal.

Aku sering merasa bahagia, jika aku melihat seorang nenek-nenek dan kakek-kakek berduaan berjalan mesra. Bahagia bercampur bangga. Kemudian aku selalu bertanya dalam hati,”Apa yang membuat kesetiaan mereka tetap kokoh hingga di usia senja?”. Bahkan lebih salut lagi, aku melihat adanya manusia yang saling mengikat kesetiaan seumur hidup.

Rasa bahagia, bangga dan salut yang hinggap dalam hati ku terkadang menuaikan perasaan pesimis. Ya, terkadang aku pesimis, mampukah aku melanggengkan kesetiaan sampai akhir hidup kepada pasangan hidup ku kelak? Terkadang, agar rasa pesimis itu dapat terkendali. Aku hanya bisa pasrah. Menggantungkan segalanya kepada keputusan dan kehendak Tuhan. Pasrah, karena aku terkadang manganggap cinta itu misteri.

Pasarah. Tapi sebelum pernikahan yang ku dambakan itu terjadi. Pada saat berpacaran, mungkin aku hanya bisa berharap:
“Jika hubungan kita ingin mewujudkan pernikahan, kita tidak ingin berakhir dengan perceraiaan. Tapi jika berakhir dengan perceraiaan, sebaiknya kita dijauhkan dari mulai sekarang. Jika kita disaat pernikahan kelak, tidak bisa saling menerima apa adanya. Sebaiknya kita dijauhkan dari sekarang. Jika diantara kita setulusnya saling mencintai. Kuatkanlah kesetiaan kita seumur hidup”
Harapan semacam itu, dilandasi oleh pandangan ku yang memandang bahwa pacaran itu bukan hanya sebatas suka-suka. Karena dalam dimensi cinta itu terdapat suka-duka, kecewa-bahagia dan berbagai emosi lainnya. Aku memandang pacaran itu sebagai suatu wahana pendewasaan berpikir. Karena dalam pacaran itu sangat dominan terdapat tindakan yang memainkan emosi. Maka disanalah aku belajar berpikir jernih dalam kondisi emosional. Disanalah aku harus selalu siap bagaimana menghadapi suatu masalah yang setiap saat datang dan tak bisa dihilangkan. Ya, berbagai masalah itu memang tak bisa dihilangkan, melainkan hanya bisa diatasi semampunya.
Cinta dan kesetiaan sepertinya tidak akan berarti apa-apa bila cinta dan kesetiaan itu hidup tanpa kepercayaan. Ya, kepercayaan itu mahal harganya karena saling mempercayai dalam kasih sayang merupakan sumber kebahagiaan. Ya, sumber kebahagiaan, bagaikan sumber air yang tidak akan pernah habis. Huh..aku begitu tersiksa bila aku tengah dirundung kegelisahan kerena kecilnya nilai kepercayaan terhadap orang-orang yang aku sayangi. Ya, memang kasih sayang dalam pandangan ku terkadang absurd. Tapi aku tak pernah jera bergumam dan berproses masuk dalam lingkaran kasih sayang.
Bandung, 15 Juli 2006
------------------------------------------------------------------------------------------------




Pertama Kalinya Aku Berada di Makasar

Malam hari aku dan kawan seperjuangan ku Hendara tiba di Bandara Hasanudin Makasar. Baru pertama kali aku menginjakan kaki di Makasar – Sulawesi Selatan. Aku kebingungan mencari Universitas Hasanudin (Unhas). Kata teman ku Unhas itu berada di kota Ujung Pandang, sedangkan yang lainnya banyak yang mengatakan bahwa Unhas itu berada di kota Makasar. Aku dan Hendra tidak mau merepotkan panitia Kongres di Unhas untuk menjemput kami di Bandara. Kami langsung berinisiatif bertanya kepada polisi yang tengah berjaga di pos. Polisi memberitahukan kami untuk menaiki dua angkot ke arah Unhas.

Akhirnya kami pun sampai juga di Fakultas Hukum Unhas. Suasana sepi dikampus itu sangat membingungkan. Tapi Hendra langsung menelpon salah satu panitia yang dikenalnya. Tak lama kemudian 3 orang panitia kongrespun datang dan mengantar kami ketempat peserta kongres menginap. Dalam perjalanan aku mengobrol dengan salah seorang panitia. Disanalah aku baru tau bahwa antara kota Makasar dengan Ujung Pandang itu sama. Katanya sih Ujung Pandang itu nama kota dahulu, sedangkan sekarang namanya Makasar.

Udara di Makasar sangatlah panas. Sungguh sangat berbeda jauh dengan kota yang ku tempati di Bandung yang udaranya sangat dingin. Makasar, aku suka kota itu. Makanan khas yang unik dan terkenang namanya coto Makasar. Minuman kerasnya yang aku kenal namanya Balo. Sedangkan minuman penghangat tubuh kalau gak salah bernama saraga. Minuman saraga itu kalau di Bandung sama dengan bandrek. Disana aku bingung ketika aku makan goreng pisang sambil disuguhi sambel. Entah apa nama goreng pisang itu, yang jelas aku merasa aneh ketika makan goreng pisang sama sambel. Ya, itu mungkin ciri khas makan goreng pisang di Makasar, dan kurasakan enak juga, disaat lapar.




Aku pergi ke Makasar untuk mengikuti Kongres Nasional Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan Seminar Nasional tentang HAM yang diselenggarakan pada 23-27 Maret 2006. Waktu itu, aku merupakan perwakilan dari PPMI Dewan Kota Bandung yang kebetulan akulah yang mengetuainya. Sedangkan Hendra kawan ku yang sama berasal dari Bandung merupakan perwakilan dari Dewan Etik Nasional PPMI. Kongres Nasional PPMI dan Seminar HAM itu berjalan dengan lancar seiring dengan proses regenerasinya.

Souvenir Seksi
Kenangan konyol aku bersama para peserta kongres di Makasar adalah ketika kami tukar-menukar bahasa kasar masing-masing daerahnya. Ya, bahasa kasar itu ku anggap sebagai souvenir. Aku dari Bandung, memberikan souvenir bahasa khas yaitu, “Anjing” kata umpatan yang digunakan kaum muda. Arek-arek Surabaya memberikan souvenir bahasa yang khasnya, “jiangcuk” yang artinya sampai sekarang aku belum tau, yang aku tau hanya umpatan disaat kesal. Kawan-kawan dari Yogyakarta memberikan souvenir bahasa, “Asu” yang artinya anjing – digunakan untuk mengumpat sesuatu kekesalan. Kawan dari Cirebon memberikan souvenir dengan kata “kirik” yang artinya anak anjing. Kawan dari Padang memberikan souvenir dengan kata, “pantek” yang artinya pantat. Ya, kata-kata kasar dari daerah tertentu itu sebenarnya masih banyak, tapi aku lupa. Ya, itu ku anggap sebagai souvenir yang seksi.

Setelah selesai kongres dan seminar aku diajak ke tempat-tempat pariwisata yang terdekat dengan kota Makasar. Aku diajak ke daerah Maros yang disana terdapat taman kupu-kupu dan Goa yang namanya aku lupa. Aku disana membeli suvenir sebuah gantungan kunci kupu-kupu untuk teman-teman ku di Bandung.

Selain ke daerah Maros, aku juga di ajak pergi kepantai Losari. Di pantai itu aku hanya bisa merenung sambil menikmati angin mamiri. Ya, kota Makasar sangat terkenal dengan nama kota angin mamiri yang artinya semilir angin yang lembut dan tenang (kalau gak salah). Didekat pantai losari itu aku pun mendatangi benteng bersejarah bernama roter dam (maaf kalau salah tulis..hehe..).

Meskipun di kota itu cukup panas, tapi aku betah tinggal disana. Yang aku tahu, kawan-kawan dari Makasar itu memiliki karakter yang keras namun memiliki sikap persaudaraan yang tergolong tinggi. Yang membuat aku salut, kawan-kawan dari Makasar kebanyakan sangatlah religius. Ya, itulah secuil kisah ku di kota Makasar.
Makasar, 28 Maret 2006
---------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------
Kota Semarang yang Ku Singgahi

Semarang kota yang amat panas, maklum dekat pantai. Dalam sehari dikota ini aku berani mandi sampai 3 kali. Padahal kalau di Bandung, aku hanya berani sekali saja untuk mandi, itupun kalau ingat dan ada kuliah. Tapi kalau kuliahnya pagi jelas aku malas mandi. Jelas di kota ini aku berubah, kalau saja kawan-kawan dikampus ku tau kalau aku setiap hari mandi sampai 3 kali, pasti mereka akan bilang, "Ari perubahan mu sunguh luar biasa". Kalau saja disana sedang hujan mereka pasti bilang "pantas saja hujan, soalnya kamu mandi sih ri", kira-kira seperti itulah mereka akan berkata-kata.

Tadi aku makan murah meriah, bayangkan ayam bakar dan nasi yang biasanya diBandung seharga Rp.6000 perak bahkan lebih, disini aku bisa menikmati ayam bakar seharga Rp.3000 perak. Dikota ini juga aku kenal dengan yang namanya nasi kucing, kemarin aku sempat membelinya seharga 1000 perak, "Diwarung pendekar" kata Hendra teman seperjuangan ku. Ia mengatakan warung pendekar karena bentuk warungnya yang mirip difilm-film kerajaan jawa dulu. Film yang sering ia tonton dilayar tancep, atau dimisbar alias gerimis bubar. Jelasnya film yang selalu dibintangi oleh aktor Beriprima, katanya.

Dikota Semarang ini aku mulai kenal lebih dalam tentang Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI). Aku mengikuti Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PPMI selama semingu lamanya. Aku berangkat ke kota ini bersama kawan-kawan seperjuangan ku, Hendra (FISIP Unpas), Rosmanita (FISIP UNPAS), Anis (UIN Bandung), Bima (UPI), dan Najib (UPI). Dalam Mukernas itu aku membacakan padangan umum PPMI Dewan Kota Bandung.
Dikota Semarang itulah aku mulai bersemangat untuk masuk menjadi pengurus PPMI. Aku melihat pengurus maupun anggota PPMI memiliki idealisme yang teramat kental. Hal itu terekspresikan dalam media-media yang diterbitkannya maupun aktivitas-aktivitas yang dilaksanakannya. Aku sangat sepakat dengan jurnalisme kerakyatan yang di usung oleh PPMI. Ya, Jurnalisme kerakyatan memang sangat dibutuhkan disaat media-media dominan memperlihatkan pluralitas watak yang hanya berorientasi pada pasar semata. Ya, semoga dengan jurnalisme kerakyatan bisa membentuk masyarakat ilmiah dan demokratik.

Sore hari yang cerah, aku sudah berada dalam bis untuk keberangkatan pulang menuju Bandung. Dalam bis aku hanya bisa melamun sambil menikmati indahnya pemandangan disekitar jalan. Emm..itulah kebiasaan ku kalau naik bis, aku sangat senang melihat pemandangan. Makanya setiap didalam bis, aku pasti duduk disebelah kaca jendela. Sampai jumpa lagi kota Semarang.

Semarang, 3 Mei 2004
22.00 WIB

Tuesday, July 04, 2006

Pengamatan Terhadap Media


Perlawanan Simbolik Gus Dur dalam Pemilu 2005

Oleh Ariyandi Gunawan

Menjelang pemilihan presiden 5 Juli 2004, arus politik semakin memanas. Masih ingat dengan kejadian di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makasar (01/4), dan munculnya gerakan-gerakan anti militerisme. Muncul dua calon presiden bergelar purnawirawan TNI (Tentara Nasional Indonesia) Sosilo Bambang Yudoyono dari Partai Demokrat (PD) dan Wiranto dari Partai Golongan karya (Golkar). Ini semakin memperkuat indikasi bahwa kebangkitan militerisme telah didepan mata. Sejarah membuktikan bahwa kediktatoran militer mampu menutup keran demokratisasi. Lihatlah pada waktu pemerintahan orde baru. Jadi kalau militer bangkit kembali, tidak tertutup kemungkinan bahwa rezim fasis orde baru akan berkuasa kembali.

Isu bangkitnya militerisme dan orde baru sampai saat ini masih menjadi sorotan besar pihak yang pro terhadap demokratisasi. Ini beriringan dengan masih hangatnya isu kebangkitan militerisme. Munculah fenomena yang menarik, ketika Gus Dur ngotot dalam bursa pemilihan presiden.Ini berawal pada saat pemeriksaan kesehatan calon presiden yang dilaksanakan (29/4) di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Jakarta. Gus Dur menyatakan optimismenya dan pemeriksaan kesehatan yang dijalaninya tidak ada masalah. Namun kenyataan berpihak lain. Komisi Pemilihan Umum (KPU) lewat surat tertutup menyatakan, Gus Dur tidak memenuhi syarat kemampuan rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas sebagai presiden. Dari hasil pemeriksaan tim dokter Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Gus Dur masuk kategori Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Setelah itu Gus Dur menyatakan akan menggugat KPU secara hukum jika ditolak untuk mengikuti pemilihan umum presiden RI. Upaya hukumpun dilakukan oleh Gus Dur dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melalui Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA). Menolak permohonan Judicial review atas UU Pilpres No.23/2003 dan SK KPU No.26/ 2004 tentang tata cara pencalonan calon preiden dan calon wakil presiden.

Tampaknya Komisi Pemilihan Umum (KPU) kurang memperdulikan gugatan Gus Dur tersebut. Lewat rapat pleneo (22/5) satu-satunya pasangan yang tidak diloloskan KPU adalah Gus Dur dan Marwah Daud Ibrahim. Setelah keluar keputusan itu, Gus Dur langsung menuntut KPU dengan meminta ganti rugi sebesar Rp. 1 Triliun dan juga akan menempuh jalur pidana dengan tuduhan pencemaran nama baik. Gus Dur tetap berpegangan teguh pada UU No 4/1997 tentang Penyandang Cacat, yang antara lain menyebutkan pemberian peluang kepada penyandang cacat untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.

Itulah Gus Dur aneh, namun kadang-kadang ada benarnya juga. Tapi bagaimana dengan penilaian sebagian besar masyarakat Indonesia, yang kapasitas pendidikan politiknya lemah? Mampuhkah mereka mengetahui tindakan Gus Dur sebenaranya? Sepertinya ragu untuk menjawab mampu. Karena kecenderungan masyarakat Indonesia hanya tahu pemimpinnya dilihat dari kapasitas personal dan citra yang ditampilkannya. Maksudnya, peran figur seorang pemimpin dapat diterima secara jangkauan indrawinya saja. Bahwa segala sesuatu tampak apa adanya. Misalnya, pada masa pemerintahan orde baru Soeharto tampak dekat dengan petani melalui program kelompecapir-nya. Begitu juga dengan Megawati sebelum ia menjabat sebagai presiden. Ia tampak berpihak pada rakyat kecil dengan slogan " Wong Cilik". Tindakan tersebut memberikanya citra yang positif dimata masyarakat pada waktu itu, dan kemenanganpun berada ditangannya.

Muncul sebuah keganjilan dalam tindakan Gus Dur saat ini. Yang harus manjadi catatan bagi masyarakat prodemokrasi yang anti militerisme. Agus Muhamad dalam artikelnya yang berjudul "Perlawanan simbolik Gus Dur" menegaskan, "Fenomena ngototnya Gus Dur lebih merupakan perlawanan simbolik untuk memberikan pembelajaran demokrasi ketimbang sebuah ambisi untuk meraih kekuaaan yang pernah lepas dari tangannya. Hal yang sama dapat dilihat pada keterlibatan Gus Dur dalam aliansi menolak hasil pemilu. Penolakan tak lebih dari perlawanan simbolik untuk menunjukkan, pemilu berlangsung tak bersih, banyak kecurangan dan harus menjadi catatan bagi kita semua."(Kompas 22/5). Asumsi semacam inilah yang harus dibantah oleh masyarakat prodemokrasi yang antimiliterisme.

Bukan pembelajaran demokrasi
Suatu simbol muncul ketika terjadinya rekayasa peristiwa, sebagai stimulus yang mengarah pada suatu makna tertentu. Dalam hal ini makna yang dapat diambil adalah sebuah pembelajaran demokrasi. Layaknya sebuah simbol adalah suatu stimulus yang dapat memberikan tanggapan. Sesuai dengan hukum belajar yang ditemukan oleh Thorndike di Universitas Colmbia New York, Amerika Serikat, hukum belajar adalah dialektika antara stimulus (rangsangan) dan respon (tanggapan).

Merujuk kepada teori tersebut, maka secara tidak langsung tindakan Gus Dur justru tidak dapat dikatakan sebagai perlawanan simbolik untuk pembelajaran demokrasi. Sebab, sampai saat ini respon yang signifikan belum tampak. Kalau memang pembelajaran demokrasi itu dapat diterima oleh rakyat, maka secara langsung mereka akan menanggapinya. Mengecam KPU yang dinilai Gus Dur tidak demokratis karena menolak pencalonan dirinya. Begitu juga banyak rakyat yang akan mendukung penggabungan diri Gus Dur dengan aliansi menolak hasil pemilu.

Simbol atau citra yang mengubur pengharapan
Simbol adalah suatu rangsangan yang mengandung makna dan nilai yang dipelajari bagi manusia, dan respon manusia terhadap simbol adalah dalam pengertian stimulasi fisik dari alat-alat indranya (Dedi Mulyana -Metodologi Penelitian Kualitatif ). Di sana dapat dikatakan bahwa suatu simbol dapat mangarah pada hal-hal yang subtansial. Pembelajaran demokrasi adalah sebuah hal yang subtansial. Ini berarti tindakan Gus Dur atau perlawanan sibolik Gus Dur benar-benar mengarah pada hal tersebut. Namun tanggapan rakyat terhadap tindakan Gus Dur belum tentu mangarah pada nilai yang subtansial, karena tanggapan yang muncul hanya pada stimulasi fisik dari alat-alat indranya. Dengan demikian yang paling pertama dan dominan diterima secara stimulasi fisik dari alat indra adalah sebuah citra.

Citra membantu memberikan alasan yang dapat diterima secara subjektif tentang mangapa segala sesuatu hadir sebagaimana tampaknya tentang referensi politik, dan tentang penggabungan dengan orang lain (Dan Nimmo - Komunikasi Pilitik). Citra Gus Dur dapat memberikan alasan mengapa ia ngotot di bursa calon pemilihan perisden. Bisakah alasan dari tindakan Gus Dur tersebut diterima sebagai pembelajaran demokrasi? Jawabannya, tidak sama sekali, karena citra hanya muncul pada stimulasi fisik dari alat-alat indra saja. Dengan demikian tanggapan rakyat terhadap Gus Dur tidak akan mengarah pada nilai subtansial.
Gus Dur adalah sorang pemimpin politik dan mencalonkan diri sebagai presiden. Sebagaimana figur seorang pemimpin, layaknya memberikan pengharapan yang lebih baik pada rakyatnya. Lantas pengharapan apa yang dapat diterima oleh rakyat ketika rakyat menilai tindakan Gus Dur pada tataran citra personalnya? Pengharapan berkaitan dengan aspek konatif, atau kecenderungan citra personal dan proses interpretative yang oleh para psikolog kadang-kadang disamakan dengan gerak hati, hasrat, kemauan, dan dorongan. Pengharapan personal paling penting dalam politik atau penampilan pemimpin berdasarkan apa yang diharapkannya akan terjadi. Jika pengaharapan itu tinggi dan peristiwa atau perbuatan pemimpin tidak sesuai dengannya, orang kecewa atau meremehkan politikus (Dan Nimmo -Komunikasi Politik).
Apa yang diharapkan masyarakat sudah jelas menginginkan figur pemimpin yang dapat memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya. Namun mereka melihat Gus Dur terlibat dalam aliansi menolak hasil pemilu. Citranya dapat diterima rakyat bahwa tindakan Gus Dur telah mengubur pengharapan rakyat yang tengah mengalami keterpurukan yang belum terhenti. Masyarakat sudah lelah dengan kondisi keterpurukan yang tengah mereka alami sekarang. Apakah dengan menolak hasil pemilu dapat mengobati keterpurukannya? Lantas apa tujuan Gus Dur sebenaranya?

Secara simbolik dan bagi kalangan intelektual yang menilainya secara subtansial, boleh dikatakan dapat menciptakan iklim demokrasi yang dinamis. Akan tetapi persoalan "perut" rakyat pasti lain cerita. Persoalannya, tindakan Gus Dur tersebut ditujukan untuk siapa? Kalau untuk masyarakat yang awam dengan politik jelas-jelas tindakan tersebut dapat merugikan. Akan tetapi bagi kaum intelektual mungkin hal tersebut ada pengecualian lain.
Citra Gus Dur dan kebangkitan militerisme.

Citra kedua calon presiden dari purnawirawan TNI (Tentara Nasional Indonesia) Wiranto dan Susilo Bambang Yudoyono dapat memperkuat indikasi bahwa militerisme bangkit kembali. Meskipun tidak secara subtansial, hal tersebut dapat diterima sabagian rakyat. Menurut Yasraf dalam bukunya yang berjudul, Hipersemiotika, citra merupakan sesuatu yang tampak oleh indera, akan tetapi tidak memiliki eksistensi subtansial. Citra tersebut tidak mungkin mau diterima oleh kedua orang calon presiden bergelar purnawirawan TNI, mengingat kesan militerismenya sangat kental. Usai undian nomor urut pasangan calon presiden dan calon wakil presiden di KPU (12/5), para calon presiden dan calon wakil presiden diminta memferivikasi nama mereka. Ejaan, gelar, dan pangkat mereka pun diperikasa. Mereka yang pengsiunan tentara atau purnawirawan Wiranto dan Susilo Bambang Yudoyono begitu juga dengan calon wakil presiden Agum Gumelar, meminta gelar purnawirawannya tidak dicantumkan. Dengan kata lain mereka sengaja melakukan hal itu guna meminimalkan kesan militerisme.
Bagaimana dengan Gus Dur? Seorang Gus Dur tentunya mewakili calon presiden dari sipil. Bila Gus Dur berpihak pada rakyat sipil tentunya akan meredam kekhawatiran bangkitnya kembali kekuasaan yang berbau militeristik. Namun semua itu jadi kebalikannya. Citra yang dibangun oleh Gus Dur tidak berpihak pada citra sipil.

Fenomena Ngotot-nya Gus Dur di bursa calon pemilihan presiden berakhir dengan gugatan tersebut. Ini memperkuat indikasi bahwa citra Gus Dur tidak lagi berpihak kepada masyarakat sipil. Perlawanan simbolik Gus Dur untuk pembelajaran demokrasi kepada rakyat tidak dapat diterima. Berarti bias citra yang ada, mengarah pada perusakan citra prilaku sipil. Otomatis ketika Gus Dur tergabung dalam aliansi menolak hasil pemilu adalah bentuk pembusukan citra sipil, karena citra sipil tampak sewenang-wenang terhadap peraturan yang berlaku. Begitu juga hal itu memberikan kesan yang tidak memikirkan kondisi bangsa yang masih berada pada posisi keterpurukan. Dengan demikian, Gus Dur telah membantu kedua purnawirawan itu untuk berkuasa. Atau dengan kata lain, Gus Dur telah memberikan ruang bagi bangkitnya militerisme. Hal tersebut terlepas dari pembelajaran demokrasi, karena alasan klasik seperti itu tak akan pernah hilang ketika seorang politisi kepepet kehilangan langkah strategis. Indikasi Gus Dur dalam mendukung kebangkitan militerisme semakin kuat. Buktinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau partainya Gus Dur memberi dukungan terhadap pasangan Wiranto yang dinyatakan dalam rapat pleno Dewan pengurus pusat PKB di Jakarta, baru-baru ini.

PEMBERITAAN RUBRIK METROPOLITAN
DI HARIAN UMUM KOMPAS JAKARTA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada era globalisasi sekarang ini, arus informasi yang aktual, akurat dan terpercaya merupakan sesuatu yang sangat di butuhkan. Kebutuhannya itu dapat terpenuhi bila mengkonsumsi produk media massa dan atau jurnalistik, baik cetak maupun elektronik.
Media massa memiliki peranan yang sangat penting dan berpengaruh terhadap setiap perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Karena media massa berfungsi sebagai media komunikasi penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan mengenai berbagai informasi yang dapat mengubah pikiran, perasaaan dan atau prilakunya.
Informasi saat ini semakin marak dan banyak tantangan yang akan dihadapi oleh kalangan media massa, oleh sebab itu semua industri media massa berpacu untuk mencapai kemajuan yang berkesinambungan untuk menggapai khalayak dalam hal menyampaikan informasi. Demikian sudah jelaslah bahwa kebutuhan akan informasi dan komunikasi sekarang ini dapat dirasakan sebagai hal yang mendasar.
Suatu perkembangan teknologi komunikasi telah membuat surat kabar, radio dan televisi bahkan internet menjadi ladang bisnis yang paling potensial untuk dikelola oleh kalangan masyarakat. Ilmu pengatahuan dan teknologi pun mengalami perkembangan. Sehingga teknologi komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat dan selanjutnya berpengaruh terhadap pola komunikasi masyarakat.
Sejalan dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi, industri surat kabar pun mengalami kemajuan. Hampir seluruh kalangan masyarakat menjadikan surat kabar sebagai suatu media informasi yang paling gampang untuk diperoleh dan di temukan. Pengertian surat kabar itu sendiri dalam hal ini merupakan kumpulan berita, feature, artikel, sastra, iklan dan sebagainya yang dicetak dalam lembar kertas ukuran plano, terbit secara teratur bisa setiap hari atau seminggu sekali.
Perkembangan keberadaan surat kabar telah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi. Persaingan industri surat kabarpun begitu ketat berlomba-lomba manjadi yang terbaik untuk memenuhi segala kebutuhan informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Berita merupakan segmen utama dalam sebuah surat kabar. Trend pemasaran sekarang menuntut penajaman segmen. Sehingga tidak heran, surat kabar dewasa ini lebih banyak mempertajam segmentasinya dengan berkonsentrasi di dalam scope lokal (propinsi, kabupaten, kota) karena kebutuhan pembaca tidak sedikit yang menyukai pemberitaan yang menyangkut kepentingan terdekatnya, baik secara geografis, fisikografis, demografis. Untuk memenuhi kebutuhan pembaca seperti itulah harian umum kompas menyajikan salah satu rubrik yang bernama Metropolitan. Rubrik tersebut secara khusus menyajikan berita-berita local (Jabotabek, depok dan serang).
Harian Umum Kompas yang berlokasi di Jl. Palmerah Selatan No. 26-28, Jakarta merupakan salah satu surat kabar terbesar di Indonesia yang memberikan beragam informasi atau berita Nasional, Internasional dan kedaerahan. Hal ini berarti bahwa tantangan dan potensi surat kabar Kompas sangat besar untuk bersaing dengan suarat kabar lain. Atas dasar keberadaan Kompas seperti itulah praktikan tertarik untuk mengatahui proses pencarian, pengolahan, serta penyajian berita terutama berita-berita lokal yang ada di dalam rubrik metropolitan. Sehingga segmen pemberitaan local Koran Kompas di rubrik metropolitan tersebut menjadi suatu sumber kajian bagi praktikan. Adapun kajian yang hendak praktikan buat itu mengacu pada judul: "PEMBERITAAN RUBRIK METROPOLITAN DI HARIAN UMUM KOMPAS JAKARTA".

1.2 Alasan Pemilihan Lokasi
Alasan pemilihan lokasi praktikan melakukan KKPT adalah di Haroan Umum Kompas adalah sebagai berikut:
HU Kompas merupakan salah satu surat kabar yang sudah berpengalaman dalam bidang jurnalistik media massa cetak khususnya pemberitaannya.
Pentingnya surat kabar dalam memberikan informasi khususnya informasi seputar pristiwa tentang aspek kehidupan Metropolitan.
Surat kabar merupakan arus informasi yang sangat penting dan merupakan seuatu kebutuhan bagi masyarakat, khususnya masyarakat metropolitan Jabotabek, dan Banten.
1.3 Maksud dan tujuan Kuliah Kerja Praktek Terpadu (KKPT)
Maksud paraktikan melaksanakan Kuliah Kerja Praktek Terpadu (KKPT) di Harian Umum Kompas adalah:
Sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah aplikasi jurnalistik pada jurusan ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan.
Mengatahui secara langsung proses pencarian, pengolahan, penyajian dan pemberitaan Rubrik Metropolitan di Harian Umum Kompas.
Menambah dan mengambangkan praktikan serta menerapkan teori-teori yang didapat selama masa perkuliahan ke dalam KKPT.
Tujuan praktikan melaksanakan kegiatan KKPT di Harian Umum Kompas adalah sebagai berikut:
Mengetahui bagaiamana kegiatan jurnalistik cetak, terutama dalam pencarian, peliputan, dan penyajian pemberitaan Rubrik Metropolitan di Harian Umum Kompas
Manambah pengetahuan tentang peraturan atau hokum pers sebagai bekal untuk terjun di dunia jurnalistik cetak
Mengatahui aktivitas dan program kerja jurnalistik cepat di Harian umum Kompas.
1.4 Kegunaan Kuliah Kerja Praktek Terpadu (KKPT)
Kegunaan pratikan melaksanakan KKPT di Harian Umum Kompas adalah sebagai berikut:
Mendapatkan pengalaman di bidang jurnalistik seperti meliput/ mencari berita dan wawancara.
Mengatahui karakter-karakter dari nara sumber sebelum di wawancara.
Mengetahu gaya tulisan surat kabar dalam pemberitaannya
Mengetahui proses pembuatan berita dari awal sampai berita di muat di surat kabar
Mendapat kepuasan sendiri saat berita praktikan di muat atau naik cetak
1.5 Jadwal Kegiatan
KKPT dilakukan di Harian Umum Kompas Jl. Palmerah Selatan No. 26-28, Jakarta. Sedangkan penelitian ini dilakukan, selama dua minggu epektif yakni mulai dari tanggal 4 April 2005 sampai dengan 16 April 2005, seperti terlihat pada Gambar Jadwal Kegiatan KKPT sebagai berikut:
Jadwal Kegitan KKPT

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Jurnalistik

Istilah jurnalistik bersal dari bahasa Belanda journalistiek. Seperti halnya dengan istilah bahasa inggris journalism yang bersumber pada perkataan journal, ini merupakan terjemahan dari bahasa Latin diurna yang berarti "harian" atau "setiap hari."Dari berbagai literatur dapat di kaji definisi jurnalistik yang jumlahnya begitu banyak, tetapi semuanya berkisar pada pengertian bahwa jurnalistik adalah suatu pengalolaan laporan harian yang menarik minat khalayak dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat.
Secara sederhana jurnalistik menurut Efendi dalam bukunya "Ilmu, Teori dan Filsapat Komunikasi". Adalah : "teknik mengelola berita mulai dari mendapatkan bahan sampai kepada menyebarluaskan kepada khalayak". (Effendi, 1993:95)
Apa saja yang terjadi di dunia apakah itu fakta peristiwa atau pendapat, yang di ucapkan seseorang, jika diperkirakan akan menarik perhatian khalayak akan merupakan bahan dasar bagi jurnalistik akan merupakan bahan berita untuk dapat disebarluaskan kepada masyarakat.
Jurnalistik merupakan kegiatan yang yang dilakukan dalam hubungannya dengan pengumpulan, penngolahan, dan penyajian berita. Definisi jurnalistik menurut Romli :
Proses kegiatan meliput, membuat, dan menyebarluaskan peristiwa yang bernilai berita (news) dan pandangan (views) kepada khalayak melalui saluran media massa (cetak atau elektronik)". (Romli, 1999: 69)
Definisi diatas menyatakan bahwa di dalam jurnalistik terdapat konsep kerja yang harus dilakukan, yaitu meliput dan membuat news dan views dan menyebarluaskannya kepada khalayak melalui media massa, baik cetak (surat kabar, majalah, tabloid, dan lain-lain) maupun elektronik (radio dan televisi). Jurnalistik mengutamakan kebutuhan dan keinginan khalayak, melalui segala yang berkaitan dengan teknik mengelola berita mulai mendapatkan bahan sampai menyebarluaskan.
2.1.1 Jenis-jenis Jurnalistik
Jurnalistik sebagai alat untuk mencari, meliput dan mengolah sebuah berita menyampaikan berita tersebut kepada masyarakat juga mempunyai jenis-jenisnya seperti yang tercantum di dalam "Garis Besar Haluan Redaksi" (GBHR) yang terdiri dari visi dan misi. Sedangkan visi dan misi itu mengacu pada jenis jurnalistik apa yang digarapnya, adapun jenis-jenis jurnalistik seperti yang dijelaskan oleh Malik yang dikutip oleh Romli di dalam bukunya "Jurnalistik Praktis" yaitu sebagai berikut:
Jazz journalism. Jurnalistik yang mengacu pada pemberitaan hal- hal yang sensasional, menggemparkan atau menggegerkan, seperti meramu gossip tau rumor.
Aversary journalism. Juranlistik yang membawa misi penentangan atau permusuhan, yakni beritanya sering menentang kebijakan pemerintah atau penguasa.
Government say to journalism. Jurnalistik yang memberitakan atau meliput apa saja yang disiarkan pemerintah layaknya Koran pemerintah.
Checkbook journalism. Jurnalistik yang untuk memperoleh bahan berita harus memberi uang pada sumber berita.
Alcohol journalism. Jurnalistik liberal yang tidak menghargai urusan pribadi seseorang atau lembaga.
Crusade journalism. Jurnalistik yang memperjuangkan nilai tertentu misalnya demokrasi, nilai-nilai islami atau nilai kebenaran. (1997:71)
Pada kamus jurnalistik ditemukan pula istilah-istilah atau jenis-jenis jurnalistik seperti berikut yang dikutip oleh Romli dalam buku "Jurnalistik Praktis" sebagai berikut:
Electronic journalism (jurnalistik elektronik), yakni pengetahuan tentang berita-berita yang disiarkan melalui media massa modern seperti film, televisi, radio dan sebagainya.
Junket journalism (jurnalistik foya-foya), yaitu praktik jurnalistik yang tercela, yakni wartawan yang mengadakan perjalanan jurnalistik atas biaya dan perjalanan yang berlebihan yang diongkosi oleh pengundang.
Gutter journalism (jurnalistik got), yaitu teknik jurnalistik yang lebih menojolkan pemberitaan tentang seks dan kejahatan.
Gossip journalism (jurnalistik kasak-kusuk), yaitu jurnalistik yang lebih menekankan pada berita kasak-kusuk dan isu yang kebenarannya masih sangat diragukan ("Koran gossip").
Development journalism (jurnalistik pembangunan), atau dalam istilah kita "pers pembangunan", yaitu jurnalistik yang mengutamakan peranan pers dalam rangka pembangunan nasional negara dan bangsanya. (1985:119)
Berdasarkan seluruh definisi yang dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa di dalam dunia jurnalistik harus mengungkapkan fakta atau pendapat yang mengandung berita, membela kebenaran dan keadilan dan menginformasikan fakta dan pendapat tersebut kepada masyarakat sesuai dengan fakta yang terjadi.

2.2 Pengertian Surat Kabar
Surat kabar merupakan media cetak yang tergolong popular dikalangan, terutama menengah ke bawah, Dalam Kamus Komunikasi, menurut Effendy surat kabar di artikan sebagai berikut:
"Lembaran tercetak yang membuat laporan yang terjadi di masyarakat dengan memiliki cirri: Terbit secara periode dan bersifat umum, yang isinya terbaru dan akurat, dan mengenai apa saja yang terjadi di seluruh dunia, dan mengandung nilai untuk di ketahui khalayak pembaca". (1989:241)
Dalam hal ini surat kabar terbit berdasarkan urutan waktu yang sesuai dengan sifat penerbitan, karena waktu terbit surat kabar akan menggolongkan surat kabar kepada jenis harian atau mingguan. Kemudian bersifat umum, yakni surat kabar ditujuakan kepada umum atau khalayak pembaca yang luas, bukan kepada khalayak khusus. Isinya yang memuat aspek kehidupan manusia dan semua yang ada di muka bumi.
2.2.1 Ciri-ciri Surat Kabar
Pada umumnya, kalau kita berbicara mengenai pers sebagai media cetak adalah dalam pengertia sempit, yakni ada tiga yang dapat juga di katakana sebagai syarat yang harus dipenuhi oleh surat kabar.
Effendy dalam buku "Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek" mengatakan tiga ciri surat kabar yaitu:
Publisitas
Bahwa surat kabar di peruntukan untuk umum: karenanya berita, tajuk rencana, artikel, dan lain-lain harus menyangkut kepentingan umum. Mungkin saja ada instansi atau organisasi, misalnya sebuah universitas, yang menerbitkan secara berkala dalam bentuk dan dengan kualitas kertas seperti harian umum, tetapi penerbitan tersebut tidak berpredikat surat kabar atau pers sebab di peruntukan khusus bagi sivitas akademika universitas tersebut.
Universalitas
Bahwa surat kabar harus memuat aneka berita dari kejadian-kejadian di seluruh dunia dan tentang segala aspek kehidupan manusia. Untuk memenuhi ciri- ciri inilah maka surat kabar melengkapi dirinya dengan wartawan-wartawan khusus mengenai bidang tertentu, menempatkan koresponden di kota-kota penting, baik di dalam negri untuk meliput berita-berita nasional maupun di luar negri guna meliput berita-berita internasional.
Aktualitas
Kecepatan penyampaian laporan mengenai kejadian di masyarakat kepada khalayak. Bagi surat kabar, aktualitas ini merupakan factor yang amat penting karena menyangkut persaingan dengan surat kabar lain dan berhubungan dengan nama baik surat kabar yang bersangkutan. (1984: 154)
Berdasarkan keseluruhan definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa berita-berita yang memuat kejadian atau peristiwa yang bersifat aktual, layak untuk disampaikan bagi kepentingan umum.
2.3 Pengertian berita
Berita merupakan salah satu jenis atau bentuk jurnalistik yang menjadi sajian utama sebagain besar media massa, disamping Views (opini, pendapat) dan hiburan, oleh sebab itu penyajian berita mulai dari mencari, mengolah sampai dengan menyebarluaskan melalui media. Karena menyebarluaskan merupakan tugas pokok jurnalis atau reporter atau wartawan.
Pengertian berita merupakan laporan mengenai peristiwa yang terjadi kini, dengan kata lain yaitu laporann mengenai peristiwa yang baru terjadi dan yang di laporkan harus benar dan berdasarkan fakta yang actual.
Wiliam S. Maulsby, yang dikutip oleh Djuroto dalam bukunya Manajemen Penerbitan Pers, menyatakan berita adalah:
"Berita adalah, sebagian suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta, yang mempunyai arti penting dan baru terjadi yang dapat menarik perhatian pembaca kabar yang memuat berita tersebut"(2000: 47"
Dari definisi di atas dapat di katakan, bahwa berita-berita itu adalah uraian atau peristiwa-peristiwa yang terjadi atau fakta kepada masyarakat secara benar dan dapat di percaya serta mempunyai arti penting dalam suatu berita dan dapat menarik perhatian atau minat pembaca surat kabar, dan suatu berita tersebut harus memiliki nilai berita yang sangat penting dan apakah berita tersebut layak untuk di muat atau tidak karena dalam berita harus mengandung unsur 5W+1H (What/ apa yang terjadi, Where/ dimana hal itu terjadi, When/ kapan peristiwa itu terjadi, Who/ siapa yang terlibat dalam kejadian itu, Why/ kenapa hal itu terjadi , dan How/ Bagaimana peristiwa itu terjadi).
Assegaf yang di kutip oleh Djuroto dalam buku "Manajemen Penerbitan Pers", yaitu sebagai berikut:
"Berita adalah sebagai laporan fakta atau ide yang termasa dan terpilih oleh redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang kemudian dapat menarik perhatian pembaca, entah kerena luar biasa, karena penting atau akibatnya, karena penting atau akibatnya, karena mencakup segi-segi human inters seperti humor, emosi, dan ketegangan". (2000: 47)
Pengertian pendapat di atas diketahui bahwa berita merupakan hal yang pokok didalam penerbitan pers oleh karena itu, berita dalam setiap penerbitan pers sangatlah penting di samping rublik lain yang ada di dalamnya.
Dalam bukunya yang berjudul "Dasar-dasar Jurnalistik Radio dan Televisi", menyatakan bahwa:
"Berita adalah uraian tentang peristiwa atau fakta dan atau pendapat, yang mengandung nilai berita, dan yang sudah di sajikan melalui media massa periodik". (Wahyudi, 1996:27).
Informasi yang mengandung nilai berita dan di olah sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada pada ilmu jurnalistik dan telah disajikan kepada khalayak melalui media massa periodik baik cetak maupun elektronik dapat di katakan sebagai berita.
Semua definisi yang menurut para pakar komunikasi tersebut mengenai berita. Pada kanyataannya berita sangat terkait dengan suatu peristiwa yang menarik khalayak dan bersifat informatif. Hal ini merupakan suatu keunikan dari berita, dimana proses penyampaiannya sangat akurat dan berdasarkan fakta yang ada dilapangan serta dilihat langsung oleh jurnalis tersebut yang pada akhirnya disampaikan melalui media.
2.4 Nilai berita
Menurut Effendy dalam Buku Dinamika Komunikasi mengungkapkan bahwa nilai berita (news value) ditentukan oleh sepuluh komponen utama. Semakin banyak komponen dalam suatu berita, akan semakin besar minat pembaca. Kesepuluh komponen tersebut adalah sebagai berikut.
Minat diri (self interest)
Ini bersangkutan langsung dengan kepentingan pembaca, seperti keluarga, pekerjaan, kekayaan, hobi dan sebagainya.
2. Uang (money)
Hidup manusia tidak terlepas dari soal uang.karenanya akan sealalu menarik. Peraturan kenaikan gaji, SPP, korupsi, perampokan bank, dll, akan menarik untuk dibaca.
3. Seks
Masalah seks menyangkut semua orang. Karenanya kan selalu menarik perhatian untuk dibaca. Bintang film, ratu kecantikan,wadam, wanita tuna susila, Dll, kesemuanya itu merupakan bahan berita yang bisa menraik
minat.
4. Pertentangan (conflict)
Berita m,engenai pertentangan akan merupakan jaminan untuk memperoleh pembaca yang banyak jumlahnya. Contoh mengenai berita pertentangan ialah berita perang, kampanye politik, pemogokan, olahraga kontes kecantikan, pemeriksaan dipengadilan, dan sebagainya.
5. Minat insani (human interest)
Seperti telah disinggung tadi, berita human interest ialah yang menyentuh rasa manusiawi, yang menimbulkan rasa aneh, takjub, gembira, ngeri, sedih, terharu, dan lain-lain. Yang dapat menimbulkan perasaan seperti itu terutama manusia, selain kadang-kadang binatang. Penderitaan sebuiah keluarga yang anaknya lumpuh semuanya, kehidupan seorang pelawak, pengalaman seorang penjaga mercu suar ditengah laut, akan merupakan berita menarik.
6. Ketegangan (suspense)
Berita-berita yang membuat kita ingin mengetahui apa yang akan terjadi sering kali membangkitkan minat yang terus-menerus. Berita semacam itu adalah mengenai kisaah-kisah petualangan, penyelidikan, atau yang menyangkut pertolongan kepada orang yang ditimpa bencana, seperti umpanya pekerja tambang yang tertimbun.
7. Kemashuran (fame)
Orang termashur bukan saja"membuat berita" (make news), tetapi ia sendiri adalah berita. Khalayak akan tertarik oleh apa yang dikatakan atau apa yang dilakukanorang yang namanya harum.
8. Keindahan (beauty)
keindahan mencakup berbagai hal yang dapat menarik minat pembaca, keindahan bukan saja mengenai manusia, seperti paras yang cantik, tubuh yang bagus, suara yang merdu, atau pakaian yang serasi, tetapi juga mengenai keindahan alam, rumah, dan sebagainya.
9. Umur (age)
Peristiwa yang menyangkut anak atau seorang yang lanjut usiannya akan menarik minat pembaca. Seorang menteri yang berusia sangat muda, anak umur sembilan tahun yang mengandung, kakek yang berumur 100 tahun lebih, akan merupakan bahan berita yang akan mengundang perhatian pembaca.
10. Kejahatan (crime)
Kejahatan selalu menarik minat pembaca. Kalau surat kabar banyak menyaiarkan berita kejahatan, karena pembaca memang menyukainya. Tidak mengherankan jika kantor polisi tiap hari didatangi wartawan untuk mengetahui kejahatan apa yang terjadi hari itu atau malam kemarinya. Bahkan ada sementara surat kabar yang menetapkan seorang wartawan yang khusus mencari berita mengenai kejahatan. (2000:69-71)
Demikianlah 10 komponen yang menetukan nilai berita. Tadi disebutkan bahwa semakin banyak yang terkandung dalam sebuah berita, semakin tinggi nilai berita, yang dengan sendirinya akan semakin banyak pembacanya. Seorang gadis cantik berusia muda anak seorang jutawan yang diperkosa oleh seorang residivis akan merupakan berita yang banyak peminatnya untuk dibaca, sebab dalam contoh tersebut terdapat enam komponen yang terpadu.
2.5 Unsur-Unsur Berita
Sebuah berita, sudah tentu harus diuji terlebih dahulu kelayakannya sebelum dimuat dalam suatu media massa, yakni berdasarkan kepada 4 unsur atau karakteristik utama berita yakni menurut Romli dalam buku Jurnalistik Praktis, sehingga berita itu layak dianggap menjadi suatu berita. Unsur tersebut yakni:
Cepat
Yakni aktual atau ketepatan waktu. Unsur ini mengandung makna harfiah berita (news), yakni sesuatu yang baru (new). "Tulisan jurnalistik" kata Al Hester, adalah tulisan yang memberikan pemahaman pada pembaca atau informasi yang tidak diketahui sebelumnya.
Nyata
Factual, yakni informasi tentang sebuah fakta (fact), bukan fiksi atau karangan. fakta dalam dunia jurnaalistik terdiri dari kejadian nyata (real event), pendapat (opinion), dan pernyataan (statement) sumber berita. Unsur ini mengandung pula pengertian, sebuah berita harus merupakan informasi tentang suatu yang sesuai dengan keadaan sebenarnya atau laporan mengenai fakta sebagaimana adanya. "Seorang wartawan harus menulis apa yang benar saja", ujar M. L. Stein (1993:26), seraya mengingatkan, "jangan sekali-kali mengubah fakta untuk memuaskan hati seseorang atau suatu golongan. Jika sumber anda dapat dipercaya, itulah yang paling penting".
Penting
Artinya menyangkut kepentingan orang banyak. Misalnya peristiwa yang akan berpengaruh pada kehidupan masyarakat secara luas, atau dinilai perlu diketahui dan di informasikan kepada orang banyak, seperti kebijakan baru pemerintah, kenaikan harga, dan sebagainnya.
Menarik
Artinya mengundang orang untuk membaca berita yang kita tulis. Berita yang biasanya menarik pembaca, disamping yang aktual dan faktual serta menyangkut kepentingan orang banyak, juga berita yang bersifat menghibur (lucu), mengandung keganjilan atau keanaehan, atau berita human interst (menyentuh emosi, menggugah perasaan). (2000:3-4).
Ke empat hal di atas antara lain adalah hal-hal penting yang layak menjadi acuan bagi jurnalis dalam mencari, dan menulis berita untuk mediannya. Sehingga seorang jurnalis hendaknya mampu membedakan mana fakta atau peristiwa yang mempunyai nilai berita dengan yang tidak bernilai berita.
2.6. Jenis Berita
Jenis-jenis berita yang dikenal dalam dunia jurnalistik menurut Romli dalam buku Jurnalistik Praktis antara lain:
Straight news: berita langsung, apa adanya, ditulis secara singkat dan lugas. Sebagian besar halaman depan suratkabar berisi berita jenis ini.
Depth news: berita mendalam, dikemabangkan dengan pendalaman hal-hal yang ada dibawah suatu permukaan.
Investigation news: berita yang dikembangkan berdasarkan penelitian atau penyelidikan dari berbagai sumber.
Intervetative news: berita yang dikembangkan dengan pendapat atau penilaian penulisnya/reporter.
Opinion news: berita mengenai pendapat seseorang, biasanya pendapat para cendikiawan, tokoh ahli, atau pejabat, mengenai suatu hal, peristiwa, kondisi poleksosbudhankam, dan sebagainya.(2000:8)
Kelima jenis berita itu, merupakan jenis berita yang sering dipakai oleh setiap wartawan baik cetak maupun elektronik. Tetapi bagi surat kabar harian kebanyakan memakai berita jenis pertama, dan sewaktu-waktu memakai jenis yang kedua. Sedangkan majalah kebanyakan memakai jenis kedua dan ketiga ini mungkin dengan beberapa pertimbangan yang telah ditentukan untuk bisa bersaing dengan media cetak harian. Jenis pemeberitaan elektronik pun sama mereka harus bersaing satu sama lainya.
2.7. Pengertian rubrik
Pengertian rubrik menurut Arfina dalam kamus lengkap bahasa Indonesia adalah kepala karangan dalam surat kabar atau ruangan khusus dalam koran (majalah, dsb)
2.7. Model Komunikasi yang Digunakan
Salah satu model komunikasi yang tua tetapi masih digunakan orang untuk tujuan tertentu adalah model komunikasi yang dikemukakan oleh Harold Lasswell. Dia mengunakan lima pertanyaan yang perlu ditanyakan dan dijawab dalam melihat proses komunikasi, yaitu who (siapa), says what (mengatakan apa), in which medium (dalam media apa), to whom (kepada siapa), dan dengan which what effect (efek). untuk Model Lasswell menggambarkan komunikasi sebagai berikut:
GAMBAR 1
MODEL KOMUNKASI LASWELL





Sumber: Komunikasi Organisasi, Arni Muhamad Tahun 1995.
Model Lasswel ini menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari lima pertanyaan yang diajukan, yaitu:
S (Source, Sender, Communicator)
M (Message, Pesan)
C (Channel, media)
R (Receiver, Recipient, Communicant, Communicate)
E (Effect, Impact, Impluence)
Berdasarkan model Lasswell ini, yang dikatakan who tersebut adalah menunjukkan kepada siapa orang yang mengambil inisiatif untuk memulai komunikasi, yang memulai komunikasi itu dapat berupa seorang dan dapat juga sekelompok orang sperti organisasi atau persatuan.
Pertanyaan kedua adalah says what atau apa yang dikatakan. Pertanyaan ini adalah berhubungan dengan isi komunikasi atau apa pesan yang disampaikan dalam komunikasi tersebut. Umumnya kita menanyakan pertanyaan ini dalam pikiran kita dalam berkomunikasi. Kadang-kadang orang perlu mengorganisir lebih dahulu apa yang ingin disampaikan sebelum mengkomunikasikannya. Isi yang dikomunikasikan ini kadang-kadang sederhana dan kadang-kadang sulit dan kompleks. Misalnya yang sederhana seorang pimpinan menyuruh reporternya untuk mewawancara narasumber. Contoh isi pesan yang agak sulit misalnya menjelaskan kepada reporter untuk menggali suatu kasus yang dihadapi oleh narasumber atau investigasi laporannya dalam waktu yang mendesak.
Pertanyaan yang ketiga adalah to whom. Pertanyaan ini maksudnya menanyakan siapa yang menjadi audiensnya atau penerima dari komunikasi. Atau dengan kata lain kepada siapa komunikator berbicara atau kepada siapa pesan akan disampaikan. Hal itu perlu diperhatikan karena komunikan yang menerima pesan tersebut heterogen, misal pengalamannya, pengetahuannya, kebudayaannya, dan usianya. Kita tidak akan menggunakan cara yang sama dalam berkomunikasi kepada anak-anak dan berkomunikasi kepada orang dewasa. Jadi, dalam berkomunikasi siapa pendengarnya perlu dipertimbangkan.
Pertanyaan yang keempat adalah in which channel atau melalui media apa. Media yang dimaksud disini adalah alat komunikasi, seperti berbicara, gerakan badan, kontak mata, sentuhan, radio, televisi, surat, buku dan gambar. Media yang diperlukan hrus sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan, kadang-kadang suatu media lebih efisien digunakan untuk maksud tertentu tetapi untuk maksud yang lain tidak.
Pertanyaan terakhir dari model Lasswell ini adalah what effect atau apa efeknya dari komunikasi tersebut. Pertanyaan mengenai efek komunikasi ini dapat menanyakan 2 (dua) hal yaitu apa yang ingin dicapai dengan hasil komunikasi tersebut dan apa yang dilakukan orang sebagai hasil dari komunikasi. Akan tetapi perlu diingat, bahwa kadang-kadang tingkah laku seseorang tidak hanya disebabkan oleh faktor hasil komunikasi tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain.

BAB III
OBJEK KKPT

Sejarah Singkat Harian Umum Kompas

Minggu, 27 Juli 1965, sekitar tengah malam. Jalan Kramat raya Jakarta sudah sepi. Pertunjukan terakhir di Bioskop Rivoli juga telah berakhir, dan penonton bebarapa jam lalu berhamburan pulang. Tinggal bebarapa becak yang masih mangkal di malam yang dingin itu.
Namun tak jauh dari situ, di sebuah percatakan, kegiatan justru baru dimulai. Beberapa orang berkumpul dalam percetakan PN Eka Grafika (dahulu "Abadi"), mengelilingi mesin cetak Duplex.
Semua mata memandang kearah satu titik, tempat para pencetak memasang kertas rol. Sebentar-sebentar di antara mereka ada yang melihat arlojinya, seolah tidak sabar dan was-was. Suasananya mirip sebuah penantian lahitnya bayi pertama.
Dan ketika mesin cetak mulai dijalankan, lantas kertas menyentuh spanraam-spanraam berisi huruf-huruf timah isi surat kabar, P.K. Ojong tersenyum dan bergumam. "Sebentar lagi. Sebentar lagi keluar…."
Ketika koran pertama Kompas muncul dari mesin cetak, tepuk tangan pun menyambutnya. Diiringi kilatan lampu kilat dari kamera Sudarja (wartawan foto majalah penabur), suasana seketika jadi berubah.
Jabang bayi telah lahir. Harian Kompas pertama tertanggal 28 Juni 1965 itu keesokan harinya mulai dipasarkan.
Kompas pertama terbit empat halaman. Berita utama di halaman satu ketika itu berjudul "KAA II Ditunda Empat Bulan". Sementara Pojok Kompas di kanan bawah mulai memperkenalkan diri, "Mari ikat hati. Mulai hari ini, Dengan Mang Usil".
Dihalaman pertama pojok kiri atas tertulis nama staf redaksi. Tertulis Pimpinan Redaksi: Drs Jakob Oetama, Staf Redaksi Drs J. Adisubrata, Lie Hwat Nio SH, Marcel Beding, Th. Susilawati, Tan Tik Hong, Th. Ponis Purba, Tinon Prabawa, Eduard Liem.
Melihat penampilan wajah suart kabar Kompas terbitan pertama, tidak seorangpun di antara para pemula surat kabar itu optimis korannya akan berusia panjang. Dibandingkan dengan surat kabar lain ketika itu, penampilan wajah Kompas kurang bersaing. Apalagi percetakan yang mencetak Kompas kurang menjanjikan perbaikan. Namun demikian, kegigihan dan semangat para pemimpin dan pemula justru membuat Kompas tetap hidup dan berkembang.
Perintis Kompas adalah P.K. Ojong dan Jkob Oetama, keduanya yang dua tahun sebelumnya merintis penerbitan majalah Intisari – dibantu 15 wartawan muda yang masih hijau, memulai karya dengan kantor numpang, mesin tik pinjaman, dan sarana lain yang terbatas. Yang menjadi modal utama ketika itu hanyalah semangat, agar karya yang diciptakan melalui Kompas ini bisa baik dan juga hidup.
Kompas edisi pertama memasang 11 berita luar negri dan 7 berita dalam negri di halaman pertama. Sementara istilah Tajuk Rencana ketika itu masih belum ada, namun dihalaman 2 pula terdapat antara lain lima berita luar negri dan dua berita dalam negri. Ditambah tiga artikel, satu di antaranya menyangkut luar negri. Di halaman ini pula ada kolom hiburan Senyum Simpul.
Halaman III ketika itu antara lain berisi tiga artikel, satu di antaranya menganai luar negri. Ada pula ulasan mengenai penyakit ayan dari RR Kompas. Sedangkan halaman VI antara lain berita dan artikel luar negri (2) dan satu dalam negri. Di halaman ini hanya tercatat du berita olah raga, satu di antarnya mengenai "Persiapan Tim PSSI ke Pyongyang".
Iklan ketika itu pun masih kurang dari separuh halaman. Dari enam iklan, satu diantaranya dari redaksi Kompas tentang "Permintaan menjadi Langganan KOMPAS". Iklan yang paling besar dan bergambar hanya satu, yaitu oabt batuk dan cacingan.
Kantor redaksi Kompas pertama masih numpang di kantor redaksi Majalah Intisari yang menempati salah satu ruang di kantor Percetakan PT Kinta, Jalan Pintu Besar Selatan No.86-88 akarta Kota. Karena percetakan jauh dari sini, maka redaksi malam juga numpang di redaksi Majalah Penabur, di Jl. Kramat. Pelaksanaan keredaksian juga dilakukan di salah satu ruangan percetakan PN Eka Grafika.
Kedua perintis Kompas setiap saat terjun langsung ke bawah. Meraka berusaha agar dari hari ke hari mutu Kompas kian baik. Karena itu, setelah sebulan dicetak di Eka Grafika, harian ini kemudian di cetak di percetakan Masa Merdeka di JL. Sangaji Jakarta. Percetakan ini memang lebih baik. Sekalipun sistem setting-nya masih cetak timbul, namun percetakannya sendiri sudah menggunakan mesin rotasi. Karena itu, daya cetaknya lebih cepat. Dan memang semenjak itu oplah Kompas naik dari 4.800 eksemplar di masa Eka Grafika, melonjak jadi 8.033 eksemplar, hampir dua kali lipat.
Namun kejadian itu memang tak terhindarkan . Tanggal 1 Oktober malam, August Parengkuan dan Ponis Purba tengah mendapat giliran tugas redaksi malam di Jalan sangaji ketika mereka di beri tahu pihak percetakan bahwa Kompas beserta surat kabar lainya tidak boleh terbit. Hanya Harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha serta LKBN Antara dan Pemberitaan Angkatan Bersenjata (PAB) yang diperbolehkan.
Keduanya terperanjat, namun minta kepada pihak percetakan agar tetap menyelesaikan lay out yang tengah siapkan di malam menjelang dini hari itu.
Larangan untuk tidak naik cetak itu dikeluarkan Penguasa Pelaksana Perang Daerah (Papelrada). Namun ketika itu, August Parengkuan dan Ponis Purba tetap berkeyakinan bahwa sebenarnya Kompas tidak perlu dilarang terbit. Alasannya, Kompas sudah lama mengacam pemberontakan G. 30 S/PKI, dan dalam lay out sudah disiapkan bahwa Kompas edisi 2 Oktober juga memuat pernyataan sikap dari Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana RE. Martadinata. Namun nyatanya ketika itu Kompas termasuk yang dilarang naik cetak, sehingga kedua redaktur malam hanya minta proofdrukt-nya untuk disampaikan kepada pimpinan Kompas.
Keesokan harinya, 2 Oktober 1965, August Parengkuan datang lagi ke kantor KOmpas. Mata masih mengantuk ketika sekitar pukul 07.00 pagi P.K Ojong dan Jakob Oetama datang, August Parengkuan menyerahkan proofdrukt itu.
Kompas baru boleh terbit lagi tanggal 6 Oktober. Di masa itu, ada pula koran yang tidak boleh terbit seterusnya. Salah satu harian yang tidak boleh terbit itu semula di cetak di Percetakan PT Kinta, salah satu percetakan yang baik di Jakarta ketika itu. Karena ada lowongan, maka ketika boleh terbit lagi 6 Oktober, Kompas di cetak di PT Kinta.
Obserpasi Ojong yang menyatakan produk akan lebih cantik bila ia di hasilkan oleh pabrik yang baik, terbukti. Namun Kompas tidak hanya lebih cantik, tapi juga meningkat oplahnya menjadi 23.268 lembar.
Tentu saja peningkatan oplah itu tidak melulu berkat makin baiknya percetakan, tapi karena keadaan saat itu memang memungkinkanya. Untuk beberapa saat penduduk Jakarta tidak tahu menahu keadaan lingkungan kotanya yang cukup hangar bingar, karena semua pemberitaan pers muncul kembali, kontan di serbu masyarakat yang ingin tahu. Maka, oplah pun melonjak.
Makin melonjaknya oplah tentu melonjakan penghasilan. Namun selama koran tidak memiliki mesin percetakannya sendiri, ia akan tetap tergantung dari orang lain. Percetakan sangat vital bagi kelangsungan hidup koran. Kompas pun menyadari hal ini, dan karenanya berkeinginan memiliki percetakan sendiri. Penghasilan yang makin tinggi pasti akan menyusut kalau sudah harus memabayar ongkos cetak, misalnya.
Tahun 1966, P. Swantoro memperkuat barisan redaksi Kompas, dan sejak itu barisan redaksi makin di perbesar dengan banyaknya wartawan baru yang bergabung. Isi harian ini makin bervariasi dan mantap. Kemantapan di bidang redaksi ini kemudian di imbangi dengan memantapkan segi manajemen.
Mulai tahun 1971, sirkulasi Kompas diteliti (audit) oleh Akuntan Publik Drs Utomo & Mulia. Akuntan ini pilihan tiga biro iklan terkemuka pada waktu itu. Dengan data audit ini, angka-angka sirkulasi yang disiarkan kepada biro iklan dan para pemasang iklan tiap tiga bulan sekali adalah angka yang sebenarnya. Dengan data ini pula tiap pemasang iklannya akan di baca oleh sekian banyak pelanggan.
Untuk lebih memantapkan penyebaran data audit ini diluar negri, sejak Desember 1978 Kompas masuk menjadi anggota Audit Burreau of Circulations, Sydney, Australia, suatu badan internasional yang dibentuk bersama oleh para penerbit, pemasang iklan, dan biro-biro iklan. Fungsi badan ini adalah mencatat dan menyiarkan angka-angka sirkulasi yang benar dari para anggotanya.
Sampai kini, Kompas merupakan satu-satunya suarat kabar di Indonesia yang menyiarkan jumlah sirkulasinya kepada khalayak sesuai kenyataan.
Sirkulasi Kompas memang terus menanjak. Terutama setelah mulai tahun 1972, suarat kabar ini dicetak di Percetakan Gramedia yang merupakan percetakan sendiri. Namun, di tengah terus melonjaknya oplah karena makin banyaknya pembaca yang memberikan kepercayaan kepada penyajian berita Kompas, pada tahun 1978 Kompas diminta menghentikan penerbitannya. Saat itu ada beberapa media lain yang mengalami nasib serupa.
Beberapa bulan setelah di izinkan terbit kembali, Kompas di bulan September 1978 muncul tujuh kali seminggu dengan muali di terbitkannya Kompas edisi Minggu.
Sewaktu lahir, sesuai dengan ketentuan perundangan pada waktu itu yang mengharuskan surat kabar berafiliasi kesalah satu organisasi politik, Kompas berafiliasi kepada Partai Katolik. Namun sejak semula, terutama para perintis surat kabar ini berpendapat, visi kemasyarakatan koran haruslah terbuka. Visi dan sikap itu selain sesuai dengan keyakinan pimpinan, juga cocok dengan fungsi pers di Indonesia, yakni ikut mengambangkan saling pengartian dalam masyarakat yang majemuk. Hal itu sesuai dengan paham Pancasila.
Sumber: lembaran Brosur Kompas untuk hari Pers Nasional 1989
3.2. Visi dan Misi Kompas
Visi:
Berpartisipasi dalam membangun Masyarakat Indonesia baru, yaitu masyarakat dengan kemanusiaan yang transendental, persatuan dalam perbedaan, menghormati individu dan masyarakat yang adil dan makmur".
Misi :
Menjadi nomor satu dalam semua aspek usaha, di antara usaha-usaha lain yang sejenis dan dalam kelas yang sama.
Hal tersebut dicapai dengan melakukan etika usaha bersih dan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan lain.
3.3. Tanggung jawab dan Tugas Wartawan Kompas
Wartawan merupakan bagian dari unit redaksi yang berkonsentrasi secara langsung terhadap suatu pemberitaan didalam sebuah surat kabar. Wartawan adalah seseorang yang bertugas mencari, mengumpulkan dan mengolah informasi menjadi berita, untuk disiarkan melalui media massa.
1. Wartawan
Secara internal wartawan kompas berhubungan dengan atasan langsungnya, yaitu, Kepala desknya masing-masing. Sedangkan secara ekternal wartawan kompas berhubungan dengan narasumber. Wartawan Kompas bertangung jawab atas peliputan, penulisan, akurasi, dan objektifitas berita.
Tugas Utama :
Bertangung jawab penuh atas isi berita atau artikel yang ditulis dan diserahkan kepada Redaktur.
Memantau perkembangan situasi dan mengetahui semua peristiwa yang terjadi di bidang yang menjadi tanggung jawab.
Memiliki wewenang penuh dan bertanggung jawab untuk melakukan peliputan rutin di bidang yang menjadi tanggung jawabnya.
Bersama dengan persetujuan Redaktur, merencanakan dan mempersiapkan peliputan khusus / non-rutin untuk straight news atau peliputan masalah secara mendalam untuk in-defth reports.
Melakukan peliputan-peliputan khusus di luar bidangnya sesuai dengan penugasan dan inisiatif pribadi yang telah disetujui oleh redaktur.
Menuangkan hasil liputan dalam bentuk berita dan laporan secara akurat dalam pormat yang ditentukan dan sesuai dengan standar penulisan Kompas (factual, objektif, informative, edukatif, dan control sosial), dengan memperhatikan derajat kepekaan berita dan sesuai dengan kode etik jurnalistik dan konvensi yang berlaku di Kompas.
Membangun lobby dengan pihak-pihak yang terkait dalam bidangnya dengan tetap menjaga jarak objektif yang pantas.
Mempertahankan sikap kritis dalam menangkap dan memahami permasalahan, termasuk terhadap narasumber.
Mengutamakan penempatan kepantingan umum di atas kepentingan kelompok atau golongan tertentu.
Melaporkan hasil-hasil peliputan maupun lobby yang tidak bisa dituangkan dalam bentuk berita atau artikel kepada Redaktur.
Mampu menghasilkan jumlah berita / feature sesuai dengan penugasan yang diberikan.
Bekerja tanpa terkait waktu, dan hanya dibatasi oleh deadline.
2. Wartawan Foto
Wartawan foto atasan langsungya Kepala Desk masing-masing. Wartawan foto bertangung jawab untuk mendapatkan foto-foto yang menarik dan dapat mendukung penulisan berita. Hubungan internalnya langsung kepada kepala desknya masing-masing. Sedangkan secara eksternalnya kepada nara sumber.
Tugas Utama :
Bertanggung jawab penuh atas keaslian dan keakuratan foto yang dicetak dan diserahkan kepada Redaktur bidang yang bersangkutan setelah dilengkapi dengan teks foto.
Mengikuti perkembangan situasi dan mengantisipasi kebutuhan foto di bidang yang menjadi tanggung jawabnya.
Memiliki wewenang penuh dalam melakukan pemotretan dan bertanggung jawab untuk menyediakan foto untuk peristiwa-peristiwa yang diliput kompas.
Bersama / dengan persetujuan Redaktur, merencanakan dan mempersiapkan pemotretan khusus / non-rutin untuk melengkapi berita atau laporan khusus.
Mengambil foto-foto lepas sesuai dengan penugasan atau inisiatif pribadi.
Melakukan pemotretan sebaik dan semenarik mungkin, sambil tetap memegang teguh kaidah-kaidah foto jurnalistik sesuai dengan konvensi yang berlaku di Kompas.
Membangun lobby dengan pihak-pihak yang terkait dalam bidangnya dengan tetap menjaga jarak objektif dan patas.
Mampu menghasilkan jumlah foto sesuai dengan penugasan yang diberikan dengan kualitas yang sesuai dengan standar Kompas.
Bekerja tanpa terkait waktu, dan hanya dibatasi oleh deadline.
Membuat esai foto untuk Kompas Minggu halaman 12.

BAB IV
PELAKSANAAN KKPT

4.1. Factfinding
Factfinding adalah mencari kebenaran yang ada dilokasi KKPT, yang dilakukan oleh praktikan selama dua minggu epektif dari tanggal 4 s/d 16 April 2005 di Harian Umum (HU) Kompas.
Factfinding yang didapatkan oleh praktikan ketika melaksanakan KKPT di Harian Umum Kompas adalah bagaimana melakukan pencarian, peliputan dan penyajian berita dalam rubrik Metropolitan untuk di sebarkan kepada khalayak umum khususnya Jabotabek dan Banten.
Berita merupakan segmen utama dalam sebuah surat kabar. Trend pemasaran sekarang menuntut penajaman segmen. Sehingga tidak heran, surat kabar dewasa ini lebih banyak mempertajam segmentasinya dengan berkonsentrasi di dalam scope lokal (propinsi, kabupaten, kota) karena kebutuhan pembaca tidak sedikit yang menyukai pemberitaan yang menyangkut kepentingan terdekatnya, baik secara geografis, fisikografis, demografis. Untuk memenuhi kebutuhan pembaca seperti itulah harian umum kompas menyajikan salah satu rubrik yang bernama Metropolitan. Rubrik tersebut secara khusus menyajikan berita-berita local Jabotabek dan Banten.
Pemberitaan di rubrik metropolitan Harian Umum Kompas, sama halnya di rubrik dan atau di surat kabar lainnya, dalam hal penulisan beritanya menggunakan rumusan umum 5W+1H, kecuali dalam penulisan feature. Rumusan tersebut dapat diketahui dalam beberapa jenis-jenis berita yang ada di pemberitaan rubrik Metropolitan. Jenis beritanya itu seperti, Straight news (berita langsung), Depth news (Berita mendalam), dan Feature (Karangan khas).
Berdasarkan hasil pengamatan praktikan selama melaksanakan Kuliah Kerja Praktek Terpadu (KKPT) di Harian Umum Kompas. Dalam membuat straight news, penulisannya lebih mengutamakan aktualitas informasinya.
Peristiwa seperti kebakaran, perkelahian atau kecelakaan merupakan kejadian yang paling tepat untuk di buat straight news. Sebab, informasinya hanya bisa di dapat pada saat itu juga dan biasanya kejadian seperti itu segera ingin di ketahui oleh masyarakat dengan jelas tanpa ditambahi keterangan atau penjelasan lainnya. Berita yang dibuatnyapun dengan gaya memaparkan. Seatu gaya penulisan berita yang memaparkan kejadian atau peristiwa yang terjadi, dalam keadaan apa adanya saja, tanpa ditambah dengan penjelasan lainnya. Struktur beritanya seperti piramida terbalik, dimana pada kalimat pertama atau leadnya dalam sebuah berita memiliki nilai berita yang paling tinggi dan penting dalam suatu peristiwa, kemudian sampai kebawah nilai beritanya semakin rendah dan atau tidak penting lagi.
Dalam hal menulis Depth news (Berita mendalam), atau pengembangan berita, praktikan dapat membuatnya dari adanya sebuah berita yang masih belum selesai pengungkapannya Sebelum mengungkapkan data selanjutnya, dalam penulisan pengembangan berita, berita terdahulu yang sudah dipublikasikan, ditulis lagi oleh praktikan secara singkat.
Dalam hal menulis feature, praktikan pada saat melkukan KKPT tidak sempat membuatnya. Keterbatas waktu praktek yang hanya dua minggu menjadi salah satu kendala mengapa praktikan tidak dapat membuatnya. Namun berdasarkan pengamatan pratikan, feature-feature yang hadir mengisi rubrik metropolitan lebih dominan berbentuk human interest, meliputi kejadian sehari-hari, dan bersifat sedikit menghibur dengan gaya bahasa yang tidak kaku seperti straigh news.
Selama melaksanakan Kuliah Kerja Peratek Terpadu di Harian Umum Kompas, paktikan mendapatkan fasilitas kerja yang baik. Praktikan atau peserta manggang mendapatkan meja kerja sendiri. Di meja kerja tersebut terdapat fasisilitas telfon, komputer, dan internet yang kesemuanya itu dapat di gunakan untuk tugas keredaksian. Begitu juga setiap hari praktikan mendapatkan koran Kompas untuk melihat hasil-hasil berita.
Dalam melakukan peliputan langsung kelapangan praktikan hanya dapat melihat sebuah peta kota Jakarta yang ada di meja khusus desk metropolitan. Paraktikan sebelum meninjau kelapangan, atau menuliskan nama jalan bisa melacaknya dari peta tersebut.
Praktikan dalam menuangkan hasil liputan dalam bentuk berita dituntut untuk dapat melaporkannya secara akurat dalam format yang di tentukan dan sesuai dengan standar penulisan Kompas (faktual, obyektif, informatif, edukatif, dan kontrol sosial), dengan memperhatikan derajat kepekaan berita sesuai dengan kode etik jurnalistik dan konvensi yang berlaku di Kompas. Begitu juga praktikan di tuntut untuk mempertajam sikap kritis dalam menagkap dan memahami permasalahan, termasuk terhadap nara sumber.
Pemberitaan di Harian Umum Kompas di kelola oleh masing-masing desk. Desk itu sendiri merupakan bagian dari spesifikasi berita dan bagian khusus yang menyajikan berita-berita sesuai dengan rubrik tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Desk yang ada di harian umum Kompas terdapat 9 desk, yang terdiri dari.
Desk Politik dan Hukum, desk ini berkonsentrasi pada pemberitaan mengenai peristiwa seputar politik dan hukum dalam scope nasional, misalnya, berita tentang Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah), pemberitaan korupsi, sidang pengadilan dan berita sejenis lainnya.
Desk ekonomi. Desk ekonomi ini sudah barang tentu sesuai dengan namanya, yaitu; hanya berkonsentrasi pada persoalan ekonomi, pemberitaanya pun menyangkut berbagai peristiwa ekonomi, misalnya, berita tentang perkembangan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), informasi tentang kurs rupiah, dan lainnya. Salah satu rubrik yang pemberitaanya disajikan oleh desk ekonomi adalah rubrik finansial.
Desk nusantara, desk ini merupakan selah satu desk yang memberitakan peristiwa-peristiwa lokal (provinsi, kabupaten, kota di Indonesia) mengenai berbagai aspek kehidupan hasil laporan dari tiap-tiap biro di daerahnya masing-masing. Dalam hal ini kepala biro daerah atasan langsungnya kepada kepala desk nusantara. Kepala biro daerah secara langsung melaporkan hasil-hasil liputan maupun lobby yang tidak bisa di tuangkan dalam bentuk berita atau artikel kepada kepala desk nusantara. Kepala biro daerah bertanggung jawab atas pengisian sisipan daerah dan halaman daerah serta kebenaran dan kelengkapan berita-berita baik itu sisipan daerah maupun halaman Salah satu tugas utama kepala biro daerah tersebut adalah melakukan koordinasi dengan desk-desk lain (diluar desk daerah) yang terkait, dengan sepengetahuan kepala desk nusantara. Salah satu rubrik yang pemberitaanya disajikan oleh desk nusantara adalah rubrik bernama nusantara.
Desk olah raga, desk tersebut khusus memberitakan peristiwa seputar dunia olah raga nasional dan internasional. Yang paling dominan, pemberitaan yang di sajikan oleh desk olah raga adalah berita-berita seputar dunia sepak bola.
Desk internasional, desk ini khusus memberitakan berita-berita luar negri. Peristiwa yang hadir dalam pemberitan di rubrik internasional tersebut lebih dominan mengangkat persoalan politik dan hukum internasional. Desk internasional ini dipimpin oleh kepala desk internasional yang bertanggung jawab atas pengisisn halaman internasional dan kebenaran serta kelengkapan berita-berita atau tulisan internasional yang akan di muat di Kompas. Salah satu tugasnya adalah merencanakan dan memberikan penugasan kepada wartawan untuk peliputan langsung dan tak langsung (penggabungan berita yang diperoleh dari teleks dan internet) untuk straight-news, laporan khusus dan in-defth report. Begitu juga kepala desk internasional memiliki wewenang penuh dan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan untuk peliputan peristiwa-peristiwa internasional yang layak untuk diberitakan di Kompas, dengan memperhatikan kebijakan Kompas. Dalam hal ini juga kepala desk internasional memiliki tugas utama untuk merespon dengan cepat keluhan dari pihak luar yang berhubungan dengan isi berita, baik yang masuk melalui telefon, surat, e-mail, datang langsung, dll.
Desk humaniora, sesuai dengan pengertiannya, desk ini khusus menyajikan pemberiataan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang di anggap menjadikan manusia lebih manusiawi. Didalam desk humaniora tersebut terdapat berita-berita seputar pendidikan, perkebangan ilmu pengetahuan, kesehatan dan pemberitaan sejenis lainnya. Salah satu rubrik yang pemberitaannya di sajikan oleh desk hiumaniora adalah rubrik humaniora.
Desk non berita, desk ini merupakan desk yang khusus bertugas menyajikan selain berita di surat kabar Kompas. Berbagai artikel atau opini, essay, resensi, cerpen (sastra) dari luar akan di periksa sebelum di muat oleh pihak dari desk non berita.
Desk Kompas Minggu, desk ini merupakan desk yang khusus mengelola pemberitaan maupun opini untuk di terbitkan pada hari minggu.
Desk metropolitan, desk ini khusus menyajikan pemberitaan lokal seputar peristiwa di wilayah Jabotabek dan Banten.
Sesuai dengan judul laporan yang pratikan buat. Pembahasan yang praktikan tulis lebih berkonsentrasi pada pemberitaan rubrik metropolitan di harian umum Kompas.
Dalam pemberitaan di Rubrik Metropolitan Harian Umum Kompas meliputi peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar wilayah Jabotabek dan Banten. Isi pemberitaan di rubrik metropolitan terdapat berbagai peristiwa seperti, kriminalitas, hukum dan peradilan, bencana, gaya hidup, ekonomi bisnis, sosial, politik, pendidikan, dan aspek kehidupan lainnya di wilayah lokal seputar Jabotabek dan Banten.
Pemberitaan di Rubrik Metropolitan dalam Harian Umum Kompas hadir dari hari Senin sampai dengan Sabtu, dan terbit dengan 3 halaman. Setiap hari Selasa dan Sabtu terdapat rubrik khusus. Hari Selasa terdapat rubrik khusus bernama kota kita, yang di dalamnya terdapat opini / artikel tentang pembangunan kota atau tata letak kota. Hari Sabtu terdapat 2 rubrik khusus bernama Sana-sini dan Jakarta Doeloe dan Sekarang. Rubrik khusus bernama Sana-sini berisi kritik atau satir terhadap kebijakan pemerintah dalam bentuk berita. Sedangkan di rubrik khusus bernama Jakarta Doeloe dan Sekarang berisi foto-foto beserta keteranganya di suatu kawasan Jakarta pada tahun tahun 60-80-an di bandingkan dengan fotonya sekarang.
Selain itu, di dalam rubrik metropolitan terdapat pula 1 buah rubrik khusus yang selalu hadir beriringan dengan setiap terbitnya rubrik metropolitan. Rubrik itu bernama Info Jabotabek yang berisi peristiwa-peristiwa kecil di wilayah Jabotabek. Yang terakhir, ada juga sebuah rubrik khusus yang terbit tergantung kondisi dilapangan. Nama rubriknya Kolom 3-1 yang berisi cerita-cerita lucu, ringan, dan bisa membuat pembaca tertawa.
Proses produksi pemberitaan pada masing-masing desk di Harian Umum Kompas memiliki kesamaan. Proses produksi di mulai dari pengolahan bahan berita yang dilakukan setiap wartawan. Setelah selesai di olah menjadi sebuah berita, wartawan memberikanya kepada kepala desk. Berita yang masuk kepada kepala desk mengalami proses pengeditan sesuai dengan luas area yang sudah ditentukan. Berita yang selesai di edit oleh kepala desk kemudian di kirimkan ke Korektor. Tulisan / berita tersebut di koreksi tata bahasanya agar sesuai dengan style yang berlaku di Kompas. Setelah berita tersebut di koreksi oleh Korektor, berita tersebut di tempatkan di posisi yang sudah di tentukan sebelumya oleh Desainer Quality Control. Kemudian di print proof sesuai dengan betuk yang sesungguhnya, Proof itu di periksa kembali oleh editor malam. Bila tidak ada permasalahan lagi, oleh editor malam berita tersebut di masukan ke arsif dokumentasi dan siap untuk di proses film untuk pencetakan. (lihat Gambar 2)
Seluruh kegiatan, dan keputusan di harian umum Kompas mengikuti nilai-nilai dasar Kompas.Hal itu di ikuti untuk memuaskan pelanggan. Nilai-nilai dasar Kompas tersebut yaitu;
Menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan harkat dan martabatnya.
Menghargai pendapat dan saran orang lain.
Menghargai karya orang lain.
Memberikan feedback yang membangun.
Memberikan dukungan untuk maju.
Bersikap tidak membeda-bedakan orang berdasarkan suku, agama, ras dan gender.
Bersikap adil terhadap mitra kerja.
Peduli terhadap kepantingan orang lain.
Tidak menghakimi.
Mengutamakan watak baik
Mensyukuri rahmat Tuhan
Memiliki integritas, jujur, tidak menerima suap atau komisi, tidak kolusi dan tidak nepotisme.
Tidak berpihak dan tidak memihak.
Bertingkah laku yang pantas sesuai dengan perannya (good profile).
Bersikap rendah hati dan menghindari rasa iri dan dengki
Bersikap disiplin dan rajin.
Bersikap saling terbuka.
Bersikap solider atau setia kawan.
Bertingkah laku yang sesuai dengan etika dan sopan santun.
Tulus dan iklas dalam memaafkan kesalahan / kekeliruan orang lain.
Berani mengakui kesalahannya sendiri.
Bersikap adil, objektif dan seimbang.
Profesionalisme
Memiliki komitmen terhadap lembaga dan profesi.
Memiliki kompetensi, baik ‘hardskill’ maupun ‘softskill’ dibidangnya.
Berdedikasi pada profesi.
Bertanggung jawab terhadap segala tindakannya.
Tidak membocorkan rahasiah perusahaan.
Melakukan perbaikan kinerja secara terus menerus (continuous improvement)
Memiliki etos kerja tuntas dan mengutamakan pelaksanaan kerja nyata (get thing done).
Berpikir dan bertindak kreatif, inovatif, taktis, dan memiliki inisiatif.
Menjalankan etika bisnis sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Tidak mencari kambing hitam, tetapi mengedepankan solusi terbaik.
Mengerjakan sesuatu yang benar dengan cara yang benar (efektif dan efisien).
Proaktif dan mengutamakan pelaksanaan tindakan nyata (get things done).
Berusaha mencari solusi yang terbaik bagi semua pihak (win-win solution)
Berkomunikasi dengan orang lain secara simpatik, responsif dan asertif.
Semangat kerja tim
Mengutamakan pencapaian tujuan secara bersama-sama dengan rekan kerja.
Bekerja secara gotong royong.
Menjaga kemistri dan keharmonisan dalam pekerjaan.
Mengutamakan kepentingan yang lebih besar, tidak individualis maupun sektoral.
Bekerja bersama-sama sehingga menghasilkan sinergi.
Bersaing dengan sehat.
Mendukung sportifitas dalam bekerja sama.
Tidak hanya mengutamakan hasil kerja tetapi juga mengutamakan proses dalam bekerja sama.
Mendukung secara konsekuen dan konsisten keputusan yang telah di ambil.
Menumbuhkan sikap saling mempercayai satu dengan yang lain.
Berorientasi pada kepuasan konsumen (pembaca, pengiklan, mitra kerja-penerima proses selanjutanya)
Memberikan pelayanan yang sempurna dari sudut pandang konsumen (service excellence)
Memberikan komitmen yang realistis dan dapat dijalankan.
Menangani keluhan konsumen secara cepat dan tuntas.
Bersikap simpatik dan ramah dalam melayani konsumen.
Melakukan pengamatan dan perbandingan terhadap produk maupun pelayanan yang diberikan oleh pesaing.
Mendengarkan (jangan berasumsi) dan merespon kebutuhan konsumen.
Memenuhi kepuasan konsumen adalah tanggung jawab setiap orang di dalam organisasi.
Tanggung jawab sosial
Peduli dan tanggap terhadap kebutuhan dan penderitaan orang lain.
Menjaga citra perusahaan (tidak bertindak kriminal atau merugikan orang lain)
Mendukung kebijakan perusahaan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial.
Mendorong setiap orang untuk berperan serta secara aktif dalam membantu masyarakat dan berpartisifasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.





4.2 Planing
Planing adalah proses perencanaan komunikasi dalam menentukan kegiatan untuk mencapai hasil yang di inginkan. Perencanaan sangat diperlukan dalam melakukan kegiatan jurnalistik, karena untuk menyajikan suatu berita yang actual, factual serta menarik perhatian pembaca harus melalui suatu proses perencanaan.
1. Perencanaan kegiatan rapat:
Mengadakan rapat redaksi harian setiap pagi. Rapat redaksi harian itu dilaksanakan setiap pagi pukul 09.30. Rapat itu merupakan rapat evaluasi berita yang sudah terbit, dan membandingkan berita Kompas dengan koran lain. Rapat di hadiri oleh para kepala desk masing-masing rubrik. Di dalam rapat itu pula pembuatan tajuk rencana di tentukan.
Mengadakan Rapat buget yang dilakanakan setiap sore hari. Rapat harian atau rapat buget yang di laksanakan setiap sore sekitar pukul 05.30 , yang dihadiri oleh para kepala desk yang dipimpin oleh Redaktur pelaksana (Redpel) adalah rapat untuk menentukan headline dan berita-berita yang akan dimuat lainnya.
Mengadakan Rapat Senin atau rapat pemimpin redaksi setiap hari senin pagi pada pukul 11.00-02.00 tentang evaluasi dan proyeksi pemeberitaan dan segala macam permasalahan keredaksian.
Mengadakan Rapat Selasa atau rapat pemimpin kompas yang dilakanakan setiap pagi pada pukul 11.00. Rapat tersebut dihadiri oleh pemimpin Kompas dengan Maneger Sirkulasi. Evaluasi, proyeksi dan perkembangan mengenai Harian Umum Kompas merupakan salah satu bagian dari materi yang di angkat dalam rapat tersebut.
Mengadakan Rapat rabu atau rapat redaksi lengkap yang dilaksanakan setiap siang hari pikul 14.00-16.00. Di hadiri oleh kepala desk masing-masing rubrik beserta pemimpin redaksi. Evalusi, proyeksi, serta perkembangan pemberitaan merupakan bagian dari materi yang di angkat dalam rapat tersebut.
2. Perencanaan jadwal harian desk metropolitan
Setiap kepala desk, wakil kepala desk, beserta wartawan pada masing-masing rubrik melakukan rapat planing, tentang peristiwa atau even besar yang akan di jadikan bahan berita dan menentukan wartawan yang hendak meliputnya.
Praktikan mendapat informasi / pemberitahuan dari kepala desk atau pembimbing tentang apa saja yang hendak dilakukan dilapangan seperti bagaimana cara melihat situasi dan kondisi dilapangan yang peristiwanya pantas di jadikan berita. Begitu juga praktikan mendapatkan panduan bagaimana caranya mengembangkan suatu kasus/peristiwa yang sudah di terbitkan oleh surat kabar lain, selain Kompas.
Setelah praktikan mencari / meliput berita kemudian kembali keredaksi untuk menulis naskah berita yang didapat, kemudian di berikan kepada kepala desk untuk di periksa.
Selama di lapangan praktikan di kontrol melalui telfon seluler oleh kepala desk yang selalu menanyakan kondisi di lapangan tentang peristiwa apa saja yang di dapat praktikan dan sekiranya pantas untuk dijadikan berita. Selain itu kepala desk akan selalu memberitahu kepada praktikan melalui telpon seluler tentang adanya sebuah kejadian mendadak yang perlu diliput oleh praktikan, misalnya adanya peristiwa bencana kebakaran.

4.3. Programming
Programming adalah jadwal kerja yang sesuai dengan perencanaan yang di tuangkan dalam program-program kerja yang dilaksanakan dan program tersebut harus sesuai dengan planning.
Wartawan Kompas dalam melaksanakan tugas kewartawananya hanya di batasi oleh waktu deadline. Sehingga wartawan Harian Umum Kompas bebas atau tidak terikat waktu untuk memulai maupun mengakhiri waktu kegiatan kewartawanannya dalam setiap hari. Namun hal itu tetap bertanggung jawab penuh atas isi berita yang harus dipenuhi wartawan, baik dari penugasan redaktur maupun inisiatif pribadi yang telah disetujui oleh redaktur. Praktikan bersama wartawan disana memiliki waktu dedline dan tangung jawab yang sama.
Deadline untuk wartawan di desk metropolitan pukul 22.30. Wartawan dan praktikan setelah melakukan peliputan dilapangan biasanya datang ke kantor redaksi untuk membuat berita atau hasil liputan sekitar pukul 16.00. Hal tersebut pun memungkinkan praktikan dan wartawan agar bisa mengikuti rapat sore.
4.4. Taking Action and Communication
Taking Action and Communication adalah kegiatan pelaksanaan KKPT di Harian Umum Kompas Jakarta. Kegiatan yang dilakukan oleh praktikan selama melakukan KKPT di Harian Umum Kompas Jakarta sebagai berikut:
Mencari materi / bahan berita untuk keperluan pencarian peliputan diantaranya dari koran, televisi, internet, radio dan konfirmasi lewat telepfon untuk menghubungi nara sumber yang kompeten dalam memperoleh informasi yang aktual.
Selama KKPT di Harian Umum Kompas, praktikan terjun langsung ke lapangan, dan melakukan peliputan di wilayah Jakarta.
Dalam proses peliputan, praktikan selalu menjaga hubungan baik dengan nara sumber, karena dengan menjaga hubungan baik tersebut akan dapat mempermudah hubungan komunikasi antara wartawan dengan nara sumber apabila sewaktu-waktu membutuhkan berita yang aktual dan terpercaya.
Selain melakukan peliputan, praktikan pun melakukan mambuat naskah berita. Sebuah naskah berita yang di buat paraktikan menjadi hal yang paling penting kerena disitulah dapat dinilai sejauh mana hasil peliputan yang dilakukan.


Evaluating
Evaluating adalah evaluasi hasil kerja kegiatan keredaksian desk metropolitan sangat penting dilaksanakan dalam mempertahankan dan meningkatkan kinerja agar tetap sejalan dengan perusahaan.
Evaluating yang dilakukan redaksi HU Kompas yaitu dilakukan melalui rapat harian dan mingguan. Rapat harian di redaksi Kompas dilaksanakan tiap pagi dan sore hari. Rapat harian yang dilaksanakan setiap pagi pukul 09.30 itu merupakan rapat evaluasi berita yang sudah terbit, dan membandingkan berita Kompas dengan koran lain. Rapat tersebut di hadiri oleh para kepala desk masing-masing rubrik. Di dalam rapat itu pula pembuatan tajuk rencana di tentukan. Kemudian rapat harian atau rapat buget yang di laksanakan setiap sore sekitar pukul 05.30 , yang dihadiri oleh para kepala desk yang dipimpin oleh Redaktur pelaksana (Redpel) adalah rapat untuk menentukan headline.
Sedangkan rapat mingguan evaluasi dan proyeksi dilakukan seminggu sekali, setiap hari Senin, Selasa, dan Rabu. Setiap hari Senin pukul 11.00-02.00 terdapat Rapat pimpinan redaksi yang dihadiri oleh sekertaris redaksi, Redpel atau Pemimpin redaksi. Pada Hari Selasa pukul 11.00 terdapat rapat pemimpin Kompas dengan Maneger Sirkulasi. Kemudian setiap hari Rabu jam 14.00-16.00 terdapat rapat redaksi lengkap bersama para kepala desk masing-masing rubrik dan pemimpin redaksi.
Wartawan dan peserta magang mempunyai persamaan dan perbedaan sebagai berikut:
Persamaannya yaitu:
Diberikan tanggung jawab yang sama untuk mendapatkan peristiwa atau materi yang dapat dijadikan sebagai bahan berita.
Wartawan dan peserta magang sama-sama memberikan bahan berita atau data sesuai dengan deadline masing-masing rubrik.
Perbedaannya yaitu:
Wartwan Kompas mendapatkan gaji atau penghasilan, sedangkan peserta magang hanya mendapatkan uang transfortasi dan uang makan per hari.
Data hasil liputan yang dijadikan berita oleh wartawan kompas dipastikan dapat dimuat, sedangkan dari peserta maggang belum tentu bisa di muat kerana harus disesuaikan dengan karakteristik gaya penulisan berita Kompas.
Berdasarkan hasil laporan tersebut dapat kita ketahui bahwa pelaksaan kegiatan kedaksian di Harian Umum Kompas sangat optimal dengan di lakukannya evaluasi, karena ada evaluasi tersebut praktikan dapat mengetahuinya bahwa evaluasi itu sangat diperlukan dan dibutuhkan, dan perlu di otimalkan untuk mendorong seluruh jajaran redaksi agar berkarya lebih baik.
Hambatan dan Usaha
Hambatan atau kendala yang dihadapi oleh praktikan dalam melaksanakan kegiatan KKPT di desk metropolitan Harian Umum Kompas adalah sebagai berikut:
Kurangnya jumlah halaman pada rubrik metrolopitan, 3 halaman untuk rubrik metropolitan sepertinya tidak cukup mewadahi berita metropolitan seputar wilayah Jabotabek dan Banten, sehingga wartawan desk metropolitan dalam mengembangkan penulisannya menjadi terbatas.
Praktikan sering mendapatkan kesulitan apabila mendapatkan nara sumber yang tidak mau terbuka kepada wartawan.
Usaha-usaha yang di lakukan dalam mengatasi berbagai hambatan tersebut di antaranya sebagai berikut:
Untuk penambahan halaman pada rubrik metropolitan masih dalam pertimbangan redaksi.
Dalam menghadapi kesulitan menghadapi nara sumber yang tertutup, praktikan tidak selalu tergantung pada satu nara sumber itu. Praktikan mencari nara sumber lain yang mempunyai kapasitas yang sama.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan langsung oleh praktikan dalam pemberitaan rubrik metrolopitan di Harian Umum Kompas Jakarta, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Pemberitaan rubrik metropolitan di Harian Umum Kompas sudah memenuhi standar pemberitaan yang baik dikarenakan para wartawan dan proses produksinya begitu profesional.
Pemberitaan di rubrik metropolitan begitu kreatif karena di dalam rubrik tersebut terdapat beragam rubrik khusus yang isinya bisa membuat menarik selera pembaca.
Harian Umum Kompas merupakan surat kabar nasional yang dapat diterima oleh mayarakat luas sehingga surat kabar Kompas dapat dijadikan media yang tepat untuk menyampaikan informasi yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat.
Surat Kabar Harian Umum Kompas merupakan surat kabar nasional yang menyisipkan pemberitaan wilayah lokal, salah satunya terdapat di rubrik metropolitan yang pemberitaanya meliputi wilayah Jabotabek dan Banten.

5.2 Saran
Hal-hal yang mungkin dapat membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam pemberitaan rubrik metropolitan di Harian Umum Kompas adalah:
Sebaiknya kualitas pemberitaan rubrik metropolitan harus lebih di tingkatkan dan atau dipertahankan karena persaingan ketat media massa kian hari akan semakin berkembang.
Sebaiknya seluruh wartawan Harian Umum Kompas tidak hanya mementingkan isi berita saja, namun harus juga mementingkan faktor aktualitas berita yang di muat. Begitu juga wartawan Kompas harus lebih mementingkan standar etika jurnalistik yang berlaku. Hal itu dapat bermanfaat untuk tetap memperkuat kredibilitas media massa.
Sebaiknya seluruh wartawan Harian Umum Kompas, kususnya wartawan desk metropolitan mampu melakukan koordinasi sekaligus sosialisasi yang lebih baik lagi dengan sesama watawan, baik wartawan Harian Umum Kompas berlainan desk, maupun wartawan dari surat kabar lain, karena hal tersebut akan berpengaruh terhadap kualitas pemberitaan.






DAFTAR PUSTAKA
Arni, Muhamad Komunikasi Organisasi,. Jakarta; PT. Bumi Aksara, 1995
Assegaf, H. Dja’far. Jurnalistik Masa Kini, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1991.
Djoroto, Totok. Manajemen Penerbitan Pers, Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya, 2000.
Effendy, Onong Uchana. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek, Bandung: CV Mandar Maju, 1986.
----------------, Ilmu Teri Dan Filsafat Komunikasi, Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1997
Romli, Asep Syamsul Jurnalistik Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya, 1999
Saeful Muhtadi, Asep. Jurnalistik Pendekatan Teori Dan Praktek, Jakarta: PT.
Logos Wacan Ilmu, 1999.
Wahyudi, J.B. Komunikasi Jurnalistik: Pengetahuan Praktis Kewartawanan Surat Kabar, Majalah, Radio Dan TV, Bandung: Alumni, 1991

Monday, May 22, 2006

KAMPUS KU

opini 1
KEPATUHAN UNTUK BERKUASA

>>Oleh Ariyandi Gunawan


Kehidupan modern yang tengah kita jalani sekarang ini, merupakan kehidupan yang penuh kepalsuan. Namun ironisnya dengan kepalsuan tersebut kita dapat berkuasa.
Apa sebanarnya kepalsuan itu? Sesuatu yang tidak asli atau sesuatu yang bukan sebenarnya. Sesuatu tersebut adalah tanda, dimana segala proses bisa dijadikan identitas. Kemudian dengan identitas itu pula manusia terjebak dalam jurang kepalsuan. Ketika identitas tersebut bersebrangan dengan realitas yang ada. Tetapi tidak menutup kemungkinan meski kita terjebak dalam jurang kepalsuan. Kita masih mampu mendapatkan kekuasaan jika kita menuruti aturan dari kekuasaan itu sendiri.

Sebagian orang sadar bahwa untuk mendapatkan suatu tujuan tentunya memerlukan proses terlebih dahulu, dan proses tersebutlah yang mengajarkan kita untuk mendapatkan kekuasaan. Memahami realitas yang ada, dan belajar dari pengalaman merupakan bekal untuk mendapatkan kekuasaan. Lalu, apakah proses tersebut dapat dijadikan identitas?
Didalam kehidupan dunia modern sekarang ini apa saja bisa dijadikan identitas. Misalnya; saya sebagai mahasiswa, mempunyai tugas yaitu kuliah. Kuliah tersebut merupakan bagian dari proses untuk mendapatkan kekuasaan. Setiap proses yang saya lakukan di dalam perkuliahan semuanya memiliki identitas tersendiri. Ketika selama satu semester saya mengikuti salah satu mata kuliah, berarti selama itu pula saya menjalani proses dan identitasnya terdapat pada nilai mata kuliah yang saya ikuti tersebut. Begitu pula ketika saya lulus, berarti saya sudah mengikuti semua proses perkuliahan dan identitasnya adalah gelar kesarjanaan.

Sistem yang mengeluarkan identitas

Melihat pada contoh yang saya terangkan di atas. Disaat kita berproses dalam perkuliahan tersebut tentunya kita terikat dengan sistem yang berlaku di sana atau dalam Universitas yang kita tempati. Segala proses tersebut sesuai dengan prosedur, aturan atau mekanisme dari system yang telah ditetapkan. Dengan demikian yang mengeluarkan identitas kesarjanaan kita pun tidak lain dari system itu pula. Misalnya; dengan keluarnya ijazah sebagai tanda bukti gelar kesarjanaan. Kita berproses hanyalah untuk memenuhi standar kesarjanaan yang telah ditentukan dalam sistem yang berlaku. Tidak salah jika kita mengikuti kuliah hanyalah untuk mendapatkan gelar kesarjanan semata. Kemungkinannya gelar tersebut dapat digunakan sebagai bekal untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan untuk mendapatkan kekuasaan.

Belajar

Disadari atau tidak, disaat kita mempunyai tujuan bahwa kuliah itu hanya untuk mendapatkan pekerjaan semata, atau menjadi pemimpin bangsa sekalipun. Tentunya proses yang kita lalui hanyalah untuk mendapatkan kekuasaan. Bukannya belajar untuk mencari kebenaran melainkan belajar untuk mencari kekuasaan. Jadi perkuliahan yang kita lalui itu merupakan tugas belajar untuk berkuasa.
Dimana kita belajar disitu pasti ada gurunya. Bukan dosen seutuhnya, bukan rector, bukan dekan, bukan dosen wali dan juga bukan ketua jurusan. Lalu siapa? Kekuasaanlah guru kita sebenarnya. Merujuk pada apa yang diterangkan oleh Foucault seorang pemikir posmodern. Foucault menerangkan bahwa kekuasan dalam masyarakat modern tidak bekerja secara terang-terangan dengan adanya raja yang memerintah atau adanya otoritas individual yang berkuasa dan mengatur kehidupan seseorang. Kekuasaan justru bekerja secara tidak terlihat, tanpa disadari dengan praktik disiplinisasi. Teknis disiplinisasi ini di antaranya melalui penetapan aturan dan berbagai prosedur kegiatan, jadwal pelaksanaan, dan tujuan kegiatan yang menghasilkan keteraturan.

Disana tidak mungkin ada dosen, rector, dekan ataupun ketua jurusan dapat mengontrol mahsiswanya satu persatu sebagai polisi moral dalam setiap kegiatan perkuliahannya. Akan tetapi, kehidupan di kampus atau didalam perkuliahan itu sendiri dikontrol oleh serangkaian mekanisme, dalam hal ini terkait dengan teknis disiplinisasi. Semua mekanisme itu membentuk jaringan kekuasaan yang memaksa seorang mahasiswa untuk mengikuti aturan sehingga menjadi terkontrol, patuh dan disiplin. Contoh; agar mahasiswa tidak mengulang satu mata kuliah yang dipelajarinya mereka harus mengikuti aturan yang wajib seperti mengikuti UTS-UAS dan juga membayar SPP.

Peranan dosen yang mengajar tidak bisa mengukur kemampuan mahasiswanya secara otentik. Karena mereka hanya terikat pada peraturan yang ada sendiri yaitu dengan adanya hasil ujian mahasiswanya saja. Pantas saja jika diantara mereka menganggap bahwa IPK sebagai identitas prestasi mahasiswa. Karena mereka hanya bisa mengukurnya dari sana.
Pantaskah mereka dijadikan guru? Jadi ketika kita tertunduk dan patuh terhadap system yang ada dalam perkuliahan, melebihi kewajiban kita untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dan menjadikan kepatuhan itu sebagi kewajiban mahasiswa untuk mendapatkan kekuasaan disaat lulus nanti. Tanpa kita sadari bahwa perkuliahan yang kita jalani itu hanyalah belajar pada kekuasaan untuk mendapatkan kekuasaan kembali. Buktinya kita lebih tertunduk patuh terhadap peraturan dibandingkan tertunduk patuh pada apa yang kita pahami dari ilmu yang kita pelajari didalam perkuliahan.
(Media PersFamplet, BPPM Pasoendan FISIP Unpas)
------------------------------------------------------------------------------------------------
opini 2
Kedepankan Pendidikan Demokratis Didalam Kampus

>>Ariyandi Gunawan
Di masa sekarang ini, tampaknya kehidupan kampus harus secara kritis mampu menilai jalannya arah kehidupan perekonomian, politik, hukum dan segala aspek penting kehidupan bangsa. Yang sekarang berada dalam alur ketidakpastian ataupun keterpurukan. Harus kita sadari dengan seksama bahwa untuk menghadapi hal tersebut tentunya mahasiswa atau kaum muda harus mempersiapkan diri mencari solusi atas keadaan seperti itu. Mahasiswa sebagai kaum terpelajar harus mampu melakukannya. Karena itu merupakan kemampuan-kemampuan yang mutlak harus dimilikinya. Namun kemampuan itu akan muncul jika pada saat pendidikan didalam kampus mengalami demokratisasi.

Mengenai demokratisasi didalam kampus, secara sederhana dapat dikatakan yaitu kebebasan bagi dosen untuk mengajar dan bagi mahasiswa untuk belajar. Tanpa adanya intervensi dan refresi dari pihak luar seperti; pemerintah, aparat keamanan, begitu juga masyarakat. Dan yang paling dekatnya, tidak boleh ada tekanan institusional dari dalam universitas itu sendiri.

Terkadang kita meski tahu, bahwa dalam operasionalnya sering terjadi didunia pendidikan. Adanya generalisasi pemahaman yang salah terhadap apa yang kita pelajari. Hal ini akan memicu terjadinya pendidikan yang dipaksakan lewat indoktrinasi kurikulum atau rekayasa kurikulum yang bermuatan kepentingan-kepentingan penguasa. Dengan begitu ilmu telah dijadikan sebagai alat kekuasaannya. Misalkan, dalam satu mata kuliah digunakan penguasa untuk melakukan penanaman doktrin (mahasiswa hanya diajari satu cara pandang saja, tidak boleh ada perbedaan pendapat baik dengan dosennya atau pun teori yang dipelajarinya).

Ingat! Ilmu dan sekolah (Universitas) bisa dijadikan alat propaganda yang mempunyai nilai tinggi bagi kepentingan penguasa.
Kalau hal tersebut terjadi, akan berdampak buruk pada mahasiswa. Karena adanya pembatasan pikiran kritis seperti itu memungkinkan mahasiswa menjadi cenderung tidak kritis terhadap kekuasaan dan tidak mampu menghadapi permasalahan kemasyarakatan, Mahasiswa menjadi loyo, senang hura-hura, individualisme semakin berkembang lalu saling bahu-membahu memelihara status quo.

Permasalahan lain untuk segera disikapi adalah pendidikan yang sering didasarkan pada teori yang kurang relevan terhadap perkembangan zaman sehingga pendidikan di dalam kampus terlihat kurang mampu mengimbangi dinamika sosial, perkembangan ilmu pengetahuan dan percepatan dunia terkologi, namun yang paling tepat untuk saat ini saharusnya teori yang relevan yaitu teori-teori yang lebih memberikan perhatian pada masalah kemasyarakatan. Untuk menjamin supaya demokratisasi di dalam kampus bisa berdiri tegak, permasalahan yang menyangkut mahasiswa itu tadi berlaku pula bagi dosen atau pengajarnya, dosen dibebaskan untuk mengembangkan segala kegiatan yang akan meningkatkan kemampuan intelektualnya bukan hanya mengejar pangkat, gelar dan makan gaji buta karena jarang masuk kelas, dosen dianjurkan mampu membuat penemuan-penemuan baru lalu mempresentasikan penemuannya itu kepada mahasiswa dan dipublikasikan ke masyarakat, tanpa adanya sensor dari pemerintah atau pun institusi pendidikannya, dan biarkan dosen mengajar menurut cara-cara mereka sendiri yang mereka anggap profesional tanpa ada tekanan institusional dari dalam universitas.

Pada dasarnya konsep pendidikan yang demokratis itu adalah menghormati manusia sebagai mahluk terdidik serta mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan artinya tidak ada pemaksaan, mengedepankan sikap kritis dan memudahkan mahluk terdidik untuk mengeluarkan segala kreativitasnya tanpa ada diskriminasi, yang pada intinya terletak pada kebebasan untuk mereguk atau menggali ilmu pengetahuan yang diinginkannya, menyusun segala kesimpulan-kesimpulan serta menyatakan pendapat dengan bebas!

Faktor yang penting dalam gerakan pendidikan dan pembebasan adalah perkembangan kesadaran Conscientization. Paulo Freire seorang pemerhati masalah-masalah pendidikan berupaya untuk mendobrak proses pendidikan tradisional “sistem bank” dimana guru mentransfer pengetahuan kepada murid. Guru berposisi sebagai subjek, sedangkan murid sebagai objek. Dalam system ini tidak terjadi komunikasi sebenarnya antara guru dan murid. Praktek pendidikan seperti ini terefleksikan dalam masyarakat yang tertindas dan sekaligus memperkuat struktur yang menindas. Feire mengatakan bahwa titik tolak dari pendidikan yang memanusiakan pastilah pemecahan kontradiksi antara guru dan murid. Pendidikan bukan semata-mata persoalan transfer ilmu atau pengetahuan satu arah (guru ke murid) pendidikan adalah sebuah proses “mengetahui” yang didasarkan pada subyektivitas atau mengkonstruksi dialog antar manusia.

Proses pendidikan hanya bisa diselenggarakan jika guru memposisikan sejajar dengan murid. Artinya, guru dan murid adalah subjek yang sama-sama ingin tahu tentang dunia dan harus mengubahnya agar lebih baik. Hal tersebut harus dijalankan pada setiap ruang lingkup pendidikan baik formal maupun non-formal. Agar proses pendidikan berjalan secara demokratis, tidak membatasi pemikiran kritis, dan membuka ruang bagi kreatifitas berpikir.
Ketika kehidupan kampus mengalami demokratisasi kemungkinan untuk bisa mendapatkan solusi atas permasalahan kemasyarakatan yang menyangkut kepentingan kehidupan bangsa, kemungkinanya besar sekali dan pasti mampu! namun di saat mahasiswa memusatkan perhatian kepada masalah-masalah itu haruslah didukung dengan aktivitas berorganisasi yang berorientasi pada gerakan intelektual (kelompok-kelompok diskusi dan aksi) yang mampu membawa mereka pada dunia kemasyarakatan yang nyata, dimana mereka mampu berinteraksi secara langsung untuk memecahkan segala persoalan yang melandanya.
------------------------------------------------------------------------------------------------
opini 3:
Potensi Fungsi Kritis Pers Mahasiswa
>> Ariyandi Gunawan


Pada masa rezim orde baru yang dalang kondangnya bernama Soeharto, banyak pers umum yang takut bersuara keras dalam menyampaikan aspirasi rakyat. Suaranya begitu lembut karena takut dibredel Departemen Penerangan Republik Indonesia (Depen RI). Pers umum hanya berani bersuara keras ketika dirinya menjadi megaphone suara pemerintahan tanpa interupsi, yang imbasnya mampu menutup keran demokrasi politik. Hal itu terbukti karena informasi yang dikonsumsi masyarakat hanya seputar wacana atau ‘lagu-lagu’ pembangunan yang serempak disuarakan oleh seluruh aparat pemerintahan. Saking merdunya, ‘lagu-lagu’ pembangunan itu berhasil membuat rakyat “tertidur”- potensi akal dan sikap kritisnya menurun.
Tidak lama kemudian, masyarakat mulai terbangun karena lapar. Mereka mulai mencari nasi, dan lauk pauknya di dapur. Tapi, ternyata makanan di dapurnya sudah kosong. Masyarakat mulai sadar dari tidurnya, ternyata harga sembako (sembilan bahan pokok) tengah melambung tinggi, kemudian berlanjut hingga mencapai krisis multidimensi.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Masyarakat mulai mencari tahu penyebabnya. Mereka seperti haus akan informasi, tentang mengapa bangsa mengalami krisis? Alhasil, lagi-lagi masyarakat hanya mendapatkan informasi yang membosankan tentang wacana pembangunan belaka. Bersamaan dengan itu, akhirnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pers umum menjadi turun. Hal ini disebabkan pers umum tidak mampu menyampaikan aspirasi masyarakat tentang perubahan sosial-politik, ekonomi, dan kebudayaan yang tengah dibutuhkannya.

Namun, sebagian masyarakat pun ada yang memakluminya. Karena pers umum masih ketakutan untuk “menggonggongi” pemerintahan yang kinerjanya diduga disfungsional. Ketakutan tersebut muncul setelah beberapa surat kabar nasional, dan penerbitan lainya, diberedel atau izin usaha penerbitannya dicabut Depen, dengan alasan klasik bahwa pemberitaannya telah menjurus pada sifat menghasut, dan itu dapat mengganggu stabilitas negara.

Masyarakat mulai menatap jalan alternatif, suatu jalan yang biasanya digunakan untuk menghindari kemacetan informasi. Jalan yang sangat cocok untuk dilalui oleh masyarakat dalam mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya pada waktu itu. Jalan itu berada di dalam kampus, namanya pers mahasiswa (persma). Saat itu media persma yang isinya kental dengan nuansa pemberontakan, idealis, dan juga kritis dalam menyampaikan aspirasinya, banyak yang dikonsumsi masyarakat umum. Begitu juga persma waktu itu memposisikan dirinya sebagai media koar revolusioner dan atau media yang dapat menyampaikan informasi yang mengakomodasi kepentingan rakyat, meskipun berada dalam kekangan rezim orde baru yang terkenal represif.

Menginjak pada masa reformasi, bersamaan dengan tumbangnya rezim orde baru, setelah Abdurahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ketiga, menghapuskan Depen, angin segar kemerdekaan pers berhembus kencang. Masyarakat mulai bebas mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia (UU No. 39/ 1999/ pasal 21). Industri pers tampak begitu gencar memenuhi segala kebutuhan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Informasi yang diproduksi oleh persma pun, yang ciri khasnya sarat dengan nuansa idealisme, kini dapat pula diproduksi oleh media dari pers umum, bahkan ada juga yang menampilkan suplemen khusus yang memuat seputar kehidupan mahasiswa.

Bila melihat kondisinya seperti itu, persma harus mulai berintrospeksi, dan mengevaluasi dirinya dengan menjawab beberapa pertanyaan yang saya tawarkan. Pertama, apa yang seharusnya diberikan persma kepada masyarakat sekarang? Kedua, akankah eksistensi persma pupus oleh “kemenangan” industri pers umum? Ketiga, apa yang harus diperjuangkan persma sekarang? Sebelum menjawab semua pertanyaan tersebut, alangkah baiknya bila persma mulai merenungkan kembali apa yang terkandung dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi (TDPT).

Kegiatan akademis mahasiswa di dalam kampus, secara ideal, dan normatif, adalah menjalankan TDPT dengan mengimplementasikan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam hal ini, apa yang diimplementasikan oleh persma pun merupakan perwujudan dari TDPT. Demikian persma dalam melakukan aktivitasnya harus selalu berorientasi pada pencarian kebenaran secara objektif, ilmiah, dan bermanfaat bagi seluruh lini kehidupan bermasyarakat maupun berbangsa.
Bila TDPT dijadikan misi persma, tentunya ada dua langkah yang perlu dijalankan. Langkah tersebut ditujukan untuk eksternal, dan internal kampus.

Secara internal, persma bisa mengembangkan potensi pendidikan dan pengajaran mahasiswa maupun civitas akademika, melalui diskusi dan memberitakan perkembangan ilmu pengetahuan dan wacana sistem pendidikan. Sehingga langkah tersebut dapat membangun tradisi intelektual insan kampus. Namun, agar pembangunan tradisi intelektual tersebut didukung oleh berbagai pihak, dan berjalan dengan kondusif, sekaligus demokratis - kontrol, transparansi, dan koreksi terhadap kebijakan birokrasi kampus harus tetap dijalankan. Fungsi persma seperti itu sulit dilakukan oleh pers umum karena adanya keterbatasan menyangkut kepentingan pembaca secara geografis. Begitu juga jarang sekali terlihat ada pers umum yang mengontrol dan mengoreksi tatanan birokrasi di dalam institusi pendidikan secara kontinyu. Demikian persma dapat memperkuat eksistensinya di dalam kampus dengan mengisi kelemahan pers umum.

Secara eksternal, wujud pengabdian persma kepada masyarakat adalah memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun sebelum diberikan, alangkah baiknya persma mengetahui terlebih dahulu apa yang dibutuhkan masyarkat. Hal itu patut dipertimbangkan kerena menyangkut bagaimana media persma dapat dibaca oleh masyarakat. Secara realistis, setiap persma sudah tentu menginginkan medianya banyak yang dibaca, baik oleh mahasiswa, dosen, maupun masyarakat umum. Apalagi bila medianya tersebut dapat dijual dan laris. Demikian minimal latar belakang pembaca secara geografis, dan psikografisnya harus diketahui persma.

Secara geografis, jarak liputan dan tempat kejadian yang diberitakan persma menyangkut kepentingan daerah setempat, sehingga medianya lebih cepat sampai ke pembaca. Sedangkan secara psikografis, latar belakang pembaca atau masyarakat yang sampai dewasa kini masih mempunyai persepsi, menganggap posisi mahasiswa sebagai agen of change, yang idealis, kritis, indipenden, dan konstruktif dalam menyampaikan aspirasi rakyat merupakan suatu faktor yang dapat memperkuat kredibilitas persma di mata masyarakat umum, dan dapat pula membangun kepercayaan (trust) masyarakat terhadap persma. Hal itu pun didukung pula oleh citra persma yang masih baik di mata masyarakat, karena sampai saat ini belum terdengar ada stigma dari masyarakat yang menyudutkan eksistensi persma.

Begitu juga, persma tidak mudah di intervensi oleh kepentingan pihak lain, misalnya partai politik. Karena intervesni secara wacana itu lebih sulit dibandingkan dengan intervensi secara taktis politis dalam gerakan ekstra parlemen seperti demonstrasi. Kesulitan pihak lain untuk mengintervensi secara wacana kepada persma dapat dilihat dari begitu kentalnya budaya diskusi persma yang selalu mencari batasan-batasan ideal untuk arah kahidupan yang lebih baik bagi bangsa dan negara. Demikian, ide-ide pemikiran mahasiswa yang selalu mengedepankan nilai-nilai yang ideal itu merupakan benih yang cepat atau lambat dapat berbuah gerakan moral mahasiswa yang independent dan konstruktif.

Persma dapat menyaingi media lokal
Langkah persma secara eksternal, dapat menyaingi media lokal yang diterbitkan oleh pers umum. Hal tersebut dapat terjadi bila persma mampu menjalankan metode investigative reporting sebagai proses perjuanganya dalam melakukan kritik, koreksi, dan kontrol sosial, terhadap pemerintahan daerah (pemda) setempat secara independen, dan konstruktif. Perjuangan seperti itu dapat mengisi kelemahan media lokal - pers umum yang belum kuat dalam membangun fungsi kritisnya di daerah.

Yang melemahkan fungsi kritis media lokal tersebut diakibatkan oleh kecenderungan yang prioritasnya hanya berorientasi pada keuntungan semata. Indikasinya adalah, semakin banyaknya media lokal yang dekat dengan pemda hanya menjadi corongnya saja, dalam artian media lokal seperti meng“iklan”kan pejabat daerah untuk popularitasnya semata, dan iklan tersebut dibayar oleh pejabat yang bersangkutan.

Media lokal, yang seharusnya mampu menjawab kebutuhan masyarakat seputar informasi yang medalam mengenai kondisi daerah. Kerena media lokal bisa lebih konsentrasi pada wilayah isu yang berada pada area terbatas. Tapi ternyata tidak terealisasikan oleh sebagaian media local – pers umum. Hal itu disebabkan media lokal yang eksis di daerah terlalu bersikap pragmatis, dan minimnya kesejahteraan bagi wartawannya. Dalam hal ini sikap pragmatis media lokal pun dapat terlihat ketika hanya menampilkan informasi yang bersifat sensasional, seperti sex dan kriminal belaka.

Bila pemberitaannya masih seperti itu, kemudian masyarakat semakin selektif dan kritis dalam menerima informasi, maka media lokal yang pragmatis tersebut akan ditingggalkan pembacanya. Kemudian ada kemungkinan besar masyarakat mulai melirik kembali persma, bila persma masih konsisten berpegang pada idealismenya.

Langkah persma secara eksternal dalam menyikapi persoalan daerah, atau mengontrol kekuasaan di pemda tersebut diharapkan tidak mengabaikan untuk mewacanakan isu nasional yang dijadikan common issue gerakan mahasiswa dalam menyikapi persoalan nasional. Karena persma merupakan bagian integral gerakan mahasiswa, itu pun terbukti dari kiprahnya sejalan dengan gerakan mahasiswa 1966, 1974, dan 1998. Namun, dalam prosesnya tidak menggunakan teknis peliputan, apalagi menggunakan metode investigative reporting. Hal tersebut disesuaikan dengan realitas sarana dan prasarana persmanya sendiri. Bila realitas di persma minim waktu dan dana oprasional sehingga kesulitan untuk mengkritisi, atau memainkan fungsi kontrolnya terhadap kekuasaan nasional melalui pemberitaan yang komperhensif, dan mendetail. Maka di sini persma hanya bisa membentuk opini dan menganalisis persoalan melalui studi pustaka atau mengolah data dan informasi yang sudah ada dari pemberitaan nasional pers umum, kemudian dibentuk opini yang dapat dijadikan solusi bagi persoalan nasional.

Potensi persma dalam melaksanakan aktivitasnya yang mengedepankan idealisme dengan tidak mengabaikan standar etika jurnalistik adalah sebuah langkah yang professional. Kita dapat mengatahui bahwa perkembangan pers dewasa ini tengah membutuhkan tenaga professional. Hal tersebut dibutuhkan kerena kebebasan pers yang bertanggung jawab dapat terealisasikan dengan baik oleh profesionalisme wartawannya. Demikian, bila pers umum sadar akan hal itu, maka tenaga professional dapat di temukan dari kalangan persma. Karena persma sebelumnya sudah berpengalaman dalam kegiatan jurnalistik dan mengatahui arti kemerdekaan pers dari diskusi-diskusi yang tidak lepas mengiringi aktivitasnya.

BUKU TAMU KU

KLIK KOMENTAR DISINI

LIHAT KOMENTAR DISINI


7. febriana - 2006-08-25 11:43:37
blognya oke...smoga aktif terus nulis wlpun ga di kampus lg..
selamat ya dah jd sarjana smoga gelarnya ga sia-sia bagi diri sendiri, orang tua n orang2 di sekitar kmu...

6. dian upi - 2006-08-10 03:19:02
hello dude! tampilan blognya oke banget... tapi... orangnya.. ha..ha...ha... selamat yah dah di wisuda, met lieuuuur,.

5. septibelt - 2006-07-24 04:54:11
telah lahir seorang baru ......semoga dapat memberikan sumbang pikiran dan semangat kepada negara utk lepas dari jurang keterpurukan yang semakin dalam. ceilleeeehhhh puitis banget

4. Sahanya - 2006-07-19 11:06:37
kumaha sidang skripsi, beres? Sukseslah,nya. Ditunggu makan-makan & minum-minum na.ok

3. Sicute - 2006-06-19 05:28:50
jisssssssss....Uing bangga,,, boga babaturann selain beuki bF!!! ternyata jago oge nulis...Bro mun biSa mah nyieun tulisan tentang seks...biar gk Monoton iraha Leuleus Ups lulus

Wednesday, May 17, 2006

KUMPULAN CERPEN





Pertemuan yang Membawanya Kembali

- Ariyandi Gunawan**


Akhirnya Mimin tidak mampu lagi menahan penyakit yang dideritanya selama dua tahun ini. Dia menghembuskan nafas terakhir disisi Sarudin, suaminya. Sarudin tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya meneteskan air matanya ketika Mimin istrinya terbujur kaku tak bergerak dihadapannya. Tak lama ia beranjak keluar rumah untuk mengabarkan kematian istrinya ke mesjid terdekat dan kepada para tetangga sekitar kampungnya.Sarudin kini hidup sendiri. Anak gadisnya telah lama meninggalkan dia, setelah diajak pergi kekota oleh teman sekampungnya.
Kini Sarudin tidak punya apa-apa lagi selain gubuk tua tempat tinggalnya. Sepetak sawah satu-satunya harta peninggalan mendiang orang tuanya yang ia pergunakan bertahun-tahun untuk menghidupi keluarganya kini lepas terjual untuk biaya berobat istrinya. Sarudin sempat mempertahankan sepetak sawahnya itu dari tawaran developer yang sedang membangun villa mewah disekitar kampungnya. Tapi tidak ada jalan lain untuk mengobati penyakit TBC (Tuber Bakteri Colosa) yang diderita istrinya itu.Kenyataan harus menjual tanah, kebun atau sawah ketangan developer yang tengah membikin Villa mewah tersebut bukan hanya terjadi pada Sarudin. Tetangga-tetangganya pun harus mengalami hal yang sama. Kebanyakan mereka terpaksa menjualnya karena frustasi hasil panennya terjual dengan murah. Sedangkan untuk membeli pupuk atau pun pembasmi serangga sangatlah mahal.
Sarudin termenung sendiri di teras gubuknya sambil membaca secarik kertas. Matanya memerah dan berkaca-kaca, sebentar-sebentar dia menarik nafas panjang. Secarik kertas itu adalah wasiat yang ditulis istrinya sebelum meninggal. Kembali Sarudin mengenang ucapan istrinya yang selalu berharap ingin pergi ke kota dikala sudah sehat untuk bertemu dengan anak gadisnya, Rani. Awalnya Sarudin dan Mimin tidak menyetujui kepergian Rani. Dengan alasan bahwa hidup di kota tidak sedamai hidup di desa. Waktu itu Rani baru lulus SMP. Karena tidak mampu untuk membiayai anak gadisnya untuk melanjutkan ke SMA, maka Sarudin dan Mimin tidak bisa berbuat apa-apa.
Naas memang karena bertepatan pada saat itu pula sawahnya mengalami kekeringan akibat musim kemarau panjang sehingga panennya pun gagal.Mimin benar-benar tidak ingin ditinggalkan anak satu-satunya itu. Namun kenyataan berkata lain. Ketika itu Mimin hanya bisa menangis di stasiun kereta menjelang kepergian Rani ke kota. Hanya isak tangis bergelimang air mata dan lambaian tangan saja yang bisa ia lakukan disaat Rani menaiki kereta yang akan membawanya pergi. Setelah selama hampir setahun ditinggalkan Rani. Mimin jatuh sakit.Matahari mulai tenggelam dan langit mulai gelap. Tak lama lamunan Sarudin pun terhenti. Ia langsung beranjak masuk ke dalam rumahnya. Namun dia kembali termenung di ruang tengah. Dia menatap foto keluarga satu-satunya yang tergantung di bilik. Di foto itu terlihat wajah Mimin istrinya di sebelah kanan, Rani ditengah, dan Sarudin di sebelah kiri. Sarudin tersenyum memandang wajah Mimin di foto itu. Lalu ia berbicara sendiri “ Min, semenjak kau sakit aku selalu merindukan senyumanmu. Dan sambal yang dibuat olehmu sangat nikmat di saat kita makan di tengah sawah. Meski setiap hari kita hanya bisa makan nasi, ikan asin, sambal terasi ditambah lalab dan terkadang makan daging ayam dikala telah mendapatkan hasil panen,” ucapnya sambil mengelus wajah Mimin di foto itu.
Sarudin tidak pernah mengeluh dengan kehidupannya di desa yang hanya hidup dari cangkul
dan sepetak sawah. Dia tidak pernah memperdulikan orang-orang di kampungnya yang senang mengkhayal hidup di kota yang katanya banyak sekali tempat hura-hura, mobil mewah, hotel-hotel dan segala bentuk kemewahan kota lainnya.“Oh...anakku Rani mengapa kau terpesona oleh kehidupan kota yang sulit ramah kepada orang desa seperti kita”, kembali Sarudin berbicara sendiri sambil menatap wajah Rani di foto itu. Lalu mengakhiri tatapan matanya dan mengambil foto yang tergantung tersebut lalu kembali bicara, “Rani, aku akan ke kota besok untuk mencari mu,” ungkapnya. Tak lama kemudian dia pergi menuju kamar dan menuliskan surat untuk anaknya. Setelah selesai, kembali dia terdiam merenung. Dan tak lama Sarudin pun tertidur.Di dalam kereta Sarudin hanya terdiam. Dia duduk bersandar sambil menikmati pemandangan di sisi jendela kaca kereta. Lalu beberapa saat setelah itu dia membuka ranselnya seraya mengambil foto keluarganya. Tak henti ia menatap foto tersebut dan tak terasa pula dia tertidur sambil mendekap foto itu .
Hari sudah hampir gelap ketika suara rem yang panjang berderit. Sarudin terbangun dan langsung memasukan foto itu ke dalam ransel. Dia segera meloncat turun dari kereta. Sarudin berjalan di stasiun sambil menanyakan alamat yang ia bawa.Hari semakin gelap, lampu-lampu menghiasi kota itu dengan warna-warni. Jauh beda dengan di desa yang paling banter menggunakan lampu patromak. Mungkin kalau orang-orang kampung betah hidup di kota karena senang dengan kegemerlapan kehidupannya yang sama dengan lampu-lampu di jalan kota. Berjalan melintasi sudut kota terlihat banyak sekali tukang becak sedang asik bermain domino. Becak-becak berjejer di pinggir jalan, Sarudin lalu teringat kembali kata-kata tetangganya yang bekerja menjadi tukang becak di kota. Katanya,”kini kerbau telah berganti menjadi besi-besi beroda,” orang desa telah lupa dengan cangkul, kerbau dan peralatan kebun atau sawah asli mereka.Sampailah ia di sebuah komplek perumahan.
Lalu Sarudin menanyakan alamatnya kembali kepada orang yang ada disana. Ternyata setelah ditanyakan, alamatnya sudah tepat dan orang itu menunjukan rumah yang akan dituju Sarudin. Tanpa pikir panjang dia pun memasuki komplek tersebut. Dan sampailah ia di depan pintu gerbang rumah bertingkat dua yang dituju. Namun dia kebingungan untuk memasukinya karena gerbang besi rumah itu sangatlah tinggi. Lalu tiba-tiba lampu sebuah mobil menyoroti dia. Lampu yang terang dan suara klakson memberi isyarat kepada orang di dalam rumah. Tak lama gerbang itupun terbuka. Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri. Dan bertanya kepada orang yang membukakan gerbang rumah itu. Bertepatan dengan itu, terlihat seorang wanita cantik berperawakan kurus tinggi dari kejauhan berjalan mendekati Sarudin. Wanita it uterus melangkahkan kakinya. Tiba-tiba Sarudin terbelalak kaget. “Rani, inikah engkau anak ku?,”tanyanya. Wanita cantik itu memandanginya dengan sorot mata yang tajam. Dan tak lama wanita itu memekik dan memeluk Sarudin. “Ba..pak”, ucapnya tersendat-sendat sembari menitikan air mata.
Pertemuan itu sungguh mengharukan. Bapak dan anak menangis tersedu-sedu sambil berpelukan menumpahkan segala kerinduan yang sebelumnya terpendam.Rani mengajak bapaknya untuk masuk ke rumah itu. Dan Sarudin menurutinya. Dia memandangi setiap sudut ruangan di rumah itu. Ada banyak sekali kamar dan juga banyak sekali pria dan wanita berpasangan sedang asik ngobrol, dan ada pula yang bergandengan tangan memasuki kamar-kamar yang ada di rumah itu. Sarudin dan Rani duduk bersebelahan di kursi ruang tengah rumah itu. Mereka mengobrol hingga keakraban antara anak dan seorang bapak itu terlihat hangat. Sesekali Rani menanyakan ibunya. Namun Sarudin selalu menjawab ibunya dalam keadaan baik di kampung. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan mengenai Mimin yang padahal telah meninggal dunia.Sarudin makan dengan lahap dan Rani hanya tersenyum menatap bapaknya. Setelah makan Rani mengajak bapaknya untuk naik ke atas menikmati udara malam dan indahnya lampu-lampu kota dari ketinggian.
Sesampainya disana, Sarudin dan Rani kembali duduk bersebelahan di sofa yang ada di ruangan itu. Rani termenung sebentar lalu ia angkat bicara. “Pak, aku hidup di kota ini hanya bisa bekerja sebagai…” ucapnya tersendat “, ststt..st. sudah! Rani, Bapak sudah tahu apa yang sebenarnya kau kerjakan di kota ini,”tutur Sarudin memotong ucapan Rani.”Pak, maafkan Rani, yach..sebenarnya Rani ingin sekali kembali hidup tentram di desa, namun Rani belum siap menahan gunjingan tetangga-tetangga kita di sana,” ungkap Rani dengan mata yang berkaca-kaca. “Sudah Nak, memang para tetangga di kampung kita sudah mengetahui pekerjaanmu, namun bapak bersama ibumu tidak mempedulikannya karena belum terbukti kebenarannya,”ucap Sarudin penuh kesabaran. Tak terasa malam semakin larut, akhirnya Rani tertidur pulas disamping bapaknya.
Sarudin beranjak mengambil ransel yang dibawanya lalu membuka ransel tersebut dan dia ambil dua kertas serta sebuah foto keluarga lalu ia simpan di samping Rani yang sedang tertidur pulas. Sarudin mencium kening anaknya. “Selamat tinggal anakku,”ucap Sarudin sembari pergi meninggalkannya.Sarudin berjalan keluar rumah. Dia berjalan di keheningan kota, berjalan dalam perenungannya yang tak pernah terhenti dan sesekali dia menarik nafas panjang dengan sorot mata yang berkaca-kaca.
Semakin jauh ia berjalan hari pun semakin larut, selarut kepedihan hidupnya. Sampailah dia di stasiun kereta api. Namun ia kembali berjalan, menyusuri rel kereta api.Rani yang sedang tertidur tiba-tiba terjaga dan bangun mencari bapaknya namun dia hanya melihat dua kertas di sampingnya .Sarudin masih menyusuri rel tersebut. Tiba-tiba suara kereta api terdengar keras. Tetapi dia terus berjalan menyusuri rel itu dan berteriak dengan keras, “Mimin ..aku akan menemuimu!”.Rani terkejut membaca surat itu lalu menjerit menangis membangunkan orang-orang yang ada di sana. mereka menghampiri Rani namun ia sudah dalam keadaan pingsan sambil memegang kertas surat. Terlihat akhir tulisan dalam surat itu. “Nak, aku datang ke kota ini dengan kereta, dan kereta itu pula yang akan membawa aku menuju tempat ibumu sekarang berada”.
--------------------------------------------------------------------------------




Cerpen II:
Prasangka dari Lubang itu?
- Ariyandi Gunawan**
Sebenarnya tempat itu bukan pasar, melainkan jalan raya yang dijadikan pasar. Pasar itu hanya buka dari malam hari sekitar jam 01.00 sampai dengan jam 06.00 pagi. Kalau sekitar jam 7 masih tetap berada disana? “Wah, resikonya pasti di gusur tibum” jawab mang Engkos tukang kopi yang duduk disebelah kiri ku.“Ya, maklumlah kalau siang hari tempat ini milik pemerintahan kota” celetuk mang Maman tukang gorengan dari sebelah kanan ku, yang ikut nimbrung sambil ngopi bareng satu gelas berdua dengan ku.Para pedagang dipasar itu sepertinya memanfaatkan tempat tersebut agar tidak mubajir. Soalnya yang ku ketahui jalan raya itu kalau malam hari aktivitas kendaraannya sangat minim. Berbeda jika siang hari, sungguh kemecetan kendaraan jalan disana bisa-bisa membuat stress para pengemudinya.
Gemerlapnya cahaya lampu yang bergelantungan di atas setiap lapak para pedagang di pasar itu tampak menghiasi suasana malam. Lampunya ada menggunakan petromak, ada juga yang memakai lampu listrik. Adapun hilir mudiknya becak, gerobak dorong, sepeda motor sampai mobil Pick up ikut menghiasai aktivitas kehidupan disana.Sayur-syuran yang terhampar dilapak dan ayam-ayam potong yang bergelantungan di atas jongko itu tampak masih segar. Sepertinya senda gurau dan tertawaan renyah para pedagangnyapun ku rasakan sangat menyegarkan. Meskipun gundukan sampah, jalanan becek bercampur lumpur kurang sedap dipandang mata.Waktu terus bergerak mendekati pagi. Sayup-sayup terdengar suara azan dari menara mesjid besar di tengah kota sebelah pasar itu. Tak lama setelah mendengar selesainya azan, aku pergi meninggalkan pasar itu.
Sepanjang jalan aku berjalan berdesakan dengan para penjual maupun pembeli yang tengah bertransaksi. Yang paling dominan dalam bertransaksi disana sudah pasti ibu-ibu rumah tangga. Mereka tampak asik tawar-menawar harga dengan pedagang.Di sebuah perempatan jalan, dekat sebuah tiang lampu merah, tepatnya di atas trotoar sebelah toko emas yang tengah tutup, aku duduk menunggu sebuah angkutan kota. Aku duduk disamping tempat mangkalnya becak-becak yang berjejer. Sedangkan para tukang becaknya tengah asik bermain domino, dan uang taruhannya mereka simpan dibawah lipatan kardus tempat melemparkan kartu-kartu pilihannya. Mungkin mereka takut terkena razia oleh polisi kerena berjudi dijalanan. Selain bermain domino, adapula tukang becak yang tengah asik mengotak-ngatik nomor togel dalam secarik kertas. Kebiasaan mereka seperti itu sering ku lihat, mungkin aktivitas tersebut bisa dijadikan pengobat rasa bosan pada saat menunggu penumpangnya.Saat matahari masih malu-malu menyentuh kulit bumi, aku sudah berada di rumah. Ketika memasuki kamar, istri dan bayi ku masih tertidur tampak begitu pulas. Perlahan – lahan ku hampiri mereka. Tidak lama kemudian istri ku terbangun sejenak ketika bibir ku menyambar keningnya. Hanya sejenak saja ia terbangun, lalu aku menyuruhnya untuk melanjutkan tidurnya kembali.Ku baringkan tubuh disebelah Indri. Anak ku itu meskipun masih bayi berumur 9 bulan tapi sudah tampak begitu cantik seperti ibunya. Aku berharap semoga nasib ku cepat berubah setelah lulus kuliah nanti. Aku ingin sekali membahagiakan istri dan anak ku itu.
Hidup dirumah kontrakan yang layak huni, makan-makanan yang bergizi, dan segala kebutuhan hidup yang layak lainnya.Bukannya aku tidak mampu memanjakan mereka, tapi aku tidak mau kalau harus mengandalkan harta orang tua. Lagi pula aku sudah terlalu banyak menyusahkan mereka. Dulu aku tak serius kuliah, kerjaan hanya main dan main. Alhasil dari main-main itu, jabang bayi tumbuh dari benih yang ku tanamkan kepada rahim Dewi diluar pernikahan.Sampai sekarang ini aku masih berstatus mahasiswa yang tengah menyelesaikan skripsi. Tetapi aku sudah bisa mencari uang sendiri. Aku bekerja menjadi wartawan free line di media surat kabar lokal.
Tambahan penghasilanya ku dapatkan dengan bekerja menjadi pelayan toko buku milik teman sekampus. Dari perkerjaan-pekerjaan itulah aku dapat menghidupi keluarga kecil ku dengan seadanya dan tanpa bantuan dari orang tua.Waktu terus berjalan, jam sudah menunjukan pukul 05.30, tapi aku belum juga bisa tertidur. Ketika akan beranjak dari ranjang untuk mengambil air minum, aku melihat sebuah lubang. Lubang sebesar bulatan pilter rokok itu tepat berada di bilik bambu kamar ku. Aku pun dapat melihat cahaya kecil dari lubang itu.Rasanya tidak mungkin bila lubang itu ku biarkan terbuka begitu saja. Aku harus menutupnya. Aku tak rela bila aku sedang melakukan hubungan layaknya suami dan istri di intip oleh tetangga sebelah. Aku tak ingin ada permusuhan dengan tetangga sebelah gara-gara lubang itu. Maklum, antara kamar tetangga sebelah dengan kamar ku itu hanya terhalangi oleh skat dari bilik bambu.Sebuah buku perkuliahan yang tergeletak di atas meja sebelah ranjang ku ambil dengan perlahan karena takut Dewi dan Indri terbangun. Selembar kertas ku sobek dengan perlahan dari buku itu. Lalu ku dekati lubang itu, dan habislah lubang itu ku jejali hingga tertutup rapat dengan kertas itu.
Setengah sadar, setelah tetidur cukup lelap, aku terpaksa bangun kerena kepala ku terasa ada yang menyirami air. Aku menyangka Dewilah yang berbuat demikian. Tapi aku sempat menatap atap kamar yang tampak ada genangan air, dan diluar terdengar suara hujan lebat. Sehingga pada saat itu juga prasangka kepada Dewi luntur seketika.Siang itu setelah memperbaiki genteng rumah yang bocor, aku melihat Dewi duduk di tengah rumah dengan muka cemberut. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Tapi sungguh, ia tampak begitu cantik bila sedang cemberut seperti itu. Lalu ia ku hampiri.“Dewi, siapkan makan dong, aku lapar, nih” tutur ku memohon. “Maaf mas, kan persedian beras kita sudah habis dari kemarin” ucapnya dingin. Mendengar ucapan seperti itu, aku jadi malu sendiri dan sedikit bingung soalnya uang didompet juga sudah ludes. “Tunggu sebentar ya sayang, aku pergi dulu” ucap ku sambil melangkah keluar rumah.Pada dasarnya aku selalu punya inisiatif kalau perut sedang sensitif seperti ini. Biasa, sepertinya aku masih punya modal senyuman, dan Surtini seorang janda penjaga kios itu pasti suka melihat senyum ku. Aku yakin janda itu belum tahu kalau aku sudah menikahi Dewi.“Siang mbak Surti, wah! siang hari gini meski jaga kios mbak kok selalu tampak cantik, sih” tutur ku dengan nada lembut sambil diiringi dengan seulas senyuman. Waktu itu juga wajah Surtini langsung memerah, kemudian berucap “ah, ade ini ini bisa saja” tuturnya sambil sedikit menundukan kepala. “Kemana saja kamu de, kok jarang kesini, sibuk kuliah ya?” lanjutnya. “Ya, gitulah mbak, tapi sebentar lagi juga lulus kuliah sih” jawab ku sambil memandang wajahnya.“Wah, hebat kamu, de. Embak doain semoga lancar saja, ya”“Ya, semoga embak juga selalu lancar dalam setiap usahanya” balas ku.“Mbak, aku boleh ngambil dulu beras kan, biasa soalnya aku belum dapat kiriman uang dari orang tua” lanjut ku“Sok aja gak apa-apa, mau berapa kg?”“Ah gak banyak-banyak, sih, 3 kg juga cukup”Setelah aku berhasil mengutang kepada mbak Surtini.
Aku langsung membawa beras sekaligus lauk pauknya ke rumah. Dewi pasti bahagia, bisa makan besar hari ini, meskipun mungkin ia tak tahu kalau aku dapat mengutang.Sesampainya dirumah aku langsung pergi kedapur untuk menemui Dewi. Namun ia tidak ada disana. Setelah menyimpan beras dan lauk pauknya didapur, aku langsung pergi menuju kamar.Langkah ku terhenti di depan pintu masuk ke kamar. Aku heran dengan apa yang sebenaranya tengah dilakukan Dewi. Ia tengah mengintip lubang yang tadi subuh ku jejali dengan secarik kertas. Maunya sih aku menyapanya, tapi aku tak ingin membuatnya kaget. Akhirnya aku kembali lagi kedapur untuk membersihkan beras.Ketika terdengar suara Indri menangis, barulah aku berani menghampiri Dewi lagi. Setelah Dewi memberikan susu kepada Indri, aku langsung menyuruhnya untuk memasak didapur. Dan, Indri langsung ku gendong seraya ku timang-timang hingga tidur kembali.
Mengapa ia mengintipi lubang itu? Heran, jangan-jangan ia menyukai permainan ranjang pasangan suami istri tetangga sebelah. Apakah ai kurang puas dengan ku? Ah, aku tak habis pikir, mengapa ia bisa seperti itu?“hey, ngelamun jorok ya” kata Firman membuyarkan lamunan ku“ha..ha..sialan kau, dari mana Fir”“Biasa, barusan aku mendatangi pejabat pemda yang kemarin ku buatkan fropilnya”“terus dapat amplopnya?”“dapat sih, tapi kecil-kecil” jawabnya menirukan iklan di TV.“terus kau terima”“Ya, pasti dong, itu kan uang silaturahmi, kalau di tolak aku takut ia menganggap tidak menghargainya” tuturnya santai.“Wah, kau ini bisa saja”“Oke, itukan lebih baik buat ku. Kau sudah makan?”“Nanti sajalah gampang, aku lagi pusing nih”“pusing mikirin apa?”“Kau tahu obat yang bisa membuat puas istri diranjang gak”“ha..ha..,kebetulan sekali, aku tadi baru beli obatnya. Tapi aku belum pernah mencobanya. Aku tahunya dari iklan koran, kau mau coba” tuturnya sambil memperlihatkan sebuah botol kecil berisi cairan.“obat apa tuh?“kata di iklannya, ini minyak yang bisa memperbesar, dan memperkuat kelamin. Bayangkan, katanya sekali oles saja dalam satu menit bisa langsung panjang sebesar 5 cm”“Serius kau! Wah..aku tak bisa membayangkannya, bagaimana jika ku oles puluhan kali”Sejenak Firman merengutkan dahinya, sedangkan aku tak kuat menahan tawa. Namun tak lama kemudian ia baru ngeh dan langsung tertawa berbahak-bahak sambil berucap“Haha..ha..itu bagus kan, kayanya bisa dibikin ikat pinggang ya.”Malam ku gunakan obat dari si Firman itu.
Cukup lumayan, aku bisa tahan lama, berbeda dengan hari-hari biasanya. Dan, istri ku tampak puas hingga terkulai lemah menghimpit dada ku.Tapi aneh, istri ku masih saja suka mengintip lubang itu. Tadi siang sebelum aku berangkat kekampus ia ku pergoki tengah mengintip lubang itu lagi. Ini harus ku bicarakan lagi kepada si Firman. Jangan-jangan obat itu tidak mujarab. Ah, tapi aku lihat semalam istri ku tampak begitu puas.Sepulang dari kampus untuk mengurusi biaya administrasi skripsi, aku langsung menuju tempat biasa para wartawan bagian kriminalitas harian kota menunggu berita.
Tempat itu merupakan tempat yang strategis, soalnya aku tinggal menunggu kejadian hasil laporan dari kepolisisan. Bila suduh dapat informasinya, aku langsung meninjau ke tempat kejadian, lalu ku buatkan berita.Orang yang ku cari ternyata tengah duduk didepan gerbang kantor Polisi, bagian Sektor Pelayanan Keamanan. Ya, tempat biasa kami start mencari berita. Aku langsung menghampirinya, dari jauh saja ia sudah tertawa melihat ku. “Gimana, sukses gak semalam?” tanya Firman setengah berteriak ketika aku masih berjalan menghampirinya.“Ah, aku masih bingung nih” jawab ku seraya duduk disebelahnya.“Apalagi yang kau bingungkan?”“Aku heran istri ku masih saja tak berubah”“Ya..ya..aku tahu penyebabnya. Apakah kau masih melakukannya dengan gaya seperti biasa?” tanya Firman layaknya seorang fakar seksiologi seperti Dr. Boyke.“Ya, aku melakukannya dengan seperti biasa. Soalnya itu sangat naluriah, Fir. Anak baru gede juga pasti bisa seperti itu”“emm, coba kau mulai berimprovisasi, atau bereksperimen dengan gaya yang berbeda dengan yang kau lakukan sebelumnya” ungkap Firman serius. Ya, ucapan Firman ada benarnya juga, selama ini aku belum pernah melakukan perubahan gaya.
Senyum Dewi tampak menggoda, ketika ia baru keluar dari kamar mandi. Aku sungguh bahagia bisa memuaskannya tadi malam. Akupun yakin, sepertinya ia tidak akan mengintip lubang itu lagi. Soalnya tadi malam ku habiskan energi dengan mempraktekan berbagai “gaya ranjang” yang dulu pernah ku lihat dalam blue film.Sore itu aku mendapatkan uang lumayan besar. Aku baru saja mendapatkan honor dari salah satu majalah remaja karena cerpen ku dimuat. Lumayan, sepertinya uang ku cukup untuk membeli susu buat Indri, bayar utang kepada Surtini, dan untuk makan sehari.
Setelah membayar hutang kepada Surtini, aku langsung pulang kerumah. Aku ingin cepat-cepat sampai dirumah. Aku ingin memberikan kejutan dengan barang belanjaan yang ku bawa ini. Aku ingin segara menikmati makan-makan yang bergizi bersama Dewi dan bayi mungil ku yang cantik itu.Namun, sesampainya di rumah keinginan tadi berubah menjadi keinginan untuk mengungkapkan kemarahan kepada Dewi.
Rasa kesal menumpuk dalam dada, sepertinya untuk kali ini aku harus memberikan pelajaran kepadanya.“Dewi, lagi ngapain kamu!,” bentak ku keras“euh..aku..aku.., cuma lihat-lihat doang mas” ucap Dewi kaku kerena terkejut“Lihat apa! Apakah kau tidak puas dengan ku. Kurang apa sebenaranya aku ini”“ih..mas kok aneh, cuma gitu saja sampai marah, kalau ingin tahu lihat saja sendiri. Asalkan tahu saja, lubang itu sangatlah bermanfaat buat penghilang rasa bosan ku diam seharian dirumah,” jawab Dewi lurus seperti yang tidak punya masalah.Dewi pergi meninggalkan kamar, sedangkan aku masih diam duduk disisi ranjang. Ketika rasa penasaran terhadap lubang itu mulai muncul, aku langsung mencoba untuk melihatnya. Jantung mulai berdebar kencang, aku mengintip lubang itu perlahan-lahan. Tidak ada apa-apa, aku hanya melihat sebuah pesawat televisi yang tengah menyala pada chanel yang tengah menyiarkan acara gosip selebritis. Namun saat itu juga aku langsung mengerti. Maafkan aku Dewi, aku telah berperasangka buruk kepada mu. Selama ini aku tak sadar kalau kamu butuh hiburan di rumah. Nanti bila tabungan ku sudah cukup, akan ku belikan Televisi. (**)


    Monday, May 15, 2006

    KUMPULAN ARTIKEL

    artikel 1
    Common Imajination Virus I
    (Cerita tentang bintang di dalam corong mimpi)
    Oleh Ariyandi Gunawan


    Awan hitam masih membungkus bumi pertiwi.
    Memimpikan kedamaian dikala terjaga adalah tuntutan jiwa.
    Tuntutan jiwa tiada arti,
    bila tuntutan dunia tak bisa dipahami
    Menanamkan kesetian pada idealisme,
    mewujudkan kejujuran pada hukum dunia,
    Itu adalah bekal untuk mengukir realitas
    demi sebuah karya
    sebagai penghias arti sebuah nama

    Sebuah virus yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat telah ditemukan. Virus itu bisa menyebabkan kesulitan bagi manusia yang hidup di zaman modern untuk membedakan antara fakta dan fiktif. Sama sulitnya seperti membedakan berintegrasinya antara sejarah dengan mitos. Hanya bisa menerka, yang mudah-mudahan tidak terbantahkan. Sedikit mengutip dari kritik Nietzche pada kebenaran mutlak, beliau berkata bahwa kebenaran adalah kekeliruan yang tak terbantahkan. Tidak seradikal pemikiran Nietzche, karena tulisan ini hanya bisa menerka dan mudah-mudahan tak terbantahkan.

    Sebagian masyarakat Indonesia tengah mengalami de javu. Realitas sekarang ini dapat dirasakan seperti sebelumnya. Setiap masa pergantian kepemimpinan, Common Imajination Virus (CIV) kian berkembang biak masuk kedalam tubuh masyarakat ‘tradisonal’ dan juga “modern”. Maksudnya, masyarakat ‘tradisional’ yang kekurangan pendidikan politik dan masyarakat “modern” yang terkena pengaruh budaya massa dan konsumerisme.

    Common Imajination Virus (CIV) selalu muncul pada saat akan berlangsungnya pemilihan umum. Mungkin semenjak adanya sistem kepartaian dalam sebuah Negara, virus ini sudah ada dan berkembang tanpa disadari. Efek yang biasa timbul adalah, memimpikan kehidupan yang lebih baik setelah pemilu berlangsung. Mereka meneropong masa depan dengan mimpinya. Impian klasik tentang sebuah harapan kepada calon pemimpin yang akan membawa bangsanya kearah yang lebih baik. Kesejahteraan dan perdamaian merupakan bagian dari impiannya.

    Bagi masyarakat “modern” yang gaya hidupnya didukung oleh sarana teknologi dapat terkena virus tersebut yaitu melalui ponsel (telpon seluler). Sebagian pengguna ponsel di Indonesia ramai-ramai ikut serta dalam acara presiden pilihan pemirsa di televisi dengan menggunakan fasilitas Short Messaging Service (layanan pesan singkat atau yang biasa disebut SMS). Seakan-akan televisi itu sendiri memberikan sebuah ruang untuk mimpi bersama. Masyarakat seperti berusaha memenangkan idolanya di ruang penuh sensasi itu. Sama seperti berebut idola dalam acara anak muda Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dan Indonesian idols.

    Itulah budaya massa sebagai faktor pendukung semakin menyebarnya Common Imajination Virus. Tanpa perlawanan masyarakat hanya tunduk oleh tayangan yang muncul di layar kaca. Televisi merupakan ruang sensasional yang memiliki daya emosional yang teramat tinggi. Ketergantungan pemirsa televisi dimanfaatkan oleh kapitalisme, tangan-tangan para pemilik modal, dan elit politik untuk menampilkan citraan-citraan yang berjauhan dengan realitas sebenarnya. Masyarakat tidak perlu tahu visi, misi dan juga platform yang mubazir dan sering membual, karena hal itu sudah tidak musim lagi di era teknologi sekarang. Elit poltik sekarang sudah canggih, seperti teknologi itu sendiri. Mereka mengemas realitas yang ditampilkan melalui simulasi-simulasi yang dapat menjamin citranya positif di mata masyarakat atau calon pemilihnya. Ya, seperti mengemas barang dagangan. Cukup mengerikan elit politik sekarang ini. Kebenaran suatu realitas dilegitimasi oleh simulasi dan citraan dalam ruang-ruang sensasi.

    Menurut istilah Jean Baudrillard hal ini disebut Hiperrealitas, yaitu sebuah realitas semu yang tidak berpijak kepada kenyataan sesungguhnya dan hanya ada di alam maya. Sementara yang menjadi realitas sesungguhnya, oleh sebab dapat membentuk citra buruk, justru disembunyikan atau setidak-tidaknya dimanipulasi. Namun dengan kekuatan media dan dengan reakayasa yang canggih, citra yang sebenarnya semu tersebut seolah-olah menjadi realitas yang sesungguhnya.
    Lihatlah iklan parpol, calon presiden dan calon wakil presiden muncul ditelevisi. Mereka tampak seperti menjual mimpi. Tampilannya hanya untuk menarik simpati masyarakat tidak peduli dengan referensi politiknya, yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran demokrasi. Mestinya mereka sadar bahwa pembangunan karakter bangsa saat ini sangat dibutuhkan. Agar mentalitas bangsa kita tidak kontraproduktif.

    Common Imajination Virus selalu dikembangbiakan oleh para penguasa, elit parpol dan reformis-reformis gadungan. Mereka menjadikan wacana penuntasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) sebagai aksesoris “gaya hidup” yang layak dilakukan bagi politisi untuk mendapatkan dukungan dari rakyat. Bagi mereka, memberikan pendidikan politik yang baik adalah sebuah kerugian. Kerena bila rakyat semakin pintar maka suara kelaparan, kemiskinan tidak bisa dimanfaatkan lagi sebagai lumbung suara partai politik dan presiden.
    Sekarang sebagian masyarakat Indonesia sangat membutuhkan anti- virus dari Common Imajination Virus tersebut. Anti Virus-nya harus datang dari kesadaran diri, dengan berpikir secara rasional, logis dan dialektis dalam memandang realitas yang ada di dunia ini. Seperti apa yang selalu diucapkan Pramoedya Ananta Toer; “Kita ini hidup di dunia, bukan di surga, dan dikuasai oleh hukum-hukum dunia. Karena itu, pandanglah segala-galanya secara dialektik. Jangan satu cara pandang saja. Kalau tidak, kita hidup dalam impian saja.”

    Dalam hal ini, sekarang juga! Baik rakyat maupun pemerintah harus mengedepankan pendidikan baik secara formal maupun informal dalam ruang sosial sekecil apapun, guna meminimalisir atau bahkan mengusir Common Imajination Virus dalam tubuh masyarakat Indonesia. Agar mental bangsa tidak selamanya memiliki mental budak dan kuli yang hanya mampu bermimpi dan menyuburkan takhayul.
    ------------------------------------------------------------------------------------------------
    artikel 2
    NILAI KOMODITI REALITAS WAJAH UNTUK MASSA
    - Ariyandi Gunawan
    Wajah manusia ternyata dapat dikomoditikan. Ini disebabkan oleh perkembangan industrialisasi, dan arus globalisasi yang didukung oleh perkembangan teknologi komunikasi yang kian hari bertambah pesat. Wajah manusia bukan hanya dapat mempengaruhi komunikan secara langsung melalui proses komunikasi antarmanusia, tetapi wajah pun dapat mempengaruhi reaksi khalayak media massa. Wajah seperti apakah itu? Kahlil Gibran pernah bertutur dalam syairnya; “Setetes air mata menyatukanku dengan mereka yang patah hati; seulas senyuman menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam keberadaan”.
    Pernyataannya tersebut menggambarkan bahwa realitas psikis wajah dapat teridentifikasi. Apalagi wajah secara fisik, mudah sekali diidentifikasi, contohnya; coba saja lihat kartu pengenal kita, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) , Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), Passport, dan tanda pengenal lainnya, di sana terdapat wajah kita dalam foto. Berbeda halnya dengan wajah secara psikis yang dapat mengkomunikasikan sesuatu secara non verbal, kita bisa memahami reaksi kejiwaan seseorang melalui perubahan wajahnya. Ketika tersenyum, cemberut, menangis, dan bentuk reaksi kejiwaan lainnya, semua itu dapat teridentifikasi oleh indra penglihatan kita. Bahkan Judges (Komunikasi Antarmanusia Joseph A. Devito) seorang periset komunikasi non verbal, mencoba mengidentifikasi berbagai emosi dengan mengamati bagian-bagian wajah yang berbeda. Seperti mata dan kelopak mata paling cocok untuk mengkomunikasikan rasa takut, sedangkan hidung, pipi, dan daerah mulut paling baik untuk mengkomunikasikan rasa sebal.
    Wajah manusia merupakan “penanda diri”. Hal itu dikarenakan wajah secara fisik dan psikis dapat berintegrasi dalam mempresentasikan diri. Proses mempresentasikannya dapat timbul dalam konteks komunikasi antarmanusia dan komunikasi massa melalui simbol-simbol tertentu yang tampak dari wajah. Dalam konteks komunikasi seperti itulah wajah seseorang dapat dijadikan komoditi, ketika wajahnya berperan sebagai instrument promosi suatu produk hasil proses industrialisasi. Hal itu sesuai dengan pendapat John Hartley dalam buku Lifestyle-Sebuah Pengantar Komprehensif, beliau berkata bahwa senyuman kini merupakan “Ideologi dominant” dalam “ranah publik”. Ia ibarat pakaian seragam yang harus dipakai di bibir seseorang yang berfungsi sosial untuk menciptakan, memelihara, mendidik, mempresentasikan, dan membangun citra di depan publik. Bila melihat pada statement tersebut sudah jelas bahwa dalam konteks proses komunikasi, realitas wajah dapat dikonstruksi guna sebuah komoditi. Dalam hal ini maksud dari komoditi tersebut adalah segala sesuatu yang diproduksi dan dipertukarkan dengan uang dalam rangka memperoleh nilai lebih atau keuntungan.
    Apa yang diproduksinya tersebut bukan hanya berupa barang semata melainkan citra atau image pun dapat dijadikan komoditi. Menurut pengamatan penulis, perihal realitas wajah manusia sekarang ini secara psikis menjadi ukuran etika profesi bagi setiap individu yang memiliki pengetahuan. Ini terjadi karena tujuan manusia dalam mempergunakan pengetahuan yang diperolehnya adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya. Dari hal tersebut kita dapat memandang sebuah profesi yang bersangkutan dengan realitas wajah, misalnya seorang polisi yang dominan berwajah garang pada saat mengintrogasi pelaku kejahatan, atau seorang pekerja Public Relations yang harus banyak tersenyum di depan publik guna membangun citra positif bagi perusahaannya. Itu semua hasil dari pengetahuan manusia dalam memandang realitas, kalau tidak bertingkah seperti itu dia akan menganggap bahwa langkahnya memiliki kekurangan sekaligus melanggar kode etik profesinya dan hal itu akan mengakar pada kerugian materiil bagi dirinya maupun bagi kariernya. Padahal bila kita memandang realitas wajah secara psikis belum tentu demikian.
    Realitas wajah secara psikis tidak dapat diidentifikasi secara nyata dan jelas, hanya kemungkinan lah yang dapat diidentifikasi, contohnya melihat wajah tersenyum belum tentu dia sedang bahagia, melihat wajah cemberut belum tentu ia tengah kesal atau muak. Tapi jika di dalam kode etik profesi hal tersebut menjadi tampak nyata, kemungkinan tadi pun menjadi valid. Hal ini dikarenakan rekayasa realitas estetika visual mudah dilakukan dengan mempresentasikan image. Disana lah ternyata, image lebih berharga dari pada kejujuran suasana jiwa yang sebenarnya. Dalam hal ini Kahlil Gibran tidak mau merekayasa suasana jiwanya melalui image dan itu dapat dibuktikan ketika ia berkata dalam syairnya; “Takkan kutukarkan dukacita hatiku demi kebahagiaan khalayak. Dan, tak akan kutumpahkan air mata kesedihan yang mengalir dari tiap bagian dariku berubah menjadi gelak tawa. Kuingin diriku tetaplah setetes airmata dan seulas senyum”(Kahlil Gibran-Airmata dan Senyuman). Proses Encoding Perwajahan untuk MassaPerwajahan dalam hal ini merupakan perihal pemberian corak dan motif pada tampakan luar, sama dengan proses penciptaan image yang sering muncul dalam media massa demi kepentingan industri kapitalisme. Kepentingan industri kapitalisme adalah menciptakan mass productions dan menghindari over produksi. Menciptakan produksi massal untuk dikonsumsi, menghindari over produksi dengan memelihara konsumen. Dalam hal memelihara konsumennya kepentingan industri kapitalisme pun berhasil menciptakan budaya konsumerisme. Proses penciptaan budaya konsumerismenya tersebut dilakukan dalam media massa dan didukung oleh berbagai industri komunikasi lainnya.
    Dalam hal inilah kekuatan elemen promosi yang terkait dengan kepentingan industrialisasi dapat memelihara konsumennya dengan baik melalui iklan, film, sinetron, dan lain sebagainya. Dengan demikian kepentingan industri kapitalisme bukan hanya menciptakan produk barang atau jasa saja, namun ternyata menciptakan tanda, simbol-simbol pesan dalam media massa pun merupakan bagian dari proses produksinya. Proses produksi penciptaan tanda-tanda lewat kode tertentu dalam ilmu Semiotika disebut sebagai encoding, sedangkan proses pembacaan makna atas simbol atau tanda-tanda tersebut disebut decoding. Di dalam industri kapitalisme proses decoding berguna untuk input yang dapat dijadikan pondasi yang kuat guna proses atau mekanisme encoding-nya untuk output.Melalui proses decoding secara garis besar dalam memandang reaksi khalayak komunikasi massa dengan menggunakan dua pendekatan secara objektif dan subjektif. Secara objektif dalam kerangka behaviorisme, media massa adalah faktor lingkungan yang mengubah perilaku khalayak, disini sesuai dengan Hipodermik Needle Theory (Wilbur Schramm:1950) atau sering juga disebut sebagai teori peluru yang menganggap bahwa khalayak (konsumen) itu pasif.Sedangkan secara subjektif dalam kerangka humanisme menganggap bahwa psikologis individu akan menentukan bagaimana individu memilih stimuli dari lingkungan, dan bagaimana ia memberi makna pada stimuli tersebut (DeFleur dan Ball-Rokeach). Hal ini sesuai dengan Uses and Gratification Theory (Katz, Blumler, Gurevich,1974:20), yang menganggap bahwa khalayak (konsumen) itu aktif. Dalam proses encoding, hal tersebut digabungkan agar tidak menjadi kontradiktif melalui penggabungan rekayasa realitas dan materi promosi. Kemudian ditampilkan oleh subjek promosi yakni manusia dengan realitas yang sudah disortir dan isinya sesuai dengan materi promosi, kemudian berintegrasi dan terciptalah visualisasi simulasi estetik. Misalnya di televisi ada sebuah iklan yang mempresentasikan materi iklannya melalui tingkah laku wanita cantik atau pria tampan (subjek) dalam suatu situasi dan kondisi yang menyenangkan.
    Melalui media komunikasi lah promosi tersebut ditampilkan. Namun, proses encoding-nya tersebut bukan hanya pada media massa saja, melalui proses komunikasi antarmanusia pun dapat ditampilkan. Salah satu contohnya kita dapat melihat bagaimana seorang Sales Promotion Girl/Boy (SPG/B) mempresentasikan produknya melalui tingkah laku yang menarik, seperti dengan banyak tersenyum di depan calon konsumennya. Begitu juga mereka secara fisik relatif memiliki kecantikan atau ketampanan. Dengan begitu realitas wajah tersebut dengan sengaja dikonstruksi demi kepentingan komoditi industri kapitalisme. Hal tersebut sengaja dikonstruksi dalam nuansa yang dapat menyentuh nilai afeksi, sehingga secara konatif khalayak memiliki potensi besar untuk meresponnya dan kemudian memberikan umpan balik. Proses umpan balik tersebut didominasi oleh nilai rasa, maka jangan heran bila di era globalisasi sekarang ini masyarakat modern dalam memenuhi kebutuhan primernya harus ditunjang dengan kebutuhan image, selera, prestise, dan nilai rasa lainnya.
    Perwajahan dalam Kebudayaan PopSudah dapat dipastikan bahwa proses encoding melalui langkah praksis dari kolaborasi Hipodermik Needle Theory dan Uses and Gratification Theory tersebut dapat menciptakan budaya massa. Hal itu dapat diketahui ketika pendekatannya berjalan dengan efektif. Ketergantungan masyarakat pada media massa merupakan realitas yang tengah dirayakan oleh industri kapitalisme. Kemudian nilai ketergantungan masyarakat pada media massa tersebut dapat menciptakan kebudayaan pop. Ketika kebudayaan pop menjadi sebuah realitas yang diterima dengan baik oleh masyarakat, disana lah industri kapitalisme dengan mudah memelihara konsumennya melalui berbagai bentuk bujuk-rayunya, dan merepresentasikan hasil encoding dalam proses promosi. Di dalam kebudayaan pop terdapat suatu kesatuan dari pengetahuan, kepercayaan, dan kebiasaan yang tergantung pada perkembangan media massa. Kemudian dimana suatu keadaan wajah yang dikomoditikan tersebut merupakan bagian dari realitas budaya pop, pada saat itulah realitas wajah secara image lebih berharga dibanding dengan kejujuran suasana jiwa yang sebenarnya. Ternyata dalam hal ini statement Jacques Derrida, ada benarnya juga bahwa dengan kemajuan teknologi audio-visual, manusia dibuai oleh beragam tanda yang mengantarkan pada wujud realita baru. Pikiran manusia bisa menembus ruang dan waktu, dengan suatu penafsiran baru, menerawang dunia dengan sudut pandang yang baru sehingga apa yang muncul dalam pikiran seolah-olah merupakan kenyataan yang tak terbantahkan.Pengaruh kebudayaan pop dapat membuat masyarakat hanya percaya pada penampakan dan permukaan belaka. Hal itu sangat mengerikan bila menyentuh pada nilai religi setiap masyarakat yang tergantung pada citra dan tampakan luarnya.
    Mungkinkah dengan pengaruh kebudayaan pop dapat menciptakan penjelmaan-penjelmaan moralitas? Penulis mengharapkan hal tersebut jangan sampai terjadi, akan tetapi apakah sekarang sudah terjadi?Ketika kepercayaan masyarakat selalu bergantung pada hal-hal permukaan yang dapat diterima secara kasat mata dan memiliki nilai estetika visual, disanalah nilai religi masyarakat akan semakin menurun dan kehilangan makna spiritualitasnya. Di abad visualisasi sekarang ini, subjek kuasa yang memiliki akses besar pada media massa akan lebih mudah menampilkan sisi moralitasnya dengan image, dimana perilaku kejahatannya dapat dengan mudah ditutupi dengan citra seorang nabi. Kita semua pasti meyakini bahwa suasana keindahan atau sisi emosional adalah bagian dari kebutuhan setiap manusia. Akan tetapi bila nuansa emosional tersebut hasil dari penghisapan dan eksploitasi terhadap kesadaran manusianya sendiri, kita pantas melawannya. Penulis mengingatkan bahwa industri kapitalisme tumbuh subur di abad visualisasi sekarang ini. Pada era itulah indera penglihatan kita yang dapat menyerap suatu tanda secara kasat mata dikonstruksi dan dijadikan komoditi besar baginya. Hampir setiap hari kita selalu digempur habis-habisan oleh produknya, begitu juga kita setiap hari mengonsumsi tanda dan atau citraan yang diproduksi mereka. Kita mungkin tidak mau melihat generasi bangsa kita memiliki pola pikir pragmatis, ingin serba instant, dan selalu mempercayai nilai estetika visual yang berjauhan dengan realitas yang sebenarnya.
    ------------------------------------------------------------------------------------------------
    artikel 3
    “Nama baik” itu indah, tapi…?
    - Ariyandi Gunawan**
    Ada suatu kengerian yang dibungkus oleh tebaran senyum
    Ada suatu kebahagiaan yang dibungkus oleh gumpalan air mata
    Ada keraguan yang dirintangi oleh beberapa pilihan
    Mengapa harus ada ini dan itu,bila sesuatu itu, dan ini,
    ada yang tak bisa dibahasakan
    Siapa yang tidak butuh 'nama baik,' bukanlah manusia modern. 'Nama baik' adalah sebuah penamaan untuk menunjukkan dimana posisi individu manusia modern berada. Bisa dikatakan, semua individu (manusia modern) sangat membutuhkan 'nama baik,' karena ketika dia memperoleh 'nama baik' di dalam lingkungan sosialnya, di situlah ia akan terbebas dari marjinalisasi, begitu juga tidak akan terisolasi.Mengejar dan memburu 'nama baik' di jaman modern merupakan suatu kebutuhan manusia dalam memperjuangkan sekaligus mempertahankan eksistensinya. Di dalam prosesnya, manusia modern memiliki sebuah keinginan tersembunyi, dan terkadang bernuansa halusinasi. Keinginan yang tak tampak, namun pasti, semuanya bertujuan untuk memapankan hidup dalam wujud struktur kuasa atau kelas.
    Proses pemburuan 'nama baik' yang dilakukan oleh setiap individu manusia modern untuk kekuasaan itu tampak cantik, elok, dan elegan dalam mempermainkan nilai-nilai moral. Mereka memburu 'nama baik' agar dunia sosial yang ditempatinya mengungkapkan nilai-nilai moral yang berkaitan dengan sesuatu yang abstrak tentang kebaikan hidup, seperti kejujuran, keberanian, kepahlawanan, kesetiaan, keadilan, kesucian dan lain sebagainya. Sesuatu yang abstrak tersebut akan bermanfaat bagi kekuasaan bila manusia modern berhasil memvisualisasikannya hingga melahirkan citra.
    Visualisasi moral sangat mudah sekali mengaburkan fakta. Dalam hal ini fakta yang berperan sebagai bahan pertimbangan untuk menginterpretasikan moral seseorang dalam dunia sosial. Seseorang yang dikategorikan sebagai orang yang bermoral adalah orang yang tidak merugikan kemanusiaan. Sebaliknya orang yang tidak bermoral atau amoral adalah orang yang merugikan kemanusiaan. Hal tersebut akan mengalami pendangkalan nilai, bila terlalu banyak interpretasi yang dapat mengaburkan fakta. Dan, banyaknya interpretasi tersebut berkembang biak dalam media massa. Siapa yang mengusai media massa, dialah manusia yang lebih bisa memanipulasi nilai moral dengan citra.'Nama baik' itu indah. Memang, bonum est pulchrum (baik itu indah) yang selalu di interpretasikan oleh para filsup skolastik, ternyata dapat dibuktikan kebenarannya melalui visualisasi nilai baik dalam ruang moralitas. Hal tersebut terlahir dari interaksi sosial yang produktif melalui pertukaran citra. Ketika proses pertukaran citra tersebut berhasil mendominasi nilai moralitas, maka 'nama baik' itu akan tampak secara konvensional.
    Secara ideal, citra yang indah itu seharusnya menarik dan fungsional. Menarik secara fisik merupakan suatu objek yang dapat teridentifikasi, dan ditangkap hanya secara emosional, dan berkaitan dengan selera atau hasrat. Sedangkan fungsional memiliki kegunaan yang memberikan kenyamanan, dan kepentingan atau kebutuhan yang bersifat materialistik. Didalam ranah kebudayaan pop, sebagai corak peradaban manusia modern, citra tersebut merupakan bagian dari perwujudan nilai-nilai moralnya.
    'Nama baik' yang konvensional, yang didominasi oleh citra, sama dengan reputasi manusia modern dalam kehidupan sosialnya. Reputasi yang terlahir dari proses yang instant melalui permainan citra dalam ruang sosial. Bukan reputasi yang terlahir dari sebuah karya otentik, begitu juga bukan reputasi yang lahir dari prestasi hidup yang bermakna tinggi.Memang, proses pemburuan 'Nama baik' itu indah, sebuah perwujudan nilai moral melalui image positif dalam interaksi sosial. Namun, keindahan 'nama baik' tersebut tampak seperti keindahan dalam kesenian yang bermutu rendah. Kesenian yang kurang memiliki pesan pencerahan, dan kesenian yang tidak dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan umum. Lebih ekstrimnya lagi bisa disebut sebagai kesenian yang sudah terkontaminasi oleh limbah yang berlimpah ruah dari pasar komoditi.
    Ada sebuah pandangan yang mengatakan bahwa manusia yang bermoral itu merupakan manusia yang anti kemapanan hidup. Mereka mengkebiri keinginan bebasnya dengan mengikuti norma-norma sosial. Pandangan tersebut terbalik, justru semakin seseorang tampak bermoral, semakin besarlah peluangnya untuk mendapatkan kekuasaan. Namun bermoralnya itu haruslah sudah terpublikasikan, terlihat secara konvensional, dan memenangkan image positif, agar “nama baik” melabung tinggi dalam lingkungan sosialnya. Hal itu dapat juga disebut sebagai moral yang sudah tervisualisasikan, moral yang sudah dilabelkan dalam kemasan citra sehingga tampak begitu indah. Bagitu juga hal tersebut merupakan sebuah jawaban, bahwa moralitas sudah tidak lagi murni, otentik, apalagi yang bermotif ibadah, semua digantikan dengan nilai komoditi.
    Cukup mengerikan, tapi merupakan sebuah jawaban, bahwa proses kematian perjuangan tanpa pamrih dalam kehidupan sosial sudah semakin medekat.Tentang 'nama baik' yang diterangkan diatas merupakan penafsiran dangkal terhadap akibat pencitraan nilai moral yang ada dalam peradaban manusia modern. Saya sebutkan dangkal kerena fenafsiran tersebut tidak berlandaskan pada kandungan nilai-nilai ajaran agama Islam (khususnya). Ajaran Islam tentang nilai moral yang divisualisasikan oleh seseoarang tidak dapat ditafsirkan secara mutlak bahwa orang tersebut ingin mendapatkan kekuasaan. Karena didalam ajaran Agama Islam, tidak selamanya tingkah laku manusia dalam ruang moralitas dapat diidentifikasi dalam dunia sosial. Semuanya bergantung kepada niat dalam hati orang tersebut, dan itu tidak dapat kita didentifikasi dalam dunia sosial. Begitupun agar perebutan kekuasaan manusia modern dalam ruang moral tersebut tidak mengkontruksi realitas yang chaos, sebaiknya kita mulai merenungkan ajaran Islam dalam Al-Qura'an yang berbunyi, Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu banginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan didunia akan Kami berikan kepadanya sebagaian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun diakhira. (Asy-Syura).
    ------------------------------------------------------------------------------------------------artikel 4
    Hidup dalam Botol
    - Ariyandi Gunawan**
    Tak pernah kita sadari dan sulit dirasakan dengan nyata jika kita renungkan apa yang kita hadapi dalam kehidupan ini ternyata hampir setiap hari, tiap jam dan tiap detik atau setiap perputaran waktu berlangsung, kita seakan-akan selalu diikat oleh tali-tali permasalahan yang harus kita hadapi .Disaat kita menghadapi sebuah masalah, kita seperti berada dalam sebuah botol yang kosong tanpa air, kita berada di dalam botol tersebut tanpa ada yang menemani, yang terlihat di sana hanya dinding-dinding kaca dalam botol tersebut seakan-akan menyesakan nafas dan tersumbatnya pikiran.
    Terlalu sulit untuk muncul dan keluar dari botol itu, sama sulitnya ketika kita mencari jalan keluar dalam sebuah permasalahan yang berat.Licinnya dinding botol tersebut membuat kita putus asa karena raga kita seakan-akan tiada guna, terlalu lucin untuk bisa naik dan keluar dari botol itu jika kita hanya menggunakan jasmani belaka.
    Depresi dan frustasi tak bisa lepas dari pikiran disana yang tersisa hanya penantian dan penantian yang tak pasti, tak jelas apa yang kita tunggu dan tak ada gambaran untuk bisa keluar, seperti kita melihat lautan yang tak bertepi dan langit yang tak berujung.Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi dalam botol tersebut mungkin hanya bisa menunggu keputusan dari sang maha pencipta.
    Sesaknya nafas kita disana sama sesaknya dengan apa yang dihadapi dalam masalah-masalah kehidupan duniawi, berteriak dan meronta-ronta disana, namun tak ada satu pun orang lain yang perduli,karena sebuah masalah hanya untuk diri sendiri dan dinikmati sendiri, mungkin kesendirian tersebut mengingatkan kita akan kelahiran dan kematian, karena disaat kita lahir dan mati hanya untuk sendiri.Kembali kita hanya bisa diam dan menunggu dalam botol tersebut, sepertinya emosi atau amarah kita sudah sirna dan tak berguna disana, tangan memukul, kaki menerjang namun kaca itu sulit dipecahkan, mungkin benar bahwa raga kita tak berguna jika kita hanya diperbudak emosi atau nafsu belaka.Apa yang harus kita lakukan sekarang didalam botol tersebut? Coba kita rasakan dengan ketenangan, ternyata apa yang kita perbuat itu berasal dari hati, bahwa jasad kita hanya tunduk pada hati yang lembut.”Hati merupakan sesuatu yang kasat mata, tak berupa dan tak bisa diraba”(Al-Ghazali).Jasad kita hanya daging, tulang dan darah, sama dengan yang dimiliki hewan.
    Kita tidak bisa keluar dari botol tersebut tanpa kesabaran, ketenangan batin dan kepercayaan yang besar kepada Tuhan. Namun kesabaran hanya diam dan hanya menunggu semata itu semua tiada arti, mungkin kita harus berharap dan ber doa kepada sang Maha Pencipta. Terkadang kita sulit memaknai kesabaran, apa lagi mempelajarinya, mungkin karena kesabaran tersebut sulit di lakukan.
    Sebagai jalan keluarnya kita memerlukan sedikit analogi dari kesabaran tersebut dari arti kesabaran tersebut. Kesabaran itu seperti air, kita bisa keluar dari botol tersebut jika kita menunggu datangnya air dari sang maha pencipta, dengan air yang tenang kita bisa bercermin dan terlihatlah wujud kita begitu juga dengan jati diri, mungkin dengan ketenangan batin serta kesabaran, dengan penuh kesabaran dan ketenangan batin mungkin bisa memaknai hidup dengan baik dan bisa berintrospeksi diri sama seperti kita sedang bercermin pada air yang tenang. Namun sebaliknya jika kita bercermin pada air yang deras maka wujud kita mungkin tak terlihat, sama halnya jika kita menjalani kehidupan ini dengan tergesa-gesa tanpa ketenangan batin dan kesabaran, hanya mengumbar hawa nafsu belaka.
    ----------------------------------------------------------------------------------------------
    Artikel 5
    PERLAWANAN SIMBOLIK GUS DUR DALAM PEMILU 2005
    - Ariyandi Gunawan
    Menjelang pemilihan presiden 5 Juli 2004, arus politik semakin memanas. Masih ingat dengan kejadian di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makasar (01/4), dan munculnya gerakan-gerakan anti militerisme. Muncul dua calon presiden bergelar purnawirawan TNI (Tentara Nasional Indonesia) Sosilo Bambang Yudoyono dari Partai Demokrat (PD) dan Wiranto dari Partai Golongan karya (Golkar). Ini semakin memperkuat indikasi bahwa kebangkitan militerisme telah didepan mata. Sejarah membuktikan bahwa kediktatoran militer mampu menutup keran demokratisasi. Lihatlah pada waktu pemerintahan orde baru. Jadi kalau militer bangkit kembali, tidak tertutup kemungkinan bahwa rezim fasis orde baru akan berkuasa kembali.
    Isu bangkitnya militerisme dan orde baru sampai saat ini masih menjadi sorotan besar pihak yang pro terhadap demokratisasi. Ini beriringan dengan masih hangatnya isu kebangkitan militerisme. Munculah fenomena yang menarik, ketika Gus Dur ngotot dalam bursa pemilihan presiden.
    Ini berawal pada saat pemeriksaan kesehatan calon presiden yang dilaksanakan (29/4) di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Jakarta. Gus Dur menyatakan optimismenya dan pemeriksaan kesehatan yang dijalaninya tidak ada masalah. Namun kenyataan berpihak lain. Komisi Pemilihan Umum (KPU) lewat surat tertutup menyatakan, Gus Dur tidak memenuhi syarat kemampuan rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas sebagai presiden. Dari hasil pemeriksaan tim dokter Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Gus Dur masuk kategori Tidak Memenuhi Syarat (TMS). Setelah itu Gus Dur menyatakan akan menggugat KPU secara hukum jika ditolak untuk mengikuti pemilihan umum presiden RI. Upaya hukumpun dilakukan oleh Gus Dur dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melalui Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA). Menolak permohonan Judicial review atas UU Pilpres No.23/2003 dan SK KPU No.26/ 2004 tentang tata cara pencalonan calon preiden dan calon wakil presiden.
    Tampaknya Komisi Pemilihan Umum (KPU) kurang memperdulikan gugatan Gus Dur tersebut. Lewat rapat pleneo (22/5) satu-satunya pasangan yang tidak diloloskan KPU adalah Gus Dur dan Marwah Daud Ibrahim. Setelah keluar keputusan itu, Gus Dur langsung menuntut KPU dengan meminta ganti rugi sebesar Rp. 1 Triliun dan juga akan menempuh jalur pidana dengan tuduhan pencemaran nama baik. Gus Dur tetap berpegangan teguh pada UU No 4/1997 tentang Penyandang Cacat, yang antara lain menyebutkan pemberian peluang kepada penyandang cacat untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.
    Itulah Gus Dur aneh, namun kadang-kadang ada benarnya juga. Tapi bagaimana dengan penilaian sebagian besar masyarakat Indonesia, yang kapasitas pendidikan politiknya lemah? Mampuhkah mereka mengetahui tindakan Gus Dur sebenaranya? Sepertinya ragu untuk menjawab mampu. Karena kecenderungan masyarakat Indonesia hanya tahu pemimpinnya dilihat dari kapasitas personal dan citra yang ditampilkannya. Maksudnya, peran figur seorang pemimpin dapat diterima secara jangkauan indrawinya saja. Bahwa segala sesuatu tampak apa adanya. Misalnya, pada masa pemerintahan orde baru Soeharto tampak dekat dengan petani melalui program kelompecapir-nya. Begitu juga dengan Megawati sebelum ia menjabat sebagai presiden. Ia tampak berpihak pada rakyat kecil dengan slogan " Wong Cilik". Tindakan tersebut memberikanya citra yang positif dimata masyarakat pada waktu itu, dan kemenanganpun berada ditangannya.
    Muncul sebuah keganjilan dalam tindakan Gus Dur saat ini. Yang harus manjadi catatan bagi masyarakat prodemokrasi yang anti militerisme. Agus Muhamad dalam artikelnya yang berjudul "Perlawanan simbolik Gus Dur" menegaskan, "Fenomena ngototnya Gus Dur lebih merupakan perlawanan simbolik untuk memberikan pembelajaran demokrasi ketimbang sebuah ambisi untuk meraih kekuaaan yang pernah lepas dari tangannya. Hal yang sama dapat dilihat pada keterlibatan Gus Dur dalam aliansi menolak hasil pemilu. Penolakan tak lebih dari perlawanan simbolik untuk menunjukkan, pemilu berlangsung tak bersih, banyak kecurangan dan harus menjadi catatan bagi kita semua."(Kompas 22/5). Asumsi semacam inilah yang harus dibantah oleh masyarakat prodemokrasi yang antimiliterisme.
    Bukan pembelajaran demokrasi
    Suatu simbol muncul ketika terjadinya rekayasa peristiwa, sebagai stimulus yang mengarah pada suatu makna tertentu. Dalam hal ini makna yang dapat diambil adalah sebuah pembelajaran demokrasi. Layaknya sebuah simbol adalah suatu stimulus yang dapat memberikan tanggapan. Sesuai dengan hukum belajar yang ditemukan oleh Thorndike di Universitas Colmbia New York, Amerika Serikat, hukum belajar adalah dialektika antara stimulus (rangsangan) dan respon (tanggapan).
    Merujuk kepada teori tersebut, maka secara tidak langsung tindakan Gus Dur justru tidak dapat dikatakan sebagai perlawanan simbolik untuk pembelajaran demokrasi. Sebab, sampai saat ini respon yang signifikan belum tampak. Kalau memang pembelajaran demokrasi itu dapat diterima oleh rakyat, maka secara langsung mereka akan menanggapinya. Mengecam KPU yang dinilai Gus Dur tidak demokratis karena menolak pencalonan dirinya. Begitu juga banyak rakyat yang akan mendukung penggabungan diri Gus Dur dengan aliansi menolak hasil pemilu.
    Simbol atau citra yang mengubur pengharapan
    Simbol adalah suatu rangsangan yang mengandung makna dan nilai yang dipelajari bagi manusia, dan respon manusia terhadap simbol adalah dalam pengertian stimulasi fisik dari alat-alat indranya (Dedi Mulyana -Metodologi Penelitian Kualitatif ). Di sana dapat dikatakan bahwa suatu simbol dapat mangarah pada hal-hal yang subtansial. Pembelajaran demokrasi adalah sebuah hal yang subtansial. Ini berarti tindakan Gus Dur atau perlawanan sibolik Gus Dur benar-benar mengarah pada hal tersebut. Namun tanggapan rakyat terhadap tindakan Gus Dur belum tentu mangarah pada nilai yang subtansial, karena tanggapan yang muncul hanya pada stimulasi fisik dari alat-alat indranya. Dengan demikian yang paling pertama dan dominan diterima secara stimulasi fisik dari alat indra adalah sebuah citra.
    Citra membantu memberikan alasan yang dapat diterima secara subjektif tentang mangapa segala sesuatu hadir sebagaimana tampaknya tentang referensi politik, dan tentang penggabungan dengan orang lain (Dan Nimmo - Komunikasi Pilitik). Citra Gus Dur dapat memberikan alasan mengapa ia ngotot di bursa calon pemilihan perisden. Bisakah alasan dari tindakan Gus Dur tersebut diterima sebagai pembelajaran demokrasi? Jawabannya, tidak sama sekali, karena citra hanya muncul pada stimulasi fisik dari alat-alat indra saja. Dengan demikian tanggapan rakyat terhadap Gus Dur tidak akan mengarah pada nilai subtansial.
    Gus Dur adalah sorang pemimpin politik dan mencalonkan diri sebagai presiden. Sebagaimana figur seorang pemimpin, layaknya memberikan pengharapan yang lebih baik pada rakyatnya. Lantas pengharapan apa yang dapat diterima oleh rakyat ketika rakyat menilai tindakan Gus Dur pada tataran citra personalnya?
    Pengharapan berkaitan dengan aspek konatif, atau kecenderungan citra personal dan proses interpretative yang oleh para psikolog kadang-kadang disamakan dengan gerak hati, hasrat, kemauan, dan dorongan. Pengharapan personal paling penting dalam politik atau penampilan pemimpin berdasarkan apa yang diharapkannya akan terjadi. Jika pengaharapan itu tinggi dan peristiwa atau perbuatan pemimpin tidak sesuai dengannya, orang kecewa atau meremehkan politikus (Dan Nimmo -Komunikasi Politik).
    Apa yang diharapkan masyarakat sudah jelas menginginkan figur pemimpin yang dapat memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya. Namun mereka melihat Gus Dur terlibat dalam aliansi menolak hasil pemilu. Citranya dapat diterima rakyat bahwa tindakan Gus Dur telah mengubur pengharapan rakyat yang tengah mengalami keterpurukan yang belum terhenti. Masyarakat sudah lelah dengan kondisi keterpurukan yang tengah mereka alami sekarang. Apakah dengan menolak hasil pemilu dapat mengobati keterpurukannya? Lantas apa tujuan Gus Dur sebenaranya?
    Secara simbolik dan bagi kalangan intelektual yang menilainya secara subtansial, boleh dikatakan dapat menciptakan iklim demokrasi yang dinamis. Akan tetapi persoalan "perut" rakyat pasti lain cerita. Persoalannya, tindakan Gus Dur tersebut ditujukan untuk siapa? Kalau untuk masyarakat yang awam dengan politik jelas-jelas tindakan tersebut dapat merugikan. Akan tetapi bagi kaum intelektual mungkin hal tersebut ada pengecualian lain.
    Citra Gus Dur dan kebangkitan militerisme.
    Citra kedua calon presiden dari purnawirawan TNI (Tentara Nasional Indonesia) Wiranto dan Susilo Bambang Yudoyono dapat memperkuat indikasi bahwa militerisme bangkit kembali. Meskipun tidak secara subtansial, hal tersebut dapat diterima sabagian rakyat. Menurut Yasraf dalam bukunya yang berjudul, Hipersemiotika, citra merupakan sesuatu yang tampak oleh indera, akan tetapi tidak memiliki eksistensi subtansial. Citra tersebut tidak mungkin mau diterima oleh kedua orang calon presiden bergelar purnawirawan TNI, mengingat kesan militerismenya sangat kental. Usai undian nomor urut pasangan calon presiden dan calon wakil presiden di KPU (12/5), para calon presiden dan calon wakil presiden diminta memferivikasi nama mereka. Ejaan, gelar, dan pangkat mereka pun diperikasa. Mereka yang pengsiunan tentara atau purnawirawan Wiranto dan Susilo Bambang Yudoyono begitu juga dengan calon wakil presiden Agum Gumelar, meminta gelar purnawirawannya tidak dicantumkan. Dengan kata lain mereka sengaja melakukan hal itu guna meminimalkan kesan militerisme.
    Bagaimana dengan Gus Dur? Seorang Gus Dur tentunya mewakili calon presiden dari sipil. Bila Gus Dur berpihak pada rakyat sipil tentunya akan meredam kekhawatiran bangkitnya kembali kekuasaan yang berbau militeristik. Namun semua itu jadi kebalikannya. Citra yang dibangun oleh Gus Dur tidak berpihak pada citra sipil.
    Fenomena Ngotot-nya Gus Dur di bursa calon pemilihan presiden berakhir dengan gugatan tersebut. Ini memperkuat indikasi bahwa citra Gus Dur tidak lagi berpihak kepada masyarakat sipil. Perlawanan simbolik Gus Dur untuk pembelajaran demokrasi kepada rakyat tidak dapat diterima. Berarti bias citra yang ada, mengarah pada perusakan citra prilaku sipil. Otomatis ketika Gus Dur tergabung dalam aliansi menolak hasil pemilu adalah bentuk pembusukan citra sipil, karena citra sipil tampak sewenang-wenang terhadap peraturan yang berlaku. Begitu juga hal itu memberikan kesan yang tidak memikirkan kondisi bangsa yang masih berada pada posisi keterpurukan. Dengan demikian, Gus Dur telah membantu kedua purnawirawan itu untuk berkuasa. Atau dengan kata lain, Gus Dur telah memberikan ruang bagi bangkitnya militerisme. Hal tersebut terlepas dari pembelajaran demokrasi, karena alasan klasik seperti itu tak akan pernah hilang ketika seorang politisi kepepet kehilangan langkah strategis. Indikasi Gus Dur dalam mendukung kebangkitan militerisme semakin kuat. Buktinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau partainya Gus Dur memberi dukungan terhadap pasangan Wiranto yang dinyatakan dalam rapat pleno Dewan pengurus pusat PKB di Jakarta, baru-baru ini.

    BIODATA SINGKAT

    BIODATA PEMILIK BLOG

    1. DATA DIRI
    Nama Lengkap : Ari Ariyandi Gunawan
    Jenis Kelamin : Laki-laki
    Tempat/ Tanggal Lahir : Sukabumi, 21 Mei 1982
    Kebangsaan : Indonesia



    • 2. ALAMAT
      Kp. Sekarwangi RT 05/ RW 18/ Kel. Cibadak – Kabupaten Sukabumi
      Telfon: 0266-533100 /email: ariyandigunawan@yahoo.com / weblog: http//.ariyandi.blogspot.com

      3. PENDIDIKAN FORMAL
      ð Tahun 1988 - 1994 SDN IX Cibadak – Kab. Sukabumi.
      ð Tahun 1994 - 1997 SLTPN 2 Cibadak – Kab. Sukabumi.
      ð Tahun 1997 - 2000 SMUN 1 Cisaat – Kab. Sukabumi.
      ð Tahun 2001 – 2006 Program S1 Jurusan Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan - Bandung

      4. PRAKTEK KERJA
      ð 2005, Bandung, Reporter Desk Hukum dan Kriminal Harian Umum Galamedia
      ð 2005, Jakarta, Reporter Desk Metropolitan Harian Umum Kompas

      5. PENELITIAN
      ð Pemberitaan Rubrik Metropolitan pada Harian Umum Kompas.
      ð Skripsi: Politisasi Bahasa dalam Berita Kasus Kematian Munir. Suatu analisis framing pada Harian Umum, Kompas, Tempo, Media Indonesia,Republika, dan Pikiran Rakyat.

      6. SEMINAR, PELATIHAN, DAN DISKUSI
      A. Sebagai Peserta

      ð Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa.
      Sebagai peserta Latihan Dasar Kepemimpinan mahasiswa (LDKM), penyelenggara Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas). Tempat pelaksanaan di Aula Suradiredja FISIP Unpas – Bandung, 2002).
      ð Pelatihan Investigative Reporting.
      Sebagai peserta Pelatihan Investigative Reporting, diselenggarakan oleh PWI Jabar, AJI Kota Bandung, SPS Jawa Barat, PRSSNI Jabar dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Bandung. Tempat pelaksanaan di Hotel Panghegar Bandung, 2003. Saat itu saya mengikuti pelatihan tersebut karena di delegasi oleh Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unpas.
      ð Musyawarah Kerja Nasional Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia.
      Mengikuti Musyawarah kerja Nasional sebagai peserta yang merupakan delegasi dari Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) FISIP Unpas. Acara itu diselenggarakan oleh Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan tempat pelaksanaannya di UIN Wali Songo – Semarang, 2004.
      ð Kongres Nasional Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia.
      Mengikuti Kongres Nasional PPMI ke VIII sebagai peserta dari delegasi PPMI Dewan Kota Bandung. Kongres Nasional itu di selenggaran di Universitas Hasanudin – Makasar, 2006
      ð Seminar Nasional Hak Asasi Manusia.
      Mengikuti Seminar Nasional persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) yang merupakan rangkaian kegiatan Kongres Nasional PPMI. Tempat terselenggaranya seminar Nasional tersebut di Politeknik Ujung Pandang – Makasar, 2006.
      B. Sebagai Panitia
      ð Pendidikan dan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar.
      Sebagai panitia Pendidikan dan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar, diselenggarakan oleh Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) FISIP Universitas Pasundan. Tempat pelaksanaan acara tersebut di Aula Suradiredja Kampus FISIP Unpas – Bandung, 2003.
      ð Workshop Pengelolaan Media Se-Jawa Barat dan Banten.
      Sebagai panitia penyelenggara Workshop Pengelolaan Media Se-Jawa Barat dan Banten yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Bandung. Tempat pelaksanaan acara itu di Gedung Serba Guna STIE YPKP – Bandung, 2006.
      ð Pekan Edukatif Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unpas.
      Sebagai ketua pelaksana Pekan Edukatif Mahasiswa yang diselanggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) FISIP Unpas. Acara tersebut berupa Bazar buku murah, pameran fotografi, dan kuliah umum. Tempat acara tersebut di Aula Suradiredja FISIP Unpas dan pelataran parkir kampus Unpas di Jl. Lengkong Besar No.68 Bandung, 2003.
      ð Masa Orientasi Bimbingan Mahasiswa (MABIM) Ilmu Komunikasi FISIP Unpas
      MABIM Ilmu Komunikasi untuk angkatan 2002 saya menjabat sebagai anggota Komisi Disiplin dan Mabim angkatan 2003 saya menjabat sebagai Koordinator Pembina Kelompok

      D. Menjadi Pemateri dan Moderator Diskusi dan Pelatihan
      ð Training Revolusi Kesadaran.
      Dalam acara itu saya menjadi pembicara Kajian Filsapat Postmodernisme. Acara Training itu diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bandung dan tempat pelaksanaannya di Gedung HMI Cabang Bandung, 2005.
      ð Pelatihan Pers dan Jurnalistik Mahasiswa III.
      Dalam acara itu saya menjadi pemateri penulisan artikel dan opini. Acara itu diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) “Refleksi” Universitas Islam Nusantara – Bandung, 2006.
      ð Training Anggota Baru Pers Mahasiswa Suaka.
      Dalam acara itu, saya menjadi pembicara tentang sejarah Pergerakan Pers Mahasiswa Indonesia. Acara itu diselanggarakan oleh LPM “Suaka” Universitas Islam Negri Sunan Gunung Dajati – Bandung, bertempat di gedung serba guna LPM Suaka, 2004.
      ð Training Anggota Baru Pers Mahasiswa Eksis.
      Dalam acara itu, saya menjadi pemateri penulisan berita. Acara itu diselenggarakan oleh LPM Eksis STIE YPKP-Bandung.
      ð Training Anggota Baru Badan Penerbitan Pers Mahasiswa FISIP Unpas.
      Dalam acara itu, saya menjadi pemateri kajian logika. Acara diselenggarakan di sekretariat BPPM FISIP Unpas- Bandung.
      ð Diskusi Mingguan PPMI Dewan Kota Bandung.
      Dalam acara itu saya menjadi pembicara kajian jurnalisme advokasi mahasiswa. Diselenggarakan oleh PPMI Dewan Kota Bandung, 2005.
      ð Mentoring tentang Advokasi dan Propaganda Badan Perwakilan Mahasiswa.
      Dalam acara tersebut saya menjadi pemateri advokasi dan propaganda. Acara itu diselenggrakan oleh Badan Perwakilan Mahasiswa FISIP Unpas – Bandung. Tempat terselenggaranya kegiatan tersebut di Majalaya, 2005.
      ð Diskusi tentang Perkembangan Kasus Kematian Munir.
      Dalam acara itu saya menjadi moderator yang mendampingi pembicara Usmand Hamid (Koordinator Kontras) dan Suciwati (Istri almarhum Munir). Acara itu diselenggarakan oleh Komunitas Toko Buku Ultimus-Bandung, 2005. Tempat kegiatan tersebut di lapangan Parkir Toko Buku Ultimus.
      ð Workshop Pengelolaan Media Se-Jawa Barat dan Banten.
      Dalam Acara itu saya menjadi moderator yang mendampingi pembicara Triyuli Sukaryana (Pimred Media Indonesia Biro Bandung). Acara diseleggarakan oleh PPMI Dewan Kota Bandung, 2006.

      7. PENGALAMAN ORGANISASI
      ð Ketua Bidang Akademis dan Advokasi Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan (FISIP Unpas) pada tahun 2002.
      ð Staf komunikasi dan informasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pendampingan anak jalanan “Semut Children Learning Society” pada tahun 2003.
      ð Ketua angkatan “Independent” anggota Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) FISIP Unpas pada tahun 2003.
      ð Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) BPPM FISIP Unpas pada tahun 2004.
      ð Pimpinan Redaksi Majalah Pasoendan pada tahun 2004.
      ð Koordinator Divisi Eksternal Lingkar Aksi Mahasiswa (LAM) FISIP Unpas pada tahun 2005.
      ð Ketua Umum Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Bandung pada tahun 2005.
      ð Anggota sayap Komunitas Toko Buku Ultimus pada tahun 2006.
      ð Anggota Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) FISIP Unpas pada tahun 2006.

  • Kembali kesemula